Wartatrans.com, JAKARTA – PT Logisticsplus International Tbk (LOPI) memperluas bisnis dari jasa logistik dan freight forwarding ke sektor perkeretaapian.
Langkah itu dilakukan melalui kerja sama dengan CRRC Qiqihar Rolling Stock Co., Ltd., perusahaan asal China yang bergerak di bidang sarana perkeretaapian.

Kerja sama tersebut dituangkan dalam Cooperation Agreement pada 10 Agustus 2026. Kedua perusahaan menjajaki pengembangan, manufaktur, integrasi, dan penyediaan sarana perkeretaapian untuk pasar Indonesia, termasuk kebutuhan PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan calon pelanggan lainnya.
Mengapa LOPI memilih CRRC Qiqihar? Salah satu alasannya adalah pembagian kemampuan kedua perusahaan: CRRC Qiqihar membawa kapasitas desain dan manufaktur rolling stock, sedangkan LOPI memiliki pengalaman dalam logistik, pengiriman, rantai pasok, dan jaringan mitra di Indonesia.
Direktur Utama LOPI Wahyu Dwi Jatmiko mengatakan, kerja sama tersebut dapat memperluas posisi perseroan dalam proyek perkeretaapian.
“Dengan pembagian peran tersebut, LOPI tidak hanya berpotensi menjadi penyedia jasa pengangkutan, tetapi dapat mengambil bagian lebih luas dalam rantai pasok proyek perkeretaapian yang dikembangkan bersama CRRC Qiqihar,” kata Wahyu dalam keterbukaan informasi perseroan, Kamis (13/8/2026).
Kemitraan ini bukan hubungan baru. LOPI dan CRRC Qiqihar telah bekerjasama sejak 2023, antara lain dalam penjajakan pengembangan sarana angkutan barang dan peningkatan kapasitas angkutan batu bara di Sumatra Selatan hingga 20–36 juta ton per tahun.
Pilihan tersebut sejalan dengan peluang pengembangan angkutan barang melalui kereta.
Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Haris Muhammadun menyebut, penguatan kereta dapat membuka konektivitas logistik yang lebih luas antara Jawa dan Sumatera.
“Harapan saya kan logistik, distribusi logistik Jawa-Sumatera, ketika kereta api ini bisa diandalkan,” kata Haris dalam forum pada Selasa (4/8/2026).
Haris juga melihat peluang integrasi kereta dengan moda laut seperti di China. “Bayangannya adalah feri yang mengangkut kereta api. Di Guangdong, di China ada, jadi kapal itu ada 1-5 jalur kereta api,” ujarnya.
Angka itu menunjukkan ruang pertumbuhan yang masih besar. CRRC dapat mengisi kebutuhan sarana dan manufaktur, sementara LOPI berpotensi mengambil peran pada logistik, rantai pasok, dan pengelolaan proyek di dalam negeri.
Namun, kerja sama tersebut belum otomatis menjadi pendapatan baru bagi LOPI.
Nilai kontrak, proyek yang terealisasi, tingkat kandungan lokal, serta keterlibatan pemasok dan tenaga kerja Indonesia akan menentukan dampak ekonominya.
Pada akhirnya, bidikan LOPI terhadap angkutan barang kereta bukan sekadar memperluas lini bisnis.
Jika terealisasi, kemitraan dengan CRRC, dapat menjadi pintu masuk LOPI ke ekosistem perkeretaapian, sekaligus memperkuat peran kereta dalam rantai logistik Indonesia. (Artha Tidar)






























