Menu

Mode Gelap
Antusiasme Mudik Lebaran 2026 Meningkat, Penjualan Tiket Kereta Api Reguler Capai 435.708 Tiket Jelang Imlek 2026, KAI Daop 6 Yogyakarta Hadirkan Dekorasi Tematik di Sejumlah Stasiun Asar Humanity Luncurkan Program Totalitas Ramadhan dan Panen Raya Ikan di Pesantren Summarecon Mall Bekasi 2 Resmi Dibuka, Hadirkan Konsep Lifestyle dan Wellness Terintegrasi Mantan Ketua KIP Aceh Tengah Tantang DPRK Serahkan Gaji dan Pokir untuk Korban Bencana Perkuat Pemahaman Industri Logistik Kendaraan, Bahana Sekuritas dan Komunitas Saham Sambangi IPCC

RAGAM

Mantan Ketua KIP Aceh Tengah Tantang DPRK Serahkan Gaji dan Pokir untuk Korban Bencana

badge-check


 Mantan Ketua KIP Aceh Tengah Tantang DPRK Serahkan Gaji dan Pokir untuk Korban Bencana Perbesar

Wartatrans.com, ACEH TENGAH — Kepedulian Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tengah terhadap masyarakat terdampak banjir dan longsor 27 November 2025 kembali dipertanyakan. Hingga kini, penanganan pascabencana dinilai belum maksimal dan belum menyentuh kebutuhan mendasar warga.

Aktivis yang juga mantan Ketua KIP Aceh Tengah serta warga Kecamatan Linge, Serta Lia Gali melontarkan tantangan terbuka kepada Ketua dan seluruh Anggota DPRK Aceh Tengah. Ia menantang wakil rakyat yang benar-benar berpihak kepada korban bencana untuk menyerahkan gaji serta dana pokok pikiran (Pokir) mereka demi penanganan pascabencana.

Sebagai bentuk apresiasi simbolik, Serta Lia Gali bahkan menyiapkan Durian Jamat dari Desa Kute Reje, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, sebagai “pelakat penghargaan” dari rakyat.

“Jika ada Ketua atau Anggota DPRK yang berani menyerahkan gaji dan Pokir mereka untuk penanganan bencana, akan langsung kami antar ke Kantor DPRK sebagai pelakat penghargaan dari rakyat yang telah kehilangan rumah dan kampung mereka,” tegas Sera Lia Gali.

Ia menjelaskan, dampak banjir dan longsor 27 November 2025 hampir dirasakan di seluruh daerah pemilihan (dapil) di Aceh Tengah. Banyak warga kesulitan membawa hasil panen dari wilayah perkebunan ke pemukiman akibat rusaknya akses jalan.

Salah satu wilayah yang terdampak parah adalah Kemukiman Wih Dusun Jamat. Hasil bumi seperti durian dan kopi tidak dapat dipasarkan karena wilayah tersebut masih terisolasi.

Saat dikonfirmasi WARTATRANS.com melalui WhatsApp, Sera Lia Gali menyayangkan kondisi masyarakat di sejumlah kampung di Kecamatan Linge yang hingga kini belum mendapatkan penanganan memadai.

“Memang mereka tidak mati karena banjir dan longsor, tetapi rumah dan harta benda mereka hilang. Yang lebih menyakitkan, pascabencana mereka kehilangan harapan untuk memulihkan kehidupan,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat sangat berharap kehadiran pemerintah secara nyata, terutama dalam membuka akses jalan agar roda perekonomian kembali bergerak.

“Minimal akses jalan dibuka, supaya hasil bumi yang masih selamat bisa ditukar dengan kebutuhan harian,” katanya.

Ia juga menyoroti kondisi psikologis warga, khususnya anak-anak dan orang tua di Desa Jamat dan Kute Reje, yang mengalami trauma berat akibat bencana alam.

“Jangan sampai trauma itu bertambah, bukan hanya kepada alam, tetapi juga kepada pemerintah yang tidak hadir untuk mereka,” pungkas Serta Lia Gali dengan nada prihatin.*** (Kamaruzzaman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Asar Humanity Luncurkan Program Totalitas Ramadhan dan Panen Raya Ikan di Pesantren

4 Februari 2026 - 17:45 WIB

Perkuat Pemahaman Industri Logistik Kendaraan, Bahana Sekuritas dan Komunitas Saham Sambangi IPCC

4 Februari 2026 - 16:49 WIB

Asah Kesiapsiagaan Tanggap Darurat, Terminal Teluk Lamong Gelar Lomba Emergency Response 2026

4 Februari 2026 - 16:37 WIB

Di Bulan K3 Nasional 2026, IPC TPK Dorong Budaya Sadar Keselamatan di Warakas

4 Februari 2026 - 15:35 WIB

Inkindo Sulteng Siap Gelar Musprov XI, Usung Tema “Berani Berkarya untuk Sulteng Nambaso”

4 Februari 2026 - 15:33 WIB

Trending di RAGAM