Wartatrans.com, JAKARTA – Konektivitas transportasi publik Jakarta saat ini telah mencapai lebih dari 90 persen berdasarkan data Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Kondisi tersebut menjadi konteks bagi pengembangan kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD), termasuk upaya PT MRT Jakarta menarik investor asing.
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Sosial Chico Hakim mengatakan konektivitas yang semakin luas membuat masyarakat lebih mudah menjangkau berbagai moda transportasi publik.
“Artinya, ketika kita keluar rumah dan berjalan tidak sampai 500 meter sudah bisa menemukan minimal JakLingko, Mini Trans, Transjakarta, bahkan LRT,” ujar Chico, Senin (28/9/2026).
Upaya menarik modal asing dilakukan MRT melalui TOD Investment Forum 2026 di Singapura, yang mempertemukan investor, pengembang, lembaga keuangan, pemerintah, dan mitra strategis.
Forum yang digelar di Kantor Kedutaan Besar Indonesia di Singapura itu merupakan kolaborasi MRT Jakarta dengan KBRI Singapura, Surbana Jurong Group, dan Indonesia Investment Promotion Centre (IIPC) Singapore.
Kepala Divisi Property Management MRT Jakarta Muchamad Iqbal Bimo Arifianto mengatakan investor asing ditargetkan tidak hanya membawa pendanaan, tetapi juga pengetahuan pengembangan kawasan.
“Kami menargetkan investor ini tidak hanya memberikan bantuan dari pendanaan, tapi lebih kepada ‘transfer knowledge’ yang dibangun di negara mereka dan akan diterapkan nantinya di Jakarta,” kata Bimo, Jumat (25/9/2026).
Dalam forum tersebut, MRT memaparkan sejumlah proyek TOD, antara lain Ultimate Development Blok M, Blok M Interchange, XGL Mixed-Use, Kali Besar Heritage, serta Lebak Bulus Interchange Bus Terminal, Park and Ride, and Mixed Use.
Hingga Jumat (25/9), belum ada investor asing yang mencapai kesepakatan investasi.
Pengembangan TOD juga berkaitan dengan upaya memperbesar pendapatan non-farebox MRT. Sehari sebelumnya, Bimo menyebut kontribusi pendapatan non-farebox sekitar 30 persen, dengan ambisi meningkatkan porsi tersebut melalui pengembangan aset dan kawasan.
Pengamat Kebijakan Publik sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia Agus Pambagio menilai ruang pertumbuhan pendapatan non-farebox MRT bergantung pada kemampuan mengembangkan TOD.
“Kalau dia mau tambah ya punya TOD, karena dari situ dia punya aset, asetnya disewain yang bakal narik penumpang,” ujar Agus.
Salah satu proyek yang menggambarkan potensi tersebut berada di Lebak Bulus.
Data Jakarta Investment Centre mencatat proyek Park & Ride and Mixed-Use memiliki nilai investasi Rp487,70 miliar, luas lahan 13.333 meter persegi, IRR 14,10 persen, dan periode pengembalian 10 tahun.
Tingkat okupansi parkir yang ada mencapai 83 persen untuk mobil dan 69 persen untuk sepeda motor.
Dari sisi pasar properti, riset Colliers Indonesia menunjukkan gedung kantor yang memiliki akses MRT dan LRT mencatat tingkat okupansi 8-9 persen lebih tinggi dibandingkan gedung yang tidak memiliki konektivitas tersebut.
Riset yang ditulis Senior Director Colliers Indonesia Bagus Adikusumo itu menempatkan aksesibilitas sebagai faktor yang semakin memengaruhi permintaan ruang kantor dan nilai real estat.
Dengan demikian, peluang investor asing bukan semata soal pembiayaan proyek.
Nilai ekonominya akan ditentukan oleh kemampuan MRT mengembangkan aset di sekitar simpul transportasi menjadi kawasan yang menarik bagi penghuni, pelaku usaha, dan investor, sekaligus memperkuat penggunaan transportasi publik. (Artha Tidar)




























