Menu

Mode Gelap
Pedang, Amanah, dan Marwah Linge Gubernur Jateng Mengingatkan DCF 2026 Agar Menjaga Identitas Daerah Aset Master Lagu Diduga Dialihkan Tanpa Izin, Valdy Nyong Somasi Label Ide Timur  Manusia Di Antara Dua Setan  Kemenhub Gelar Rakorwil, Perkuat Aksesibilitas Penerbangan di Papua Kemenhub Kembali Salurkan Bantuan, 7,9 Ton untuk Korban Gempa NTT

RAGAM

Musala Muyang Mersah Asal Terbengkalai, Jejak Panjang Konflik dan Ketimpangan Layanan Publik

badge-check


 Musala Muyang Mersah Asal Terbengkalai, Jejak Panjang Konflik dan Ketimpangan Layanan Publik Perbesar

Wartatrans.com, BENER MERIAH — Kondisi Musala Muyang Mersah Asal di Kampung Buntul Sara Ine, Kilometer 42 Jalan KKA, wilayah perbatasan Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Utara, kian memprihatinkan. Bangunan rumah ibadah yang berdiri sejak akhir 1980-an itu kini tak lagi layak digunakan.

Musala tersebut pernah berfungsi sebagai masjid dan rutin menggelar salat Jumat bagi warga sekitar. Namun, sejak konflik bersenjata di Aceh melanda kawasan ini, bangunan itu menjadi satu-satunya peninggalan Kampung Buntul Sara Ine yang tersisa.

Pimpinan Pesantren Pegayon Kampung Asal Buntul Sara Ine, Azzam Pegayon, mengatakan kampung itu habis dibakar pada masa konflik karena kerap menjadi tempat singgah anggota Gerakan Aceh Merdeka. Seluruh warga terpaksa mengungsi dan meninggalkan permukiman serta kebun mereka selama puluhan tahun.

“Musala ini satu-satunya bangunan yang masih berdiri setelah konflik,” kata Azzam kepada WARTATRANS.com, Jumat, 30 Januari 2026.

Menurut Azzam, Musala Muyang Mersah Asal berdiri di atas tanah wakaf milik penduduk asli kampung tersebut. Wakaf dilakukan sebelum konflik dan hingga kini statusnya masih sah, meskipun para pewakaf dan masyarakatnya telah lama meninggalkan wilayah itu.

Secara geografis, lokasi musala berada di wilayah tapal batas Aceh Utara dan Bener Meriah. Namun hingga kini, batas administrasi kedua daerah tersebut belum ditetapkan secara jelas. Ketidakpastian itu membuat musala dan lingkungan sekitarnya seolah tak berada di bawah kewenangan pemerintahan mana pun.

“Sejak konflik berakhir, bahkan setelah bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim, wilayah ini nyaris tak pernah mendapat perhatian,” ujar Azzam.

Saat ini, musala tersebut tidak memiliki aliran listrik dan belum pernah tersentuh bantuan pemerintah, baik dari tingkat kabupaten maupun provinsi. Bangunan itu pun kian lapuk dimakan usia.

Kondisi Musala Muyang Mersah Asal menjadi gambaran dampak panjang konflik bersenjata, ketidakjelasan batas wilayah, serta ketimpangan pelayanan publik yang masih dirasakan masyarakat di kawasan perbatasan Aceh hingga hari ini.*** (Kamaruzzaman)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Pedang, Amanah, dan Marwah Linge

30 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Manusia Di Antara Dua Setan 

30 Agustus 2026 - 08:25 WIB

BNN Kabupaten Gianyar Meriahkan Peringatan Hari Pramuka ke-65 melalui Pameran UMKM, Expo dan Panggung Kreatif, 50 Anggota Pramuka di Tes Urin

29 Agustus 2026 - 18:20 WIB

Agnez Mo Inspirasi Perdana di Indonesia Berkarya Besutan InJourney Airports

29 Agustus 2026 - 16:33 WIB

Sumber Air Baku IPA Kudu Menurun, Pelanggan PDAM di Semarang Diminta Siaga

29 Agustus 2026 - 15:12 WIB

Dua Dekade Menghidupkan Kembali Suara Radio Rimba Raya

29 Agustus 2026 - 11:51 WIB

Radio Rimba Raya Resmi Ditetapkan Sebagai Situs Cagar Budaya

28 Agustus 2026 - 21:24 WIB

Kunjungi Green Port Terminal Teluk Lamong, Kemenhub Apresiasi Komitmen TTL Wujudkan Net Zero Emission 2060

28 Agustus 2026 - 21:04 WIB

Dinsos Tolak Ajuan Keringanan Pasien Miskin Non BPJS di RS dr. Slamet Garut 

28 Agustus 2026 - 18:36 WIB

Ketua DEN Minta Perbaikan Program MBG Lewat Digitalisasi

28 Agustus 2026 - 14:26 WIB

Trending di RAGAM