Menu

Mode Gelap
Aptrindo Sebut Belum Ada Panduan yang Jelas, Minta Tunda Zero ODOL 2027 Peringati Harkitnas, ASDP Teguhkan Peran sebagai Penghubung Konektivitas YIA jadi Embarkasi Haji Perdana, Layani Lebih dari 9.000 Jemaah Nobar “Pesta Babi” di Tebet, Aktivis Soroti PSN dan Kerusakan Lingkungan di Papua KA Joglosemarkerto Layani 458 Ribu Pelanggan pada Januari–April 2026 KAI Services Gelar Pelatihan Gada Utama untuk Tingkatkan Kompetensi Pengamanan

RAGAM

Nobar “Pesta Babi” di Tebet, Aktivis Soroti PSN dan Kerusakan Lingkungan di Papua

badge-check


 Nobar “Pesta Babi” di Tebet, Aktivis Soroti PSN dan Kerusakan Lingkungan di Papua Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Pemutaran film dokumenter Pesta Babi kembali digelar di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa malam, 19 Mei 2026. Kegiatan nonton bareng yang diinisiasi Partai Hijau Indonesia (PHI) itu dihadiri kalangan muda, aktivis lingkungan, dan pegiat solidaritas Papua.

Usai pemutaran film, peserta mengikuti diskusi yang menyoroti persoalan eksploitasi sumber daya alam serta proyek pembangunan di Papua. Film tersebut menggambarkan konflik antara masyarakat adat dan ekspansi proyek yang disebut berkaitan dengan Proyek Strategi Nasional (PSN).

Petinggi PHI, John Muhammad, menilai situasi yang terjadi di Papua menunjukkan praktik kekuasaan yang berpihak pada kepentingan elite dan industri ekstraktif. Ia menyebut proyek-proyek PSN di wilayah itu sebagai bentuk kolonialisme modern.

“Proses kolonial yang harus kita lawan,” kata John dalam diskusi tersebut.

Menurut dia, kerusakan lingkungan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kebijakan pemerintah sebagai pemegang otoritas pembangunan dan investasi. Ia menilai masyarakat sering kali berada dalam posisi yang tidak memiliki kuasa untuk menentukan arah kebijakan.

“Kita tidak kuasa mengubah, dan jangan letakkan kesalahan pada diri kita,” ujarnya.

Sementara itu, Samuel dari Papua Network Solidarity mengatakan kelompoknya terus melakukan kampanye dan konsolidasi guna memperluas informasi mengenai situasi di Papua kepada publik nasional.

“Apa yang ditampilkan dalam film adalah kenyataan yang terjadi di Papua,” katanya.

Dalam film Pesta Babi, diceritakan adanya pembukaan kawasan hutan dan ekspansi proyek berskala besar yang disebut mengancam wilayah hidup masyarakat adat. Kawasan hutan yang selama ini menjadi sumber pangan dan ruang hidup warga disebut mulai terdesak oleh proyek pembangunan.

Film tersebut juga menampilkan simbol perlawanan masyarakat adat berupa pemasangan ribuan “Salib Merah” di sejumlah titik kawasan hutan adat. Simbol itu disebut sebagai penanda penolakan terhadap perampasan ruang hidup serta penegasan bahwa Papua bukan tanah kosong.*** (Pane)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

“Ritmis Hayati”, Ruang Dialog Kehidupan dalam Bahasa Seni Rupa

20 Mei 2026 - 01:43 WIB

Green House Titik Hijau Resmi Diluncurkan, Terminal Teluk Lamong Terima Tanaman Langka dari Kebun Raya Purwodadi

19 Mei 2026 - 22:49 WIB

Konser “Mahabbah Allah Pakem 9” Serukan Tobat Nasional untuk Keselamatan Bangsa

19 Mei 2026 - 22:13 WIB

PNM Peduli Apresiasi Dedikasi Guru Honorer di Pedalaman Sikka

19 Mei 2026 - 22:07 WIB

Dukungan Armada DAMRI Warnai Kesuksesan Asian Volleyball Confederation Champions League 2026 di Pontianak

19 Mei 2026 - 20:30 WIB

IPC TPK Catat Pertumbuhan Positif pada Awal Triwulan Kedua Tahun 2026 

19 Mei 2026 - 17:15 WIB

Meneladani Cahaya Buya Hamka, HSBI Gelar Bincang Sastra Islam di UNJ

19 Mei 2026 - 16:47 WIB

Perkuat Sinergi, Manajemen dan Serikat Pekerja MTI Berkomitmen Tingkatkan Produktivitas dan Dukung Merger BUMN Logistik

19 Mei 2026 - 15:40 WIB

HSBI Susun Agenda Besar Juni–Desember 2026, Siapkan Hari Sastra hingga Road to School

19 Mei 2026 - 15:17 WIB

Catatan Halimah Munawir: Mutiara yang Ditemukan Sahabat

19 Mei 2026 - 10:33 WIB

Trending di RAGAM