Wartatrans.com, JAKARTA — Pemutaran film dokumenter Pesta Babi kembali digelar di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa malam, 19 Mei 2026. Kegiatan nonton bareng yang diinisiasi Partai Hijau Indonesia (PHI) itu dihadiri kalangan muda, aktivis lingkungan, dan pegiat solidaritas Papua.
Usai pemutaran film, peserta mengikuti diskusi yang menyoroti persoalan eksploitasi sumber daya alam serta proyek pembangunan di Papua. Film tersebut menggambarkan konflik antara masyarakat adat dan ekspansi proyek yang disebut berkaitan dengan Proyek Strategi Nasional (PSN).

Petinggi PHI, John Muhammad, menilai situasi yang terjadi di Papua menunjukkan praktik kekuasaan yang berpihak pada kepentingan elite dan industri ekstraktif. Ia menyebut proyek-proyek PSN di wilayah itu sebagai bentuk kolonialisme modern.
“Proses kolonial yang harus kita lawan,” kata John dalam diskusi tersebut.
Menurut dia, kerusakan lingkungan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kebijakan pemerintah sebagai pemegang otoritas pembangunan dan investasi. Ia menilai masyarakat sering kali berada dalam posisi yang tidak memiliki kuasa untuk menentukan arah kebijakan.
“Kita tidak kuasa mengubah, dan jangan letakkan kesalahan pada diri kita,” ujarnya.
Sementara itu, Samuel dari Papua Network Solidarity mengatakan kelompoknya terus melakukan kampanye dan konsolidasi guna memperluas informasi mengenai situasi di Papua kepada publik nasional.
“Apa yang ditampilkan dalam film adalah kenyataan yang terjadi di Papua,” katanya.
Dalam film Pesta Babi, diceritakan adanya pembukaan kawasan hutan dan ekspansi proyek berskala besar yang disebut mengancam wilayah hidup masyarakat adat. Kawasan hutan yang selama ini menjadi sumber pangan dan ruang hidup warga disebut mulai terdesak oleh proyek pembangunan.
Film tersebut juga menampilkan simbol perlawanan masyarakat adat berupa pemasangan ribuan “Salib Merah” di sejumlah titik kawasan hutan adat. Simbol itu disebut sebagai penanda penolakan terhadap perampasan ruang hidup serta penegasan bahwa Papua bukan tanah kosong.*** (Pane)

























