Menu ✖

Mode Gelap
Enam Wilayah KAI Tumbuh Dua Digit, Aktivitas Pelanggan Capai 89,95 Juta Kemenhub Dukung Pencarian 1 ABK Pascatenggelamnya MV Khatulistiwa 8 di Perairan Tuban Jembatan Putus dan Kabar Bendungan Alami, Warga Reje Payung Mengungsi ke Tiga Desa Kemendiktisaintek Apresiasi AirNav Libatkan Perguruan Tinggi Optimalkan Layanan Berbasis Teknologi AI, AirNav–Telkom University Perkuat Riset dan Pengembangan IPCM Perluas Pasar, Perkuat Kesiapan Operasional di Balikpapan dan Tarakan

RAGAM

Nobar “Pesta Babi” di Tebet, Aktivis Soroti PSN dan Kerusakan Lingkungan di Papua

badge-check


 Nobar “Pesta Babi” di Tebet, Aktivis Soroti PSN dan Kerusakan Lingkungan di Papua Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Pemutaran film dokumenter Pesta Babi kembali digelar di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa malam, 19 Mei 2026. Kegiatan nonton bareng yang diinisiasi Partai Hijau Indonesia (PHI) itu dihadiri kalangan muda, aktivis lingkungan, dan pegiat solidaritas Papua.

Usai pemutaran film, peserta mengikuti diskusi yang menyoroti persoalan eksploitasi sumber daya alam serta proyek pembangunan di Papua. Film tersebut menggambarkan konflik antara masyarakat adat dan ekspansi proyek yang disebut berkaitan dengan Proyek Strategi Nasional (PSN).

Petinggi PHI, John Muhammad, menilai situasi yang terjadi di Papua menunjukkan praktik kekuasaan yang berpihak pada kepentingan elite dan industri ekstraktif. Ia menyebut proyek-proyek PSN di wilayah itu sebagai bentuk kolonialisme modern.

“Proses kolonial yang harus kita lawan,” kata John dalam diskusi tersebut.

Menurut dia, kerusakan lingkungan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kebijakan pemerintah sebagai pemegang otoritas pembangunan dan investasi. Ia menilai masyarakat sering kali berada dalam posisi yang tidak memiliki kuasa untuk menentukan arah kebijakan.

“Kita tidak kuasa mengubah, dan jangan letakkan kesalahan pada diri kita,” ujarnya.

Sementara itu, Samuel dari Papua Network Solidarity mengatakan kelompoknya terus melakukan kampanye dan konsolidasi guna memperluas informasi mengenai situasi di Papua kepada publik nasional.

“Apa yang ditampilkan dalam film adalah kenyataan yang terjadi di Papua,” katanya.

Dalam film Pesta Babi, diceritakan adanya pembukaan kawasan hutan dan ekspansi proyek berskala besar yang disebut mengancam wilayah hidup masyarakat adat. Kawasan hutan yang selama ini menjadi sumber pangan dan ruang hidup warga disebut mulai terdesak oleh proyek pembangunan.

Film tersebut juga menampilkan simbol perlawanan masyarakat adat berupa pemasangan ribuan “Salib Merah” di sejumlah titik kawasan hutan adat. Simbol itu disebut sebagai penanda penolakan terhadap perampasan ruang hidup serta penegasan bahwa Papua bukan tanah kosong.*** (Pane)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Jembatan Putus dan Kabar Bendungan Alami, Warga Reje Payung Mengungsi ke Tiga Desa

8 Oktober 2026 - 21:42 WIB

IPCM Perluas Pasar, Perkuat Kesiapan Operasional di Balikpapan dan Tarakan

8 Oktober 2026 - 20:31 WIB

Hamdi Afkar Hadirkan Keindahan Alam Aceh dalam Kanvas di Pameran Internasional USK

8 Oktober 2026 - 18:18 WIB

Krishna Sakti Buktikan Talenta Anak Indonesia, Rilis Dua Single dengan Dua Wajah Berbeda

8 Oktober 2026 - 17:01 WIB

Politikus PSI Dian Sandi: Putusan MK Bukti Negara Tidak Dikelola Amatiran

8 Oktober 2026 - 15:36 WIB

HUT ke-79 Korpasgat, Donor Darah Serentak Digelar di Lhokseumawe

8 Oktober 2026 - 15:31 WIB

Tanzil Murda Hadirkan Ingatan Budaya Aceh Lewat Rampagoe: Peeling Time

8 Oktober 2026 - 12:09 WIB

H. Fikri Hudi Oktiarwan Dorong Pengelolaan Sampah Jawa Barat Tuntas dari Hulu Hingga Hilir

8 Oktober 2026 - 10:59 WIB

WASPADA ! Udara di Kaimana, Teluk Bintuni, dan Teluk Wondama Masuk Kategori BERBAHAYA pada 9 Oktober 2026

8 Oktober 2026 - 10:46 WIB

Di Tengah Kekeringan Hampir Empat Bulan, PUPR2KP  Alirkan Air Bersih ke Kampung Lusiferi

8 Oktober 2026 - 10:41 WIB

Trending di RAGAM