Menu

Mode Gelap
Akhyar Kamil Kecam Pembatasan Kehadiran Warga Aceh pada Mubes PP TIM Haji Fikri Sampaikan Ucapan HUT ke-81 Jawa Barat Semoga Semakin Maju dan Masyarakat Semakin Sejahtera OJK: Perusahaan Modal Ventura Berizin Berada dalam Pengawasan Ayo Serbu 390 Ribu Kursi Promo di Garuda Indonesia Travel Festival KAI Kembangkan TOD Manggarai Seluas 129 Hektare, Integrasikan KRL hingga TransJakarta Tak Bisa Berangkat Sesuai Jadwal? KAI Daop 1 Jakarta Sediakan Layanan Batal dan Reschedule Tiket

RAGAM

Nobar “Pesta Babi” di Tebet, Aktivis Soroti PSN dan Kerusakan Lingkungan di Papua

badge-check


 Nobar “Pesta Babi” di Tebet, Aktivis Soroti PSN dan Kerusakan Lingkungan di Papua Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Pemutaran film dokumenter Pesta Babi kembali digelar di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa malam, 19 Mei 2026. Kegiatan nonton bareng yang diinisiasi Partai Hijau Indonesia (PHI) itu dihadiri kalangan muda, aktivis lingkungan, dan pegiat solidaritas Papua.

Usai pemutaran film, peserta mengikuti diskusi yang menyoroti persoalan eksploitasi sumber daya alam serta proyek pembangunan di Papua. Film tersebut menggambarkan konflik antara masyarakat adat dan ekspansi proyek yang disebut berkaitan dengan Proyek Strategi Nasional (PSN).

Petinggi PHI, John Muhammad, menilai situasi yang terjadi di Papua menunjukkan praktik kekuasaan yang berpihak pada kepentingan elite dan industri ekstraktif. Ia menyebut proyek-proyek PSN di wilayah itu sebagai bentuk kolonialisme modern.

“Proses kolonial yang harus kita lawan,” kata John dalam diskusi tersebut.

Menurut dia, kerusakan lingkungan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kebijakan pemerintah sebagai pemegang otoritas pembangunan dan investasi. Ia menilai masyarakat sering kali berada dalam posisi yang tidak memiliki kuasa untuk menentukan arah kebijakan.

“Kita tidak kuasa mengubah, dan jangan letakkan kesalahan pada diri kita,” ujarnya.

Sementara itu, Samuel dari Papua Network Solidarity mengatakan kelompoknya terus melakukan kampanye dan konsolidasi guna memperluas informasi mengenai situasi di Papua kepada publik nasional.

“Apa yang ditampilkan dalam film adalah kenyataan yang terjadi di Papua,” katanya.

Dalam film Pesta Babi, diceritakan adanya pembukaan kawasan hutan dan ekspansi proyek berskala besar yang disebut mengancam wilayah hidup masyarakat adat. Kawasan hutan yang selama ini menjadi sumber pangan dan ruang hidup warga disebut mulai terdesak oleh proyek pembangunan.

Film tersebut juga menampilkan simbol perlawanan masyarakat adat berupa pemasangan ribuan “Salib Merah” di sejumlah titik kawasan hutan adat. Simbol itu disebut sebagai penanda penolakan terhadap perampasan ruang hidup serta penegasan bahwa Papua bukan tanah kosong.*** (Pane)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Akhyar Kamil Kecam Pembatasan Kehadiran Warga Aceh pada Mubes PP TIM

20 Agustus 2026 - 00:18 WIB

Haji Fikri Sampaikan Ucapan HUT ke-81 Jawa Barat Semoga Semakin Maju dan Masyarakat Semakin Sejahtera

19 Agustus 2026 - 22:35 WIB

Percepat Respons Darurat Gempa NTT, IDSurvey Group Salurkan 2,4 Ton Bantuan melalui BNPB

19 Agustus 2026 - 18:55 WIB

Pelindo Raih Apresiasi atas Dukungan Mudik Gratis Sulsel 2026

19 Agustus 2026 - 17:19 WIB

PFN Targetkan Bioskop Sinewara Beroperasi 2027

19 Agustus 2026 - 14:07 WIB

Perayaan Hari Didong Didorong Miliki Landasan Perda

19 Agustus 2026 - 13:17 WIB

Meriahkan HUT Ke-81 RI, Terminal Teluk Lamong Gelar Beragam Lomba dan Pesta Rakyat

18 Agustus 2026 - 21:53 WIB

IPCC Perkuat Keselamatan Kerja TKBM melalui Pelatihan Basic K3

18 Agustus 2026 - 21:44 WIB

Pesan Rakyat Aceh Kepada Juha Christensen

18 Agustus 2026 - 19:40 WIB

Kids Fest 2026 Hadir di Takengon, Ajak Keluarga Isi Liburan dengan Lomba dan Edukasi Anak

18 Agustus 2026 - 19:33 WIB

Trending di RAGAM