Wartatras.com, JAKARTA — Di tengah dunia yang semakin sibuk dan serba cepat, persahabatan kadang hadir sebagai ruang kecil tempat manusia bisa kembali menjadi dirinya sendiri. Ia hidup dari percakapan panjang tanpa arah, perjalanan-perjalanan spontan, hingga kenangan remeh yang justru paling sulit dilupakan.
Begitulah kenangan tentang seorang sahabat bernama Mrs. Amrik Lita.

Penang dan Surabaya menjadi dua kota yang menyimpan jejak cerita itu. Dalam beberapa perjalanan, kami pernah berbagi kamar, berbagi waktu, dan berbagi cerita yang seolah tak pernah habis. Malam-malam berlalu dengan tawa yang pecah tanpa jeda. Dari hal-hal serius sampai kisah paling sederhana, semua mengalir begitu saja. Tidak ada jarak. Tidak ada kepura-puraan.
Budaya persahabatan semacam itu sesungguhnya semakin jarang ditemukan di tengah masyarakat urban hari ini. Banyak orang bertemu setiap hari, tetapi sedikit yang benar-benar saling mendengarkan. Banyak yang tampak akrab di ruang publik, tetapi tidak semua mampu hadir ketika sahabatnya panik atau kehilangan sesuatu yang berharga.

Saya mengingat satu peristiwa kecil dalam sebuah pesta pernikahan sahabat. Kala itu mutiara cincin saya terlepas dan jatuh entah di mana. Suasana pesta begitu ramai. Musik mengalun, para tamu hilir mudik, dan lantai dipenuhi deretan sepatu mengilap. Rasanya hampir mustahil menemukan benda kecil itu di tengah keramaian.
Namun, justru di tengah situasi itu, Mrs. Amrik Lita dengan tenang ikut mencari. Ia menemukannya.
Saya mengira persoalan selesai. Ternyata tidak. Tak lama kemudian mutiara itu hilang lagi. Dan sekali lagi kami berdua menyisir karpet pesta, menunduk di antara kaki-kaki para tamu yang berlalu lalang. Sebuah adegan sederhana, bahkan mungkin lucu jika dilihat dari kejauhan.
Tetapi dari peristiwa kecil itu saya belajar, persahabatan tidak selalu diwujudkan dalam pidato besar atau janji muluk. Kadang ia hadir dalam kesediaan seseorang untuk ikut repot bersama kita. Ikut mencari sesuatu yang bagi orang lain mungkin tidak penting, tetapi berarti bagi sahabatnya.
Di situlah nilai budaya persahabatan bekerja: pada kesetiaan dalam hal-hal kecil.
Masyarakat Indonesia sejak lama mengenal tradisi kebersamaan yang hangat. Dalam budaya Melayu, Jawa, Aceh, hingga Bugis, persahabatan bukan sekadar hubungan sosial, melainkan ikatan batin yang dirawat melalui perhatian dan kehadiran. Orang-orang dulu mungkin tidak banyak mengucapkan “aku peduli”, tetapi menunjukkannya lewat tindakan sederhana: menemani, membantu, atau sekadar duduk mendengarkan cerita.
Kenangan tentang mutiara cincin itu mungkin tampak sepele. Namun justru dari hal-hal kecil seperti itulah manusia sering memahami arti hubungan yang tulus.
Kini, ketika perjalanan ke Penang atau Surabaya kembali dikenang, yang tersisa bukan hanya kota-kotanya, melainkan tawa panjang di dalam kamar, cerita yang tak putus, dan sosok sahabat yang dua kali menemukan mutiara yang hilang.
Barangkali, dalam hidup, setiap orang memang membutuhkan seorang sahabat seperti itu: seseorang yang tidak pergi ketika kita kehilangan sesuatu, melainkan ikut menunduk dan mencari bersama.***
Duren Sawit – 2026.

























