Wartatrans.com, JAKARTA – Penjualan mobil listrik berbasis baterai (BEV) mencapai 17.413 unit pada Agustus 2026, naik 24,63 persen dari 13.972 unit pada Juli.
Pada periode yang sama, penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) mengalami penurunan, memperlihatkan perubahan momentum di pasar mobil baru.
Sepanjang Januari-Agustus 2026, wholesales BEV mencapai 101.171 unit, naik 99,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut menunjukkan pasar BEV bergerak cepat, tetapi belum otomatis mengubah komposisi kendaraan yang sudah beroperasi di jalan.
International Energy Agency (IEA) mencatat mobil listrik menyumbang sekitar 15 persen dari penjualan mobil baru Indonesia pada 2025.
Pangsa tersebut masih di bawah Asia Tenggara yang mendekati 20 persen, Thailand hampir 25 persen, dan Vietnam hampir 40 persen.
Wakil Ketua Umum Periklindo Achmad Rofiqi, Rabu (30/9/2026), melihat perkembangan tersebut sebagai tanda bahwa pasar kendaraan listrik Indonesia bergerak ke arah yang tepat.
“Kita lihat bahwa pertumbuhan 141 persen ini merupakan suatu hal yang menunjukkan bahwa kita ini sudah di jalan yang benar,” kata Rofiqi dalam CNN Indonesia Evolution Forum di Jakarta.
Namun, laju penjualan perlu dibaca bersama ukuran populasi kendaraan yang sudah ada. Pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu, Ahad (27/9/2026) menyebut sekitar 167 juta kendaraan bermesin pembakaran internal masih beroperasi di Indonesia, sedangkan populasi kendaraan listrik hingga Agustus 2026 sekitar 542.000 unit.
Perbedaan skala tersebut menunjukkan bahwa ekspansi EV masih berlangsung dari basis populasi yang jauh lebih kecil.
Yannes menilai pembentukan pasar baru kendaraan listrik membutuhkan waktu yang tidak pendek.
“Jadi peluangnya bukan menggantikan volume oli mesin hari ini, tetapi membangun pasar baru berupa fluida khusus EV yang akan berkembang bersama pertumbuhan kendaraan listrik yang memerlukan waktu tidak pendek,” tuturnya.
Kenaikan permintaan juga membawa konsekuensi bagi industri otomotif domestik. Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara, Senin (28/9/2026), menyoroti target Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) kendaraan listrik sebesar 60 persen pada 2027.
“Nah, itu yang menjadi poin, ya. Kalau mau masuk itu kan, berdasarkan aturan yang ada, memang itu berat ya. Kalau tahun depan, ya Anda harus ikut yang [TKDN] 60%, gitu kan. Itu yang memang menjadi banyak pertanyaan,” jelas Kukuh.
Ketentuan tersebut membuat ekspansi pasar BEV tidak hanya berkaitan dengan jumlah kendaraan yang terjual.
Kemampuan produsen meningkatkan produksi lokal dan memenuhi kandungan dalam negeri menjadi bagian penting untuk melihat sejauh mana pasar yang membesar ikut memperkuat industri otomotif nasional.
Struktur pasokan juga menunjukkan kuatnya posisi produsen China. IEA mencatat sekitar 75 persen mobil listrik yang terjual di Indonesia pada 2025 berasal dari China, sehingga akselerasi EV sekaligus mengubah peta persaingan industri otomotif domestik.
Penjualan BEV yang meningkat menunjukkan akselerasi elektrifikasi pasar Indonesia. Namun, kedalaman transformasi baru akan terlihat ketika kenaikan tersebut memperbesar populasi kendaraan listrik sekaligus berjalan bersama penguatan produksi dan kandungan lokal. (Artha Tidar)

























