Wartatrans.com, JAKARTA – PT Super Bank Indonesia Tbk (Superbank) menyediakan fasilitas pembiayaan untuk pengadaan 200 kendaraan listrik yang akan digunakan sebagai armada GrabCar Plus Electric.
Pada tahap awal, fasilitas pembiayaan diberikan kepada Grab untuk mengelola kendaraan dan menyediakannya kepada mitra pengemudi melalui skema sewa.
Direktur Bisnis Superbank Sukiwan mengatakan, pembiayaan tersebut menjadi langkah awal kolaborasi yang dapat dikembangkan mengikuti kebutuhan mobilitas listrik.
“Pembiayaan 200 kendaraan listrik ini merupakan langkah awal yang kami harapkan dapat terus berkembang seiring dengan pertumbuhan kebutuhan mobilitas listrik di Indonesia,” katanya Kamis (1/10/2026).
Dari sisi operasional, perluasan akses kendaraan listrik juga menjadi bagian dari strategi Grab memperbesar penggunaan armada rendah emisi.
Director of Digital & Sustainability Grab Indonesia Rivana Mezaya menyampaikan, kolaborasi tersebut tidak hanya memperluas armada kendaraan listrik, tetapi juga membangun ekosistem mobilitas hijau yang lebih inklusif dan dapat diakses lebih banyak mitra pengemudi.
Langkah tersebut berlangsung ketika Grab terus memperbesar armada listriknya.
Pada Mei 2026, Grab menyebut armada EV telah mencapai lebih dari 28.000 unit, atau dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, sementara hingga akhir 2026 perusahaan menargetkan jumlah armada EV meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Skala ekspansi itu membuat pembiayaan 200 unit tidak hanya berkaitan dengan penambahan kendaraan.
Untuk armada komersial, biaya kepemilikan, pengisian daya, nilai kendaraan, serta waktu operasional menjadi bagian yang menentukan struktur biaya penggunaan kendaraan listrik.
Konteks biaya mobilitas juga terlihat dari pola perjalanan masyarakat Jabodetabek. BPS mencatat 1,26 juta komuter berada pada kelompok pengeluaran transportasi sedikitnya Rp25.000 untuk perjalanan pergi-pulang dalam sehari berdasarkan Survei Komuter Jabodetabek 2023.
Gambaran mengenai aspek biaya tersebut sebelumnya disampaikan pakar otomotif Institut Teknologi Bandung Yannes Martinus Pasaribu pada Kamis (23/4/2026).
Ia menilai pertumbuhan kendaraan listrik perlu ditopang total cost of ownership (TCO) yang lebih ekonomis dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak.
“Ada lima faktor yang potensial menggantikan insentif fiskal ya,” kata Yannes. Ia menyebut TCO dan ketersediaan infrastruktur pengisian daya sebagai faktor penting, selain nilai jual kembali, skema pembiayaan inovatif, serta diferensiasi produk.
Perspektif tersebut memperluas persoalan dari sekadar pembiayaan kendaraan. Bagi armada yang beroperasi intensif, efisiensi biaya energi dan perawatan perlu berjalan bersama dengan ketersediaan kendaraan untuk melayani perjalanan.
Kebutuhan tersebut juga berkaitan dengan lingkungan pendukung operasionalnya. CEO Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai percepatan elektrifikasi transportasi perlu disertai infrastruktur pengisian daya yang merata dan pasokan listrik yang lebih bersih.
“Pengurangan subsidi BBM harus dibarengi dengan perlindungan terhadap kelompok rentan, peningkatan kualitas transportasi publik, serta pembangunan infrastruktur pengisian daya yang merata,” ujar Fabby.
Pembiayaan 200 mobil listrik itu menjadi salah satu bentuk pembiayaan untuk memperluas penggunaan armada listrik.
Dalam pengoperasian komersial, aspek TCO, utilisasi kendaraan, biaya energi, dan kesiapan infrastruktur pengisian daya tetap menjadi bagian penting dari struktur operasionalnya. (Artha Tidar)


























