Wartatrans.com, JAKARTA – Perum Perumnas memulai pembangunan (groundbreaking) hunian subsidi berbasis rumah susun Samesta Alonia Kemayoran di Jakarta Pusat, Jumat (7/8/2026).
Proyek tersebut nantinya menyediakan 609 unit bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), dengan pembangunan menggunakan skema kerja sama turnkey dan tanpa penyertaan modal negara (PMN).

Direktur Utama Perum Perumnas Imelda Alini Pohan mengungkapkan, Samesta Alonia merupakan proyek strategis untuk memenuhi kebutuhan hunian layak di kawasan perkotaan.
“Hari ini hunian baru telah lahir, yaitu Samesta Alonia. Filosofinya adalah menyediakan tempat tinggal yang nyaman, harmonis, dan penuh harapan bagi masyarakat,” ujar Imelda.
Menurutnya, pembangunan proyek melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari kementerian, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, perbankan Himbara hingga mitra kontraktor.
Skema turnkey membuat pembangunan dilakukan melalui kerja sama dengan kontraktor tanpa menggunakan PMN.
Pembangunan hunian vertikal tersebut menjadi bagian dari perubahan pendekatan pemerintah dalam menyediakan rumah subsidi di perkotaan.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait, sebelumnya mengatakan, pemerintah akan mulai lebih fokus pada pembangunan rumah susun subsidi, untuk menjawab keterbatasan lahan kota.
Dari sisi proyek, Alonia dirancang dalam satu menara setinggi 32 lantai dengan tiga tipe hunian, yakni 31 meter persegi, 38 meter persegi, dan 40 meter persegi. Seluruh 609 unit ditujukan bagi MBR.
Tantangan berikutnya adalah keterjangkauan. Pengamat properti sekaligus CEO Indonesia Property Watch Ali Tranghanda menilai, harga rusun subsidi di atas Rp500 juta terlalu tinggi bagi sebagian MBR.
“Untuk harga masih di Rp500 jutaan menurut saya terlalu tinggi,” ujarnya.
Persoalan harga menjadi relevan bagi Alonia karena harga final unit, skema pembiayaan, serta biaya hunian perlu diketahui untuk menguji kemampuan bayar calon penghuni.
Status subsidi tidak dengan sendirinya menunjukkan hunian tersebut terjangkau.
Pengamat properti Anton Sitorus dalam pembahasan rusun subsidi pada April 2026, juga menekankan pentingnya ketepatan sasaran.
Dia menilai masyarakat berpenghasilan rendah harus tetap menjadi fokus utama dan mengusulkan pemanfaatan tanah negara untuk rusun sewa agar biaya hunian lebih rendah serta risiko unit menjadi instrumen investasi dapat ditekan.
Dari sisi akses, lokasi Alonia berada sekitar 700 meter dari Stasiun Ancol, 1,5 kilometer dari Stasiun Rajawali, dan 1,9 kilometer dari Stasiun Kemayoran.
“Namun, proyek ini belum memiliki koneksi langsung dengan MRT maupun LRT,” kata Anton belum lama ini.
Kondisi tersebut membuat akses transportasi menjadi salah satu ujian proyek. Hunian di pusat kota seharusnya tidak hanya menawarkan kedekatan geografis, tetapi juga mobilitas yang efisien bagi penghuni menuju pusat pekerjaan.
Karena itu, keberhasilan Samesta Alonia tidak cukup diukur dari 609 unit yang dibangun.
Ukurannya adalah apakah harga sesuai kemampuan MBR, akses mobilitas memadai, dan unit tetap dihuni kelompok sasaran.
Bila ketiga aspek tersebut terpenuhi, kata dia, Alonia berpotensi menjadi model baru hunian subsidi di pusat kota. Sebaliknya, tanpa keterjangkauan dan akses yang memadai, pembangunan rusun di lokasi strategis belum tentu menyelesaikan persoalan perumahan MBR perkotaan. (Artha Tidar)






























