Wartatrans.com, BOGOR — Wilayah Bojonggede Bogor belum seramai hari ini ketika seorang ulama bergelar Raden Panji memilih menetap dan berdakwah di sana. Wilayah itu masih berupa hamparan kampung, ladang, dan jalur lintasan masyarakat Sunda yang hidup berdampingan dengan tradisi lama. Di tengah lanskap itulah Raden Haji Panji Nitikisumah menanamkan pengaruhnya—pelan, dialogis, dan mengakar.
Nama lengkapnya panjang: Raden H. Panji Nitikisumah bin Tb Kosim bin P. Muhammad. Masyarakat setempat cukup menyebutnya Raden Panji. Ia hidup dan aktif berdakwah pada awal abad ke-19, sekitar tahun 1814, masa ketika Islam di Tatar Sunda berkembang melalui jalur kultural, bukan konfrontasi.
Raden Panji dikenal sebagai ulama yang tidak datang membawa garis pemisah yang tegas antara “yang lama” dan “yang baru”. Dakwahnya inklusif dan adaptif—menyerap tradisi lokal, mengolahnya, lalu memberi makna keislaman tanpa memutus akar budaya. Metode itu membuat ajarannya diterima luas oleh masyarakat Bojonggede dan sekitarnya.

Jejak terpenting dakwahnya berdiri hingga kini: Masjid Jami’ An-Nur. Masjid itu dibangun pada 1814 di atas tanah wakaf dari adiknya. Bukan sekadar bangunan ibadah, masjid ini sejak awal dirancang sebagai pusat pengajaran agama, ruang musyawarah, dan simpul kehidupan sosial. Kampung di sekitarnya kemudian dikenal sebagai Kampung Masjid, penanda betapa kuatnya peran masjid itu dalam kehidupan warga.
Masjid Jami’ An-Nur menjadi saksi bagaimana Islam bertumbuh secara organik di Bojong Gede—melalui pengajian, dialog, dan keteladanan hidup. Dari sana pula lahir generasi yang menjaga kesinambungan ajaran, tanpa kehilangan identitas lokalnya.
Raden Panji wafat dan dimakamkan tak jauh dari masjid yang ia dirikan. Kini, makamnya menjadi situs ziarah religi, didatangi peziarah dari berbagai daerah. Mereka datang bukan hanya untuk berdoa, tetapi juga untuk menyambung ingatan—tentang seorang tokoh yang menanamkan Islam dengan kesabaran dan kebijaksanaan.
Nilai historis Raden Panji kian kuat karena silsilahnya yang ditelusuri hingga Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati. Nasab itu menempatkannya dalam mata rantai panjang ulama penyebar Islam di Jawa. Namun bagi masyarakat Bojonggede, kebesaran Raden Panji tidak berhenti pada garis keturunan. Ia hidup dalam ingatan kolektif sebagai figur yang membumi.
Kini, nama Jalan R.H. Panji dan keberadaan Masjid Jami’ An-Nur menjadi penanda konkret warisan itu. Di tengah laju urbanisasi Bojonggede yang kian cepat, jejak Raden Panji tetap bertahan—sebagai pengingat bahwa Islam di tanah ini pernah tumbuh lewat jalan sunyi: dialog, budaya, dan keteladanan.
Sejarah memang kerap mencatat para tokoh besar di pusat-pusat kekuasaan. Tapi di Bojonggede, sejarah juga dijaga oleh seorang ulama kampung yang memilih bekerja dalam diam—dan meninggalkan cahaya yang tak pernah benar-benar padam.*** (PG)



