JAKARTA — Redaksi Wartatran.com menjadi ruang berkumpulnya sejumlah tokoh dan pemerhati investasi Aceh yang tergabung dalam Asosiasi Masyarakat Aceh Peduli Investasi (AMAPI). Pertemuan tersebut dimotori Putra Gara dan Fauzan Azima, dengan agenda membicarakan berbagai potensi investasi dan pengembangan sumber daya Aceh, Kamis (30/07/2026)
Pertemuan berlangsung dalam suasana silaturahmi sekaligus bertukar pandangan mengenai peluang investasi di Aceh, mulai dari sektor sumber daya alam hingga berbagai potensi ekonomi lainnya.

Fauzan Azima, yang dikenal sebagai Panglima GAM Wilayah Linge, Aceh Tengah, pada masa konflik, menyampaikan bahwa dirinya belum dapat hadir dalam pertemuan tersebut karena sedang mempersiapkan agenda perdamaian Aceh.
“Kami tidak bisa hadir, Bang. Tapi Bang Rusdi terbang dia ke Jakarta. Kami sibuk persiapkan acara perdamaian Aceh,” kata Fauzan.
Dalam pertemuan itu hadir Rusdi, salah seorang politisi Aceh yang pernah menjadi anggota DPRA dan kini aktif di dunia usaha serta memimpin sebuah partai politik.
Selain Rusdi, hadir pula Radian, seorang geolog yang memiliki pengalaman panjang di bidang sumber daya alam, baik di dalam maupun luar negeri. Kehadirannya menambah perspektif teknis dalam pembahasan mengenai potensi sumber daya dan investasi di Aceh.
Pertemuan juga dihadiri Erick Teguh Mulyono, perwakilan Qatar Company Indonesia. Pembicaraan diarahkan pada pemetaan potensi Aceh di berbagai lini, termasuk kemungkinan pengembangan kerja sama investasi yang dapat memberikan manfaat bagi daerah.
Putra Gara mengatakan, pertemuan tersebut belum diarahkan pada keputusan bisnis tertentu. Menurutnya, yang paling penting adalah membangun komunikasi dan membuka ruang silaturahmi di antara berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap masa depan ekonomi Aceh.
“Pertemuan ini adalah silaturahmi. Masalah kerjaan dan investasi itu ada yang menentukan,” ungkap Putra Gara.
Sementara Erick menambahkan, sebagai perwakilan Qatar bidang investasi di Indonesia – ia siap menjadi Mitra dengan AMAPI demi menggali potensi untuk kesejahteraan rakyat Aceh.
Menurutnya, Aceh memiliki potensi besar yang perlu dikelola dengan pendekatan profesional, terbuka, dan melibatkan berbagai pihak.
“Pertemuan dengan para tokoh Aceh dengan latar belakang berbeda ini diharapkan dapat menjadi awal dari komunikasi yang lebih luas mengenai peluang investasi di Aceh,” ungkap Erick.
AMAPI sendiri diharapkan menjadi ruang dialog bagi masyarakat Aceh, pelaku usaha, profesional, dan berbagai pemangku kepentingan untuk melihat investasi bukan semata dari sisi bisnis, tetapi juga sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan kemandirian daerah.
Pertemuan di Redaksi Wartatrans tersebut menjadi salah satu langkah awal untuk mempertemukan gagasan, pengalaman, dan jejaring dalam membaca peluang Aceh ke depan.*** (Boy)


























