Wartatrans.com, MAGELANG — Candi Borobudur berdiri megah di Magelang, Jawa Tengah. Jutaan orang datang untuk melihatnya dari kejauhan, memutari lorong-lorongnya, lalu naik ke puncak stupa. Namun tak banyak yang tahu: di bagian paling bawah candi ini, ada kisah yang sengaja disembunyikan.
Namanya Karmawibhangga.
Ia adalah kaki asli Borobudur. Di sanalah terpahat sekitar 160 panel relief yang menggambarkan hukum sebab akibat—karma—dengan cara yang keras dan gamblang. Tidak simbolik. Tidak metaforis. Relief-relief ini memperlihatkan pembunuhan, kekerasan, siksaan neraka, hingga perilaku manusia yang dianggap cabul pada zamannya.

Semua dipahat apa adanya.
Tak lama setelah Borobudur selesai dibangun pada abad ke-8 atau ke-9, bagian kaki ini justru ditutup rapat. Ribuan batu andesit disusun menutupi relief-relief tersebut. Alasan resminya sederhana: untuk memperkuat struktur candi agar tidak amblas.
Tapi tak semua sejarawan puas dengan penjelasan itu. Isi Karmawibhangga dinilai terlalu ekstrem untuk dipertontonkan kepada masyarakat luas. Ajarannya lurus, tapi caranya frontal. Bisa jadi, penutupan ini adalah bentuk kompromi: antara pesan moral Buddha yang keras, norma sosial masyarakat saat itu, dan kepentingan menjaga kesakralan bangunan.
Selama berabad-abad, kaki Borobudur itu terkubur. Hingga akhir abad ke-19, ketika pemerintah kolonial membuka penutupnya sementara untuk keperluan dokumentasi.
Tahun 1890, fotografer Jawa Kassian Cephas mengabadikan relief-relief tersembunyi tersebut. Foto-foto hitam-putihnya kini menjadi saksi penting tentang sisi Borobudur yang jarang dibicarakan. Tak lama setelah itu, batu penutup kembali dipasang. Karmawibhangga kembali menghilang.
Hari ini, hanya sebagian kecil relief yang bisa dilihat pengunjung. Sisanya tetap terkunci di balik batu.
Karmawibhangga mengingatkan bahwa Borobudur bukan hanya monumen keindahan dan meditasi. Ia juga kitab batu yang berani menunjukkan sisi gelap manusia—tentang akibat dari keserakahan, kekerasan, dan nafsu.
Barangkali, justru karena itulah ia ditutup.
Borobudur memilih menampilkan ketenangan di permukaan, sementara pelajaran paling keras disimpan di dasar. Seolah ingin berkata: pencerahan memang indah, tapi perjalanan menuju ke sana tak selalu nyaman.*** (Priyo)
Sumber:
Balai Konservasi Borobudur
UNESCO World Heritage Centre




















