Menu

Mode Gelap
Indonesia AirAsia Sesuaikan Jadwal, Janji Layanan Tetap Terjaga 12 Kepala Keluarga di Selmak Lubok Pusaka Masih Bertahan di Bawah Terpal Pasca Bencana Titi DJ: Mental Jadi Penentu Peserta Raih Gelar Jawara Excavator Nyaris Terseret Banjir di Sungai Burlah yang Meluap DAMRI Dukung Pemulangan Santri Pasca Idul Fitri 1447 H, Fasilitasi Perjalanan Aman dan Nyaman dari Jepara ke Berbagai Pesantren Perkuat Kualitas Pelayanan, Pelindo Regional 2 Sunda Kelapa Gelar Sosialisasi Prosedur Kapal Penumpang

RAGAM

Relief di Kaki Borobudur yang Disembunyikan

badge-check


 Relief di Kaki Borobudur yang Disembunyikan Perbesar

Wartatrans.com, MAGELANG — Candi Borobudur berdiri megah di Magelang, Jawa Tengah. Jutaan orang datang untuk melihatnya dari kejauhan, memutari lorong-lorongnya, lalu naik ke puncak stupa. Namun tak banyak yang tahu: di bagian paling bawah candi ini, ada kisah yang sengaja disembunyikan.
Namanya Karmawibhangga.

Ia adalah kaki asli Borobudur. Di sanalah terpahat sekitar 160 panel relief yang menggambarkan hukum sebab akibat—karma—dengan cara yang keras dan gamblang. Tidak simbolik. Tidak metaforis. Relief-relief ini memperlihatkan pembunuhan, kekerasan, siksaan neraka, hingga perilaku manusia yang dianggap cabul pada zamannya.

Semua dipahat apa adanya.
Tak lama setelah Borobudur selesai dibangun pada abad ke-8 atau ke-9, bagian kaki ini justru ditutup rapat. Ribuan batu andesit disusun menutupi relief-relief tersebut. Alasan resminya sederhana: untuk memperkuat struktur candi agar tidak amblas.

Tapi tak semua sejarawan puas dengan penjelasan itu. Isi Karmawibhangga dinilai terlalu ekstrem untuk dipertontonkan kepada masyarakat luas. Ajarannya lurus, tapi caranya frontal. Bisa jadi, penutupan ini adalah bentuk kompromi: antara pesan moral Buddha yang keras, norma sosial masyarakat saat itu, dan kepentingan menjaga kesakralan bangunan.

Selama berabad-abad, kaki Borobudur itu terkubur. Hingga akhir abad ke-19, ketika pemerintah kolonial membuka penutupnya sementara untuk keperluan dokumentasi.

Tahun 1890, fotografer Jawa Kassian Cephas mengabadikan relief-relief tersembunyi tersebut. Foto-foto hitam-putihnya kini menjadi saksi penting tentang sisi Borobudur yang jarang dibicarakan. Tak lama setelah itu, batu penutup kembali dipasang. Karmawibhangga kembali menghilang.

Hari ini, hanya sebagian kecil relief yang bisa dilihat pengunjung. Sisanya tetap terkunci di balik batu.

Karmawibhangga mengingatkan bahwa Borobudur bukan hanya monumen keindahan dan meditasi. Ia juga kitab batu yang berani menunjukkan sisi gelap manusia—tentang akibat dari keserakahan, kekerasan, dan nafsu.
Barangkali, justru karena itulah ia ditutup.

Borobudur memilih menampilkan ketenangan di permukaan, sementara pelajaran paling keras disimpan di dasar. Seolah ingin berkata: pencerahan memang indah, tapi perjalanan menuju ke sana tak selalu nyaman.*** (Priyo)

Sumber:
Balai Konservasi Borobudur
UNESCO World Heritage Centre

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

12 Kepala Keluarga di Selmak Lubok Pusaka Masih Bertahan di Bawah Terpal Pasca Bencana

7 April 2026 - 15:49 WIB

Titi DJ: Mental Jadi Penentu Peserta Raih Gelar Jawara

7 April 2026 - 15:25 WIB

Excavator Nyaris Terseret Banjir di Sungai Burlah yang Meluap

7 April 2026 - 15:18 WIB

Perkuat Kualitas Pelayanan, Pelindo Regional 2 Sunda Kelapa Gelar Sosialisasi Prosedur Kapal Penumpang

7 April 2026 - 14:02 WIB

DLH Aceh Barat Terapkan Sanksi Denda bagi Pembuang Sampah Sembarangan di Meulaboh

7 April 2026 - 06:01 WIB

Ahmad Dhani Meyakini Faktor Rejeki Penentu Seorang Bisa Menjadi Penyanyi Populer

7 April 2026 - 05:09 WIB

Istana Di Tengah Hutan Borneo

6 April 2026 - 09:05 WIB

Atas Intervensi Presiden Prabowo, Makam Serka Anumerta M. Nur Ichwan Digeser dari TPU ke TMP

5 April 2026 - 16:19 WIB

Teater Puisi “Sengkewe Sepanjang Musim” Hidupkan Ruang Publik Takengon

5 April 2026 - 08:15 WIB

Walikota Pekalongan Menentang Kebijakan WFH Pemerintah Pusat, Ada Apa ? 

4 April 2026 - 23:21 WIB

Trending di RAGAM