Menu

Mode Gelap
Masyarakat Beutong Ateuh Menjaga Warisan Alam, Sejahtera Karena Hutan Bukan Karena Tambang Kementerian Kehutanan, WCS Indonesia, dan CMA CGM Perkuat Kemitraan Logistik untuk Memberantas Perdagangan Ilegal Satwa Liar Dukung Konektivitas Nasional, ASDP dan Pemprov Jatim Percepat Transformasi Pelabuhan Ketapang Bagian dari Ekosistem Astra, FIFGROUP Perkuat Pemberdayaan Masyarakat melalui Desa Sejahtera Astra Citilink Serahkan Hadiah Undian Mobil dan Tiket Gratis untuk Pelanggan Setia Pelindo Terminal Petikemas Berikan Wajah Baru Sarana Publik Masyarakat Ring 1 Terminal Teluk Lamong

RAGAM

Relief di Kaki Borobudur yang Disembunyikan

badge-check


 Relief di Kaki Borobudur yang Disembunyikan Perbesar

Wartatrans.com, MAGELANG — Candi Borobudur berdiri megah di Magelang, Jawa Tengah. Jutaan orang datang untuk melihatnya dari kejauhan, memutari lorong-lorongnya, lalu naik ke puncak stupa. Namun tak banyak yang tahu: di bagian paling bawah candi ini, ada kisah yang sengaja disembunyikan.
Namanya Karmawibhangga.

Ia adalah kaki asli Borobudur. Di sanalah terpahat sekitar 160 panel relief yang menggambarkan hukum sebab akibat—karma—dengan cara yang keras dan gamblang. Tidak simbolik. Tidak metaforis. Relief-relief ini memperlihatkan pembunuhan, kekerasan, siksaan neraka, hingga perilaku manusia yang dianggap cabul pada zamannya.

Semua dipahat apa adanya.
Tak lama setelah Borobudur selesai dibangun pada abad ke-8 atau ke-9, bagian kaki ini justru ditutup rapat. Ribuan batu andesit disusun menutupi relief-relief tersebut. Alasan resminya sederhana: untuk memperkuat struktur candi agar tidak amblas.

Tapi tak semua sejarawan puas dengan penjelasan itu. Isi Karmawibhangga dinilai terlalu ekstrem untuk dipertontonkan kepada masyarakat luas. Ajarannya lurus, tapi caranya frontal. Bisa jadi, penutupan ini adalah bentuk kompromi: antara pesan moral Buddha yang keras, norma sosial masyarakat saat itu, dan kepentingan menjaga kesakralan bangunan.

Selama berabad-abad, kaki Borobudur itu terkubur. Hingga akhir abad ke-19, ketika pemerintah kolonial membuka penutupnya sementara untuk keperluan dokumentasi.

Tahun 1890, fotografer Jawa Kassian Cephas mengabadikan relief-relief tersembunyi tersebut. Foto-foto hitam-putihnya kini menjadi saksi penting tentang sisi Borobudur yang jarang dibicarakan. Tak lama setelah itu, batu penutup kembali dipasang. Karmawibhangga kembali menghilang.

Hari ini, hanya sebagian kecil relief yang bisa dilihat pengunjung. Sisanya tetap terkunci di balik batu.

Karmawibhangga mengingatkan bahwa Borobudur bukan hanya monumen keindahan dan meditasi. Ia juga kitab batu yang berani menunjukkan sisi gelap manusia—tentang akibat dari keserakahan, kekerasan, dan nafsu.
Barangkali, justru karena itulah ia ditutup.

Borobudur memilih menampilkan ketenangan di permukaan, sementara pelajaran paling keras disimpan di dasar. Seolah ingin berkata: pencerahan memang indah, tapi perjalanan menuju ke sana tak selalu nyaman.*** (Priyo)

Sumber:
Balai Konservasi Borobudur
UNESCO World Heritage Centre

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Masyarakat Beutong Ateuh Menjaga Warisan Alam, Sejahtera Karena Hutan Bukan Karena Tambang

3 Juli 2026 - 15:29 WIB

Bagian dari Ekosistem Astra, FIFGROUP Perkuat Pemberdayaan Masyarakat melalui Desa Sejahtera Astra

3 Juli 2026 - 15:14 WIB

Pelindo Terminal Petikemas Berikan Wajah Baru Sarana Publik Masyarakat Ring 1 Terminal Teluk Lamong

3 Juli 2026 - 14:24 WIB

Pengoperasian QCC 004 Perkuat Daya Saing Pelabuhan Panjang sebagai Gerbang Logistik Sumatera

3 Juli 2026 - 13:35 WIB

13 Tahun, Mengabdi Direktur Ernawati Komit Bawa PT CMN Melayani Sepenuh Hati

3 Juli 2026 - 12:41 WIB

Cost Sharing ala Carpooling: Solusi Atasi Kemacetan, Biaya Energi dan Emisi Karbon

3 Juli 2026 - 12:28 WIB

265 Anak Penyintas Banjir di Aceh Tamiang Jalani Khitan Gratis, Senyum Warnai Masa Pemulihan

3 Juli 2026 - 11:16 WIB

Sebanyak 265 anak penyintas banjir di Aceh Tamiang mengikuti program khitan gratis yang digelar relawan dari Bekasi, Jawa Barat, Kamis (2/7/2026). (Foto:Serambinews)

Catatan Iwan Piliang: Di Balik Pidato Prabowo – Di Antara Omon-Omon dan Upaya Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat

3 Juli 2026 - 02:26 WIB

BEM-TR Soroti Temuan BPK, Nilai Target Zero Defisit Harus Diiringi Perbaikan Tata Kelola Keuangan

2 Juli 2026 - 22:05 WIB

Kemendagri dan Pemerintah Aceh Fasilitasi Penyelesaian Batas Wilayah Subulussalam–Aceh Selatan

2 Juli 2026 - 21:58 WIB

Trending di RAGAM