Menu

Mode Gelap
AHY Inginkan Pimpinan Demokrat Yang Efektif Dan Berdampak Nyata Bagi Masyarakat  Masyarakat Beutong Ateuh Banggalang Ingin Merdeka di Tanah Sendiri dengan Menolak Tambang Perusak Alam KAI Perkuat Safety at Scale di Tengah Pertumbuhan Pelanggan 8,32 Persen Dikpol di Bojonggede, Haji Fikri Kenalkan PKS sebagai Partai Islam Rahmatan Lil ‘Alamin Jakarta Butuh Hub Logistik Dirjen Perhubungan Udara Tinjau Bandara Terdampak Gempa NTT

RAGAM

Relief di Kaki Borobudur yang Disembunyikan

badge-check


 Relief di Kaki Borobudur yang Disembunyikan Perbesar

Wartatrans.com, MAGELANG — Candi Borobudur berdiri megah di Magelang, Jawa Tengah. Jutaan orang datang untuk melihatnya dari kejauhan, memutari lorong-lorongnya, lalu naik ke puncak stupa. Namun tak banyak yang tahu: di bagian paling bawah candi ini, ada kisah yang sengaja disembunyikan.
Namanya Karmawibhangga.

Ia adalah kaki asli Borobudur. Di sanalah terpahat sekitar 160 panel relief yang menggambarkan hukum sebab akibat—karma—dengan cara yang keras dan gamblang. Tidak simbolik. Tidak metaforis. Relief-relief ini memperlihatkan pembunuhan, kekerasan, siksaan neraka, hingga perilaku manusia yang dianggap cabul pada zamannya.

Semua dipahat apa adanya.
Tak lama setelah Borobudur selesai dibangun pada abad ke-8 atau ke-9, bagian kaki ini justru ditutup rapat. Ribuan batu andesit disusun menutupi relief-relief tersebut. Alasan resminya sederhana: untuk memperkuat struktur candi agar tidak amblas.

Tapi tak semua sejarawan puas dengan penjelasan itu. Isi Karmawibhangga dinilai terlalu ekstrem untuk dipertontonkan kepada masyarakat luas. Ajarannya lurus, tapi caranya frontal. Bisa jadi, penutupan ini adalah bentuk kompromi: antara pesan moral Buddha yang keras, norma sosial masyarakat saat itu, dan kepentingan menjaga kesakralan bangunan.

Selama berabad-abad, kaki Borobudur itu terkubur. Hingga akhir abad ke-19, ketika pemerintah kolonial membuka penutupnya sementara untuk keperluan dokumentasi.

Tahun 1890, fotografer Jawa Kassian Cephas mengabadikan relief-relief tersembunyi tersebut. Foto-foto hitam-putihnya kini menjadi saksi penting tentang sisi Borobudur yang jarang dibicarakan. Tak lama setelah itu, batu penutup kembali dipasang. Karmawibhangga kembali menghilang.

Hari ini, hanya sebagian kecil relief yang bisa dilihat pengunjung. Sisanya tetap terkunci di balik batu.

Karmawibhangga mengingatkan bahwa Borobudur bukan hanya monumen keindahan dan meditasi. Ia juga kitab batu yang berani menunjukkan sisi gelap manusia—tentang akibat dari keserakahan, kekerasan, dan nafsu.
Barangkali, justru karena itulah ia ditutup.

Borobudur memilih menampilkan ketenangan di permukaan, sementara pelajaran paling keras disimpan di dasar. Seolah ingin berkata: pencerahan memang indah, tapi perjalanan menuju ke sana tak selalu nyaman.*** (Priyo)

Sumber:
Balai Konservasi Borobudur
UNESCO World Heritage Centre

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

AHY Inginkan Pimpinan Demokrat Yang Efektif Dan Berdampak Nyata Bagi Masyarakat 

30 Agustus 2026 - 23:31 WIB

Masyarakat Beutong Ateuh Banggalang Ingin Merdeka di Tanah Sendiri dengan Menolak Tambang Perusak Alam

30 Agustus 2026 - 23:12 WIB

Dikpol di Bojonggede, Haji Fikri Kenalkan PKS sebagai Partai Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

30 Agustus 2026 - 19:47 WIB

Suroto Ketua RW 06 Cengbar Jakbar: Bangun Kepedulian dan Kebersamaan Warga Dengan Semangat Kemerdekaan

30 Agustus 2026 - 13:52 WIB

Pedang, Amanah, dan Marwah Linge

30 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Gubernur Jateng Mengingatkan DCF 2026 Agar Menjaga Identitas Daerah

30 Agustus 2026 - 09:32 WIB

Manusia Di Antara Dua Setan 

30 Agustus 2026 - 08:25 WIB

BNN Kabupaten Gianyar Meriahkan Peringatan Hari Pramuka ke-65 melalui Pameran UMKM, Expo dan Panggung Kreatif, 50 Anggota Pramuka di Tes Urin

29 Agustus 2026 - 18:20 WIB

Agnez Mo Inspirasi Perdana di Indonesia Berkarya Besutan InJourney Airports

29 Agustus 2026 - 16:33 WIB

Sumber Air Baku IPA Kudu Menurun, Pelanggan PDAM di Semarang Diminta Siaga

29 Agustus 2026 - 15:12 WIB

Trending di RAGAM