Oleh: Muhrain
_________________

Wartatrans.com — Setidaknya dua kali bertemu tanpa rencana dengan Si Kumbang, beliau ini guru SMP negeri di salah satu sekolah kawasan Lamteuba, Aceh Besar, Propinsi Aceh. Awal dari kali kedua bertemu di kegiatan agak kolosal peringatan Damai Aceh Dua Dekade, didampingi istrinya kami bercengkrama tentang cerpen persis di areal parkiran.
Kali kedua pertemuan berlangsung persis saat sama-sama mencharger handphone di salah satu warung kopi dekat Gramedia Mall, Banda Aceh. Kali ini lebih dramatis.
Mengapa tidak saya katakan lebih cerpenis karena pertemuan itu justru singkat, lebih singkat dari cerpen bahkan yang konon suspense-nya jadi primadona jika piawai menentukan arah gerak cerita pada jenis sastra prosa tersebut.
Si Kumbang ini adalah nama sebutan, dari identitas yang bisa digunakan sebagai penanda sosok guru bahasa Indonesia yang cukup piawai menulis cerpen, karyanya termasuk diminati oleh banyak kalangan pencinta sastra, tetapi di dunia pengajaran, dari cerita-cerita singkat pertemuan kedua itu didapatkan semacam hipotesa bahwa cerpen Aceh nyaris tenggelam, mungkin turut serta bersama banjir bandang baru-baru ini, mungkin.
“Apa karya cerpen terbaru ada yang disiarkan, terutama tema bencana Sumatera,?” tanya saya tergopoh untuk menandakan perhatian serius soal cerpen di era Kurikulum Indonesia yang katanya Merdeka. Ia menjawab tapi tidak berkata, hanya mengangguk, bahkan matanya yang sedikit iritasi memerah kelihatannya lelah perjalanan menampilkan kegusaran mendalam.
“Kita kehilangan media pajang, cerpen sudah mati suri, tapi di dunia pendidikan malah lebih parah, cerpen sudah dikubur sebelum dokter atau dukun kampung memastikan nafasnya benaran berhenti”, jawabnya semacam jawaban sastrawi, tapi saya yakin, itu ulu hati yang bunyi, sakit dan teramat kecewa pada keadaan cerpen di Aceh.
Cerpen Aceh akhir tahun 2025 sepertinya ikut berakhir sebagai manuskrip, ungkap saya, tapi itu pun jika tidak ingin dikata, terbunuh oleh pandemi, dihantam banjir bandang lagi, klop.
Harian Serambi Indonesia memang sangat menentukan tumbuh dan berdenyutnya cerpen Aceh, dulu juga Analisa sebuah surat kabar yang turut dikelola Opung Pasaribu Idris dan Afrion sangat Gandrung dan konsisten membela kolom budaya di media Sumatera Utara tersebut agar mampu menampung karya para cerpenis Indonesia dari Sumatera dan Indonesia.
Lebih tragisnya, Analisa pun tutup. Tinggal Harian Waspada satu-satunya koran yang memuat cerpen dan karya sastra, ini pun tak kuasa menampung begotu banyaknya antrian pengirim, bisa sepanjang antrian haji agaknya.
Gelas kopi saya belum habis, tapi Si Kumbang mengaku harus ‘bergerak’ dari lokasi, hendak membeli kebutuhan pangan di Pasar Lamdingin, dan menjemput anaknya, akunya.
Dia tentu menguraikan banyak keluhan tentang pengajaran sastra khususnya cerpen di sekolah, saya mengangguk dan dalam uraian selama duduk juga menyampaikan beberapa poin penting begini soal cerpen Aceh.
Di Aceh, literasi paling dominan adalah dialog, bercakap, bicara dan umumnya komunikasi verbal sebagai satu bagian yang lebih kentara dalam menyampaikan pengalaman manusia tentang segala perkara.
Termasuk pula hal-hal yang bagi cerpen menimbulkan sebuah pesan padat dan kaya makna, sehingga cerpen sebagai karya tulis akan sangat bergantung dari budaya literasi tempatan.
Jika mendengar ceramah, pidato atau semacam pengajian, kisah-kisah akan muncul begitu mudah dan langsung direspon pendengar hadirin, cerpen ada jarak dan ruang sela untuk memaknai, itu terlampau lama.
Mungkin menunggu bukan budaya Aceh, negeri tersebut sangat gercep, seperti martabak telur, aduk, isi seluruh bahan, tumpahkan pada wajan datar, panas sempurna, hodang, telan, sangat taktis.
Budaya makan begitu juga tentu mempengaruhi budaya lainnya, termasuk budaya membaca. Cerpen padahal bacaan si paling singkat, bahkan sekali duduk kelar, kata teori begitu.
Tetapi itu terlampau datar, tidak mampu dimamah para penyuka kisah di Aceh, bahkan tak sempat terkantuk-kantuk usai semisal mendengar ceramah, pulang saat ada yang tanya apa yang paling berkesan usai mendengar ‘dakwah’, pendengar itu pun bingung menjelaskan apa yang menarik, tidak ada yang lebih berkesan pada hal-hal yang terus begitu diulang-ulang, cukup niat ibadah, selesai.
Cerpen Aceh didominasi cerpen interpretasi keluguan, kehenyakan dan malah kekonyolan, setidaknya dalam fase perang yang panjang, cerpen Aceh tumbuh seperti bom yang sumbu karbitnya terlalu pendek.
Belum sempat mendapat perhatian dari lawan sudah meledak, lalu hening, dan perang kisah itupun kelar, persis seperti kentut, hanya bikin ribut lalu angin meniupnya ke angkasa udara yang baunya lebih rupa-rupa, sulit membedakan mana literasi budaya, mana kentut.
Si Kumbang juga banyak cerita terkait tantangan pengajaran sastra di sekolah, padahal saya pun orang ‘sekolahan’, paling tidak pernah menjadi pengajar kritik sastra di zona Timur Aceh yang pesertanya dominan kepala sekolah dan wakil juga guru bahasa dan sastra Indonesia (2007-2010).
Jadi ya kami malah saling menimpa, tak ada perbedaan yang mampu memantik diskusi, ya karena homogen, satu zona, tetapi zona pengajaran sastra memang tidak pernah nyaman untuk dikisahkan khususnya di Aceh.
Pendidikan cerpen belum penting, kalah dengan program membuat terasi sebagai muatan lokal, atau kerupuk/keripik melinjo di Pidie, karena sangking hanya dianggap makanan ringan dan tidak justru dianggap penting.
Apalagi di era digital orang makin perlu menghemat waktu namun dapat penghiburan, beda dengan novel, biasanya malah dapat teguran, waktu termakan habis untuk melototi ratusan halaman, tentu perlu waktu khusus sebagaimana menonton drama Korea yang banyak memakan kuota itu.
Cerpen beda, kesulitan karya sastra ini di Aceh selain akibat wadah yang memuat telah nyaris tiada, lembaga perguruan tinggi dan cetek pun tak ambil pusing guna menyiapkan formula alih-alih membiarkan cerpen Aceh mati tanpa ada pewaris.
Bahkan di perguruan tinggi itu, lulusan sarjana bahasa Indonesia sibuk dengan tata bahasa sampai lupa untuk menyediakan perhatian utama kepada sastranya, sehingga cerpen menjadi dompet dhuafa, perlu didorong oleh para pengusaha untuk membantu memberikan pacu jantung, siapa tahu masih ada kemungkinan jantung cerpen detak semula. Wallahu alam.***










