Oleh: Nyakman Lamjame
___________________________

Wartatrans.com, OPINI — Pemulihan Aceh pascabencana tidak dapat direduksi menjadi sekadar rekonstruksi fisik atau pemulihan ekonomi jangka pendek. Ia merupakan sebuah proses peradaban—ikhtiar membangun kembali tamaddun, yakni tatanan kehidupan yang menyatukan manusia, alam, kerja produktif, nilai budaya, dan orientasi keberlanjutan.
Ketika bencana berskala luas meluluhlantakkan permukiman, menghancurkan sawah, kebun, tambak, peternakan, serta memutus mata rantai produksi dan distribusi, yang runtuh sejatinya bukan hanya aset material. Yang ikut hancur adalah lanskap kehidupan rakyat: ingatan kolektif, pengetahuan lokal, praktik budaya, dan ritme sosial yang menopang keberlanjutan hidup. Dalam konteks inilah pemulihan UMKM harus dipahami sebagai bagian integral dari pemulihan kemanusiaan dan pemajuan peradaban.
Keterbatasan Pendekatan Rekonstruksi Konvensional
Berbagai literatur kebencanaan internasional, laporan lembaga kemanusiaan multilateral, serta refleksi jejaring praktisi lapangan menunjukkan satu benang merah yang konsisten. Pemulihan pascabencana yang berfokus semata pada pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi makro cenderung menghasilkan pemulihan yang rapuh, tidak merata, dan mudah runtuh ketika krisis berikutnya terjadi.
Sebaliknya, wilayah yang mampu bangkit secara berkelanjutan adalah mereka yang memulai pemulihan dari sektor-sektor induk kehidupan—terutama pangan, mata pencaharian, dan kebudayaan—dengan masyarakat terdampak ditempatkan sebagai subjek utama, penjaga nilai, dan pewaris ruang hidupnya sendiri.
Sawah Aceh: Ruang Produksi dan Ruang Kebudayaan
Aceh memiliki posisi strategis dalam sistem pangan nasional sekaligus dalam peta kebudayaan Nusantara. Selama puluhan tahun, Aceh dikenal sebagai salah satu penyangga pangan utama di Sumatra, dengan produksi padi sawah sebagai tulang punggung ekonomi pedesaan.
Sawah di Aceh bukan sekadar ruang produksi pangan, melainkan ruang kebudayaan. Di sanalah kerja kolektif dijalankan, tradisi meuseuraya (gotong royong) dirawat, dan nilai kebersamaan diwariskan lintas generasi. Pascabencana, kerusakan sawah akibat banjir bandang, longsor, dan sedimentasi lumpur tidak hanya mengganggu ketahanan pangan, tetapi juga merusak ritme kebudayaan agraris yang selama ini menopang kehidupan sosial masyarakat desa.
Pengalaman Jepang pascagempa dan tsunami Tohoku 2011 menunjukkan bahwa rehabilitasi sawah dan sistem irigasi ditempatkan sebagai prioritas strategis pemulihan komunitas. Pertanian dipulihkan secara terpadu dengan pemulihan sosial dan kebudayaan, sehingga petani dapat kembali menanam sekaligus kembali menempati ruang hidupnya secara bermartabat. UMKM penggilingan padi, pengolahan pangan, dan distribusi lokal dipulihkan secara paralel untuk memastikan rantai kehidupan desa kembali berfungsi.
Pelajaran Global: Bangladesh dan Ketahanan Desa
Pengalaman pascabanjir di Bangladesh memperlihatkan pendekatan serupa. Pemulihan diarahkan pada pengembalian kapasitas produksi petani kecil melalui penyediaan benih, rehabilitasi lahan, dan dukungan alat produksi. Hilangnya satu musim tanam dipahami bukan hanya sebagai kerugian ekonomi, tetapi sebagai ancaman terhadap keberlanjutan kehidupan sosial dan kebudayaan desa.
Pemulihan pertanian yang cepat memungkinkan UMKM berbasis pangan lokal, tradisi pasar desa, serta praktik budaya terkait pangan tetap hidup dan berlanjut.
Garam Rakyat: Identitas Maritim dan Ketahanan Pesisir
Selain pertanian padi, Aceh memiliki basis ekonomi pesisir yang kuat melalui produksi garam rakyat. Garam bukan sekadar komoditas konsumsi, melainkan bagian dari kebudayaan maritim Aceh yang membentuk pengetahuan lokal, ritme kerja musiman, dan identitas masyarakat pesisir.
Kerusakan tambak garam akibat bencana berarti hilangnya sumber pendapatan sekaligus terputusnya praktik budaya lintas generasi. Literatur pemulihan ekonomi pesisir di Turki pascagempa menunjukkan bahwa pemulihan produksi garam tradisional dan usaha kecil pesisir mampu mempercepat pemulihan ekonomi sambil menjaga kesinambungan budaya dan lanskap pesisir bersejarah.
Peternakan Rakyat: Martabat, Ketahanan, dan Kehidupan
Peternakan rakyat merupakan pilar penting ekonomi dan kebudayaan Aceh. Sapi, kerbau, kambing, dan unggas tidak hanya berfungsi sebagai sumber pangan dan pendapatan, tetapi juga sebagai penyangga sosial dan simbol keberlanjutan keluarga.
Kehilangan ternak sering kali menjadi pintu masuk kemiskinan struktural sekaligus hilangnya martabat hidup. Pengalaman Pakistan dan negara-negara Asia Selatan menunjukkan bahwa pemulihan peternakan rakyat dengan pendekatan komunitas dan budaya berkontribusi besar terhadap stabilitas sosial dan pemulihan kehidupan desa.
Kopi dan Nilam: Tamaddun Lokal dalam Rantai Nilai Global
Setelah fondasi pangan relatif pulih, pemulihan komoditas bernilai tinggi menjadi tahap strategis berikutnya. Dalam konteks Aceh, kopi dan minyak nilam telah lama terintegrasi dalam jaringan ekonomi global sekaligus menjadi bagian dari identitas kultural wilayah.
Kopi Aceh tercatat dalam sejarah perdagangan internasional selama berabad-abad dan membentuk lanskap sosial dataran tinggi, sementara minyak nilam Aceh menjadi rujukan penting dalam industri parfum dunia, lahir dari pengetahuan lokal dan kerja komunitas.
Berbagai kajian menegaskan bahwa keberlanjutan komoditas unggulan sangat bergantung pada kekuatan basis pangan lokal serta perlindungan terhadap produsen kecil sebagai penjaga pengetahuan tradisional. Pemulihan kebun kopi dan nilam pascabencana harus dipahami sebagai upaya menjaga tamaddun ekonomi dan kebudayaan Aceh—kebun sebagai ruang ingatan, ruang pengetahuan, dan cagar budaya hidup.
Kebudayaan, Syariah, dan Ketahanan Sosial
Dimensi kebudayaan Aceh menjadi kekuatan pembeda dalam keseluruhan proses pemulihan. Struktur gampong, tradisi meuseuraya, seni tradisi, hikayat, adat bertani dan melaut, serta nilai-nilai keislaman yang hidup dalam praktik ekonomi rakyat merupakan modal budaya yang tidak tergantikan.
Pemajuan kebudayaan, perlindungan cagar budaya, serta penguatan seni dan ekspresi lokal harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi pemulihan, karena kebudayaan adalah sumber daya ketahanan sosial paling tahan lama. Integrasi prinsip ekonomi syariah—keadilan, kebersamaan, dan perlindungan terhadap kelompok rentan—memberikan kerangka etis yang kokoh bagi pemulihan yang bermartabat.
Penutup: Aceh sebagai Rujukan Global
Dalam kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, pendekatan pemulihan berbasis tamaddun ini berkontribusi langsung pada penghapusan kemiskinan, ketahanan pangan, pekerjaan layak, pengurangan ketimpangan, pembangunan komunitas tangguh, serta adaptasi terhadap perubahan iklim dan risiko bencana.
Pemulihan UMKM Aceh pascabencana pada akhirnya adalah proses menata ulang kehidupan secara menyeluruh—lahir dan batin. Ketika sawah kembali ditanami, tambak garam kembali berproduksi, ternak kembali hidup, kebun kopi dan nilam kembali berdaun, seni budaya kembali dipentaskan, dan ruang adat kembali dihidupkan, di situlah pemulihan kemanusiaan menemukan makna terdalamnya.
Dalam dunia yang semakin rentan terhadap krisis iklim dan bencana, pengalaman Aceh berpotensi menjadi rujukan penting bagi penelitian, tesis, disertasi, serta perumusan kebijakan publik lintas negara—sebagai model pemulihan pascabencana yang berakar pada tamaddun lokal, kaya secara budaya, dan relevan secara global.***
– Penulis adalah Direktur Meurak Jeumpa Institut, Aceh – Sumatra










