Wartatrans.com — Banyak dari generasi kita, para orang tua atau Baby Boomers, menghakimi Gen-Z sebagai malas membaca dan lemah literasi.
Gen-Z itu bukan malas membaca. Mereka hanya tidak membaca dengan cara kita. Mereka tidak anti membaca, mereka anti cara membaca yang tidak relevan dengan kecepatan zaman mereka. Bagi mereka, membaca bukan lagi duduk lama dengan satu buku, tapi menyerap informasi dari berbagai sumber secara simultan—artikel, video, thread, hingga AI.

Kita tumbuh dengan buku, mereka tumbuh dengan layar. Kita membaca perlahan, mereka menyerap cepat. Kita fokus satu sumber, mereka lompat antar banyak sumber. Kita membaca untuk memahami, mereka membaca untuk mengolah dan merespons cepat.
Generasi kita punya keunggulan dalam ketekunan, konsentrasi panjang, dan kedalaman analisis yang mulai langka hari ini. Kecepatan sering mengorbankan kedalaman. Multitasking sering mengorbankan fokus. Informasi melimpah sering mengaburkan mana yang benar-benar penting.
Namun, kecepatan tanpa kedalaman bisa jadi rapuh. Sebaliknya, kedalaman tanpa adaptasi teknologi informasi bisa jadi usang. Masalahnya bukan di niat belajar, tapi di cara. Jadi bukan soal siapa lebih baik. Tapi siapa mau belajar dari siapa.
Karena pada akhirnya, dunia tetap butuh orang yang bukan hanya cepat mengakses informasi, tapi juga mampu berpikir jernih, mendalam, dan tidak mudah terseret arus.
Cara belajar memang urusan teknis. Tapi kualitas berpikir itu urusan prinsip.
Kita gak bisa mengatur zaman. Kita hanya bisa menjadi jembatan, menggabungkan kedalaman lama dengan kecepatan baru. Kita gak bisa mengatur zaman. Kita hanya bisa menyesuaikan diri tanpa kehilangan kualitas berpikir.
Kalau generasi lama bersikeras mempertahankan cara lama, mereka akan ditinggalkan. Kalau Gen-Z menolak belajar kedalaman, mereka akan kehilangan arah.
Masa depan bukan milik yang paling cepat atau paling lama, tapi milik yang paling adaptif tanpa kehilangan kedalaman.*** (Nurhayati)
























