Menu

Mode Gelap
Tradisi Membaca, Memahami Kita – Memahami Gen-Z Penumpang Angkutan Laut Lebaran Naik 9,86%, Tembus 2,02 Juta Kuota Diskon Tiket Habis Terjual, PELNI Sukses Layani 467 Ribu Penumpang Penjualan Tiket KA Libur Panjang Awal April Tembus Lebih 710 Ribu, Mobilitas Penumpang Tinggi InJourney Airports Fasilitasi Diklat Pekerja Migran Indonesia Terampil ke Jepang Pelatihan CTO Perkuat SDM Andal di Terminal Petikemas Berlian untuk Akselerasi Transformasi

RAGAM

Tradisi Membaca, Memahami Kita – Memahami Gen-Z

badge-check


 Tradisi Membaca, Memahami Kita – Memahami Gen-Z Perbesar

Wartatrans.com —  Banyak dari generasi kita, para orang tua atau Baby Boomers, menghakimi Gen-Z sebagai malas membaca dan lemah literasi.

Gen-Z itu bukan malas membaca. Mereka hanya tidak membaca dengan cara kita. Mereka tidak anti membaca, mereka anti cara membaca yang tidak relevan dengan kecepatan zaman mereka. Bagi mereka, membaca bukan lagi duduk lama dengan satu buku, tapi menyerap informasi dari berbagai sumber secara simultan—artikel, video, thread, hingga AI.

Kita tumbuh dengan buku, mereka tumbuh dengan layar. Kita membaca perlahan, mereka menyerap cepat. Kita fokus satu sumber, mereka lompat antar banyak sumber. Kita membaca untuk memahami, mereka membaca untuk mengolah dan merespons cepat.

Generasi kita punya keunggulan dalam ketekunan, konsentrasi panjang, dan kedalaman analisis yang mulai langka hari ini. Kecepatan sering mengorbankan kedalaman. Multitasking sering mengorbankan fokus. Informasi melimpah sering mengaburkan mana yang benar-benar penting.

Namun, kecepatan tanpa kedalaman bisa jadi rapuh. Sebaliknya, kedalaman tanpa adaptasi teknologi informasi bisa jadi usang. Masalahnya bukan di niat belajar, tapi di cara. Jadi bukan soal siapa lebih baik. Tapi siapa mau belajar dari siapa.

Karena pada akhirnya, dunia tetap butuh orang yang bukan hanya cepat mengakses informasi, tapi juga mampu berpikir jernih, mendalam, dan tidak mudah terseret arus.

Cara belajar memang urusan teknis. Tapi kualitas berpikir itu urusan prinsip.

Kita gak bisa mengatur zaman. Kita hanya bisa menjadi jembatan, menggabungkan kedalaman lama dengan kecepatan baru. Kita gak bisa mengatur zaman. Kita hanya bisa menyesuaikan diri tanpa kehilangan kualitas berpikir.

Kalau generasi lama bersikeras mempertahankan cara lama, mereka akan ditinggalkan. Kalau Gen-Z menolak belajar kedalaman, mereka akan kehilangan arah.

Masa depan bukan milik yang paling cepat atau paling lama, tapi milik yang paling adaptif tanpa kehilangan kedalaman.*** (Nurhayati)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

InJourney Airports Fasilitasi Diklat Pekerja Migran Indonesia Terampil ke Jepang

3 April 2026 - 19:21 WIB

Pelatihan CTO Perkuat SDM Andal di Terminal Petikemas Berlian untuk Akselerasi Transformasi

3 April 2026 - 19:12 WIB

Polemik Toko Kue Gambang Semarang Kian Berkembang Liar, Owner Sesungguhnya Sulit Ditemui

3 April 2026 - 14:09 WIB

Pascagempa Sulut, PGE Pastikan PLTP Lahendong Aman dan Beroperasi Stabil

3 April 2026 - 13:42 WIB

Akses Jalan Utama Takengon – Gayo Lues Putus, Jalan Alternatif Rusak Parah

3 April 2026 - 13:33 WIB

Komunitas Seni Kuflet Gelar Tur Literasi Sumatera di Jambi, Sasar Kampus hingga Komunitas

3 April 2026 - 05:36 WIB

Rayakan Liburan dengan Perjalanan Hemat, DAMRI Hadirkan Promo “Twin Date 4.4

2 April 2026 - 23:40 WIB

Kelola 196 Ribu Penumpang, Pelindo Regional 2 Pastikan Kelancaran Arus Lebaran 2026

2 April 2026 - 23:02 WIB

Dukung Persiapan Konsumsi Jemaah Haji, Garuda Terbangkan 15 Ton Makanan Siap Saji ke Jeddah

2 April 2026 - 19:36 WIB

Cerita dari Bukit Sinyonya: FIFGROUP Wujudkan Desa Sejahtera dan Sekolah yang Lebih Layak 

2 April 2026 - 18:29 WIB

Trending di NASIONAL