Menu

Mode Gelap
Gelar RUA 2026, Iperindo Bahas Order Pembangunan Kapal Baru Dalam Negeri masih Sepi Semarak Kemerdekaan, Warga Griya Serpong Adu Kekompakan di Masak Gesss Episode 324 “Meradjoet Sendja” Hadirkan Orkestrasi Kebangsaan, Satukan Seni, Sejarah dan Kepedulian Sosial Pemprov Jateng Antisipasi Banyak Warganya Yang Ingin Menggeruduk Gedung DPR RI Haji Fikri Serap Aspirasi Warga Ciomas, Soroti Banjir, Longsor, dan Kerusakan Infrastruktur KAI Services Perkuat Kemitraan Strategis melalui Mitra Gathering 2026

RAGAM

Tradisi Membaca, Memahami Kita – Memahami Gen-Z

badge-check


 Tradisi Membaca, Memahami Kita – Memahami Gen-Z Perbesar

Wartatrans.com —  Banyak dari generasi kita, para orang tua atau Baby Boomers, menghakimi Gen-Z sebagai malas membaca dan lemah literasi.

Gen-Z itu bukan malas membaca. Mereka hanya tidak membaca dengan cara kita. Mereka tidak anti membaca, mereka anti cara membaca yang tidak relevan dengan kecepatan zaman mereka. Bagi mereka, membaca bukan lagi duduk lama dengan satu buku, tapi menyerap informasi dari berbagai sumber secara simultan—artikel, video, thread, hingga AI.

Kita tumbuh dengan buku, mereka tumbuh dengan layar. Kita membaca perlahan, mereka menyerap cepat. Kita fokus satu sumber, mereka lompat antar banyak sumber. Kita membaca untuk memahami, mereka membaca untuk mengolah dan merespons cepat.

Generasi kita punya keunggulan dalam ketekunan, konsentrasi panjang, dan kedalaman analisis yang mulai langka hari ini. Kecepatan sering mengorbankan kedalaman. Multitasking sering mengorbankan fokus. Informasi melimpah sering mengaburkan mana yang benar-benar penting.

Namun, kecepatan tanpa kedalaman bisa jadi rapuh. Sebaliknya, kedalaman tanpa adaptasi teknologi informasi bisa jadi usang. Masalahnya bukan di niat belajar, tapi di cara. Jadi bukan soal siapa lebih baik. Tapi siapa mau belajar dari siapa.

Karena pada akhirnya, dunia tetap butuh orang yang bukan hanya cepat mengakses informasi, tapi juga mampu berpikir jernih, mendalam, dan tidak mudah terseret arus.

Cara belajar memang urusan teknis. Tapi kualitas berpikir itu urusan prinsip.

Kita gak bisa mengatur zaman. Kita hanya bisa menjadi jembatan, menggabungkan kedalaman lama dengan kecepatan baru. Kita gak bisa mengatur zaman. Kita hanya bisa menyesuaikan diri tanpa kehilangan kualitas berpikir.

Kalau generasi lama bersikeras mempertahankan cara lama, mereka akan ditinggalkan. Kalau Gen-Z menolak belajar kedalaman, mereka akan kehilangan arah.

Masa depan bukan milik yang paling cepat atau paling lama, tapi milik yang paling adaptif tanpa kehilangan kedalaman.*** (Nurhayati)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Semarak Kemerdekaan, Warga Griya Serpong Adu Kekompakan di Masak Gesss Episode 324

26 Agustus 2026 - 17:22 WIB

Pemprov Jateng Antisipasi Banyak Warganya Yang Ingin Menggeruduk Gedung DPR RI

26 Agustus 2026 - 16:44 WIB

Haji Fikri Serap Aspirasi Warga Ciomas, Soroti Banjir, Longsor, dan Kerusakan Infrastruktur

26 Agustus 2026 - 15:03 WIB

Lomba Tahfiz Warnai Peringatan HUT RI dan Maulid Nabi di Sukadanau

26 Agustus 2026 - 12:52 WIB

Tionghoa Indonesia dan Buku: Merawat Jejak Sejarah, Sastra, dan Budaya

26 Agustus 2026 - 08:16 WIB

Idang Meulapeh Warnai Maulid Nabi di Jakarta, Tradisi Nagan yang Pernah Raih Rekor Dunia

25 Agustus 2026 - 19:18 WIB

Haji Fikri: Pengawasan Pemerintahan Adalah Kewajiban Wakil Rakyat, Pejabat Diminta Jangan Korupsi

25 Agustus 2026 - 18:58 WIB

FIFGROUP Perluas Manfaat Kampung Sehat melalui Sanitasi Layak dan Pencegahan Stunting

25 Agustus 2026 - 16:00 WIB

KPK Ungkap Fakta Baru Kasus Unsoed, Ali Rokhman Ditunjuk Jadi Plt Rektor

25 Agustus 2026 - 15:23 WIB

Menjaga Warisan Luhur: Peringatan Maulid Nabi Besar SAW di Masjid Istiqamah Desa Simpang Kelaping Sarat Adat dan Budaya

25 Agustus 2026 - 14:52 WIB

Trending di RAGAM