Menu ✖

Mode Gelap
IDSurvey Perkuat Pencegahan Stunting di Temanggung, dari Edukasi Keluarga hingga Pangan Bergizi KPLP Tanjung Priok Fokus Tangani KMP Batu Mandi dan Antisipasi Pencemaran Laut Hari Santri Nasional Diperingati Sederhana, SICE EO Acungi Jempol WCCE 2026 Hasilkan Jakarta Vision, Indonesia Bidik Masa Depan Ekonomi Kreatif Dunia KAI Services Latih Frontliner Tangani Kebakaran hingga Evakuasi Korban Dewan PKS Potong Gaji untuk Bantu Korban Karhutla, H. Fikri Hudi Oktiarwan Dukung Instruksi Presiden PKS

RAGAM

Tradisi Membaca, Memahami Kita – Memahami Gen-Z

badge-check


 Tradisi Membaca, Memahami Kita – Memahami Gen-Z Perbesar

Wartatrans.com —  Banyak dari generasi kita, para orang tua atau Baby Boomers, menghakimi Gen-Z sebagai malas membaca dan lemah literasi.

Gen-Z itu bukan malas membaca. Mereka hanya tidak membaca dengan cara kita. Mereka tidak anti membaca, mereka anti cara membaca yang tidak relevan dengan kecepatan zaman mereka. Bagi mereka, membaca bukan lagi duduk lama dengan satu buku, tapi menyerap informasi dari berbagai sumber secara simultan—artikel, video, thread, hingga AI.

Kita tumbuh dengan buku, mereka tumbuh dengan layar. Kita membaca perlahan, mereka menyerap cepat. Kita fokus satu sumber, mereka lompat antar banyak sumber. Kita membaca untuk memahami, mereka membaca untuk mengolah dan merespons cepat.

Generasi kita punya keunggulan dalam ketekunan, konsentrasi panjang, dan kedalaman analisis yang mulai langka hari ini. Kecepatan sering mengorbankan kedalaman. Multitasking sering mengorbankan fokus. Informasi melimpah sering mengaburkan mana yang benar-benar penting.

Namun, kecepatan tanpa kedalaman bisa jadi rapuh. Sebaliknya, kedalaman tanpa adaptasi teknologi informasi bisa jadi usang. Masalahnya bukan di niat belajar, tapi di cara. Jadi bukan soal siapa lebih baik. Tapi siapa mau belajar dari siapa.

Karena pada akhirnya, dunia tetap butuh orang yang bukan hanya cepat mengakses informasi, tapi juga mampu berpikir jernih, mendalam, dan tidak mudah terseret arus.

Cara belajar memang urusan teknis. Tapi kualitas berpikir itu urusan prinsip.

Kita gak bisa mengatur zaman. Kita hanya bisa menjadi jembatan, menggabungkan kedalaman lama dengan kecepatan baru. Kita gak bisa mengatur zaman. Kita hanya bisa menyesuaikan diri tanpa kehilangan kualitas berpikir.

Kalau generasi lama bersikeras mempertahankan cara lama, mereka akan ditinggalkan. Kalau Gen-Z menolak belajar kedalaman, mereka akan kehilangan arah.

Masa depan bukan milik yang paling cepat atau paling lama, tapi milik yang paling adaptif tanpa kehilangan kedalaman.*** (Nurhayati)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

IDSurvey Perkuat Pencegahan Stunting di Temanggung, dari Edukasi Keluarga hingga Pangan Bergizi

22 Oktober 2026 - 22:00 WIB

KPLP Tanjung Priok Fokus Tangani KMP Batu Mandi dan Antisipasi Pencemaran Laut

22 Oktober 2026 - 20:57 WIB

Hari Santri Nasional Diperingati Sederhana, SICE EO Acungi Jempol

22 Oktober 2026 - 20:51 WIB

KAI Services Latih Frontliner Tangani Kebakaran hingga Evakuasi Korban

22 Oktober 2026 - 19:28 WIB

Dewan PKS Potong Gaji untuk Bantu Korban Karhutla, H. Fikri Hudi Oktiarwan Dukung Instruksi Presiden PKS

22 Oktober 2026 - 19:00 WIB

MPU Aceh Tengah Dukung Pemekaran ALA, Karena Berorientasi pada Keadilan dan Kemaslahatan Umat

22 Oktober 2026 - 17:50 WIB

Ibu Sina dan Seni Menghadapi Ketidakpastian Hidup 

22 Oktober 2026 - 17:11 WIB

Wabup Bandung Dorong Serikat Pekerja dan Buruh Tingkatkan Negosiasi Soal Ketenagakerjaan 

22 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Resolusi Jihad Warnai Hari Santri TH 2026 Tingkat Kecamatan Caringin Garut 

22 Oktober 2026 - 13:47 WIB

Kemarau Masih Melanda Kabupaten Bogor, H. Fikri Hudi Oktiarwan Imbau Warga Waspadai Kebakaran Hutan, Lahan, dan Permukiman

22 Oktober 2026 - 13:44 WIB

Trending di RAGAM