Menu ✖

Mode Gelap
Kemenhub dan Kemenlu Fasilitasi Kepulangan 4 Awak Kapal Korban Pembajakan di Somalia Lima Tahun Bersatu, Terminal Teluk Lamong Terus Tumbuh dan Bertransformasi Bersama Pelindo B50 Jadi Program Utama KAI, Target Pangkas Emisi 133.676 Ton CO₂e Pelindo Regional 2 Dorong Generasi Muda Kenali Strategi dan Bisnis Kepelabuhanan Alhamdulillah, Biaya yang Ditanggung Jemaah Haji 2027 Turun Rp3,4 Juta Zulfikar Kirbi, Seni Harus Terus Mengalir, Jangan Sampai Berhenti

RAGAM

Omah Jangan Diam Terus, Resto di Depok yang Menyajikan Kelezatan, Perjalanan, dan Nilai Kemanusiaan

badge-check


 Omah Jangan Diam Terus, Resto di Depok yang Menyajikan Kelezatan, Perjalanan, dan Nilai Kemanusiaan Perbesar

Wartatrans.com, DEPOK – Di tengah menjamurnya restoran dengan konsep kekinian, ada satu tempat di Depok yang menawarkan pengalaman berbeda. Namanya Omah Jangan Diam Terus, sebuah rumah makan yang tidak hanya menyuguhkan hidangan bercita rasa khas Nusantara, tetapi juga mengusung semangat kemanusiaan, perjalanan, dan gotong royong.

Sekilas, suasana restoran ini menghadirkan perpaduan harmonis antara alam dan interaksi manusia. Ruang-ruang yang hangat, pepohonan rindang, serta konsep terbuka membuat pengunjung merasa seperti berada di rumah sendiri.

Di balik konsep unik tersebut, ternyata Omah Jangan Diam Terus bukan didirikan oleh komunitas seniman, melainkan oleh sekelompok pesepeda dan backpacker yang gemar menjelajahi berbagai daerah, bahkan hingga mancanegara.

Salah satu penggagasnya, Rifai, mendapat inspirasi setelah melakukan perjalanan sebagai backpacker ke India sekitar tujuh tahun silam. Selama berbulan-bulan menjelajah negeri tersebut, ia merasakan begitu banyak kebaikan dari orang-orang yang ditemuinya.

Sepulang ke Indonesia, Rifai merasa memiliki “utang kebaikan” yang harus dibayarkan kepada sesama. Dari pemikiran itulah lahir sebuah rumah singgah yang terbuka bagi para pejalan yang sedang mengalami kesulitan.

Seiring waktu, rumah singgah itu berkembang menjadi sebuah rumah makan yang bukan sekadar tempat mencari nafkah, tetapi juga menjadi ruang belajar, berbagi, dan bertumbuh bersama.

“Awalnya memang dari rumah singgah. Kini tempat ini berkembang karena konsep kemanusiaannya. Orang datang bukan hanya untuk makan, tetapi juga berdiskusi, belajar hidup, dan membangun kebersamaan. Kami bergotong royong memasak, meracik kopi, hingga menggelar berbagai kegiatan,” ujar Umam, penanggung jawab Food & Beverage Omah Jangan Diam Terus.

Selain bergerak di bidang kuliner, komunitas ini juga rutin mengadakan touring dan perjalanan ke berbagai daerah. Setiap perjalanan dimanfaatkan untuk mempelajari budaya, tradisi, serta kuliner lokal.

Karena itu, menu yang disajikan di Omah Jangan Diam Terus selalu berganti setiap bulan, mengikuti daerah yang baru mereka kunjungi. Namun satu hal yang tetap dipertahankan adalah teknik memasak menggunakan tungku kayu atau perapian tradisional yang menghasilkan aroma khas pada setiap hidangan.

Tidak hanya makanannya yang menarik perhatian, buku menu restoran ini pun dibuat berbeda. Alih-alih menggunakan lembar menu biasa, daftar hidangan dijilid menyerupai sebuah buku tipis dengan desain artistik yang memperkuat identitas tempat tersebut.

Salah satu menu yang menjadi favorit adalah Coto Makassar. Hidangan ini mendapat apresiasi tinggi dari para pengunjung.

“Ini Coto terenak yang kurasakan sejak semalam aku hidup 16 tahun lalu,” ujar Nesia, salah seorang pengunjung muda, sambil tersenyum.

Penilaian itu diamini oleh orang-orang yang mencicipinya. Perpaduan kuah yang kaya rempah, daging yang empuk, serta aroma asap dari tungku tradisional menjadikan cita rasa Coto Makassar di Omah Jangan Diam Terus memiliki karakter yang sulit dilupakan.

Lebih dari sekadar restoran, Omah Jangan Diam Terus menghadirkan sebuah pengalaman tentang bagaimana perjalanan, kepedulian, dan semangat berbagi dapat diwujudkan melalui makanan. Di tempat ini, setiap hidangan bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi juga membawa cerita tentang kemanusiaan dan persaudaraan.*** (Shantined)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Lima Tahun Bersatu, Terminal Teluk Lamong Terus Tumbuh dan Bertransformasi Bersama Pelindo

7 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pelindo Regional 2 Dorong Generasi Muda Kenali Strategi dan Bisnis Kepelabuhanan

7 Oktober 2026 - 19:42 WIB

Alhamdulillah, Biaya yang Ditanggung Jemaah Haji 2027 Turun Rp3,4 Juta

7 Oktober 2026 - 18:49 WIB

Pelindo Mengajar, Ajak Siswa SMKN 1 Mempawah Mengenal Dunia Kepelabuhanan

7 Oktober 2026 - 18:32 WIB

Perempuan Aceh Bicara di Jakarta, Rumuskan Peta Jalan Kepemimpinan Perempuan Aceh 2045

7 Oktober 2026 - 18:20 WIB

Apa yang Dibahas Jokowi Saat Sambangi Prabowo di Kertanegara Jelang MK Putus Perkara Gibran?

7 Oktober 2026 - 17:17 WIB

Usai Putusan MK, Wakil Ketua DPRD Sukabumi Turunkan Foto Gibran dari Ruang Kerjanya

7 Oktober 2026 - 16:58 WIB

MK Tak Temukan Bukti Ijazah Setara SLTA Gibran, Buku Rismon Kembali Disorot

7 Oktober 2026 - 16:28 WIB

Bengkel Kreatif Aceh Multi Vision, 15 Tahun Mengembangkan Karya dan Ekonomi Kreatif Aceh

7 Oktober 2026 - 14:11 WIB

Pengurus APPSI Aceh Tengah Periode 2025–2030 Siap Dilantik

7 Oktober 2026 - 13:46 WIB

Trending di RAGAM