Menu

Mode Gelap
Dirut PTPN I: Transformasi Harus Lebih Progresif! Nobar Perempatfinal Hingga Final Piala Dunia 2026 Dihadirkan InJourney Airports di 7 Bandara Kemenhub Sabet Penghargaan Indonesia Public Sector Initiative of the Year Transportation Indonesia Dorong Penguatan Konektivitas Udara ASEAN–China  Febrie Setelah Digeledah Tegaskan Tidak Mundur, Penanganan Kasus Asabri hingga MBG Tetap Berjalan Ahli Waris Kapitan Pattimura Dorong Rumah Pahlawan Nasional Dijadikan Museum

RAGAM

Omah Jangan Diam Terus, Resto di Depok yang Menyajikan Kelezatan, Perjalanan, dan Nilai Kemanusiaan

badge-check


 Omah Jangan Diam Terus, Resto di Depok yang Menyajikan Kelezatan, Perjalanan, dan Nilai Kemanusiaan Perbesar

Wartatrans.com, DEPOK – Di tengah menjamurnya restoran dengan konsep kekinian, ada satu tempat di Depok yang menawarkan pengalaman berbeda. Namanya Omah Jangan Diam Terus, sebuah rumah makan yang tidak hanya menyuguhkan hidangan bercita rasa khas Nusantara, tetapi juga mengusung semangat kemanusiaan, perjalanan, dan gotong royong.

Sekilas, suasana restoran ini menghadirkan perpaduan harmonis antara alam dan interaksi manusia. Ruang-ruang yang hangat, pepohonan rindang, serta konsep terbuka membuat pengunjung merasa seperti berada di rumah sendiri.

Di balik konsep unik tersebut, ternyata Omah Jangan Diam Terus bukan didirikan oleh komunitas seniman, melainkan oleh sekelompok pesepeda dan backpacker yang gemar menjelajahi berbagai daerah, bahkan hingga mancanegara.

Salah satu penggagasnya, Rifai, mendapat inspirasi setelah melakukan perjalanan sebagai backpacker ke India sekitar tujuh tahun silam. Selama berbulan-bulan menjelajah negeri tersebut, ia merasakan begitu banyak kebaikan dari orang-orang yang ditemuinya.

Sepulang ke Indonesia, Rifai merasa memiliki “utang kebaikan” yang harus dibayarkan kepada sesama. Dari pemikiran itulah lahir sebuah rumah singgah yang terbuka bagi para pejalan yang sedang mengalami kesulitan.

Seiring waktu, rumah singgah itu berkembang menjadi sebuah rumah makan yang bukan sekadar tempat mencari nafkah, tetapi juga menjadi ruang belajar, berbagi, dan bertumbuh bersama.

“Awalnya memang dari rumah singgah. Kini tempat ini berkembang karena konsep kemanusiaannya. Orang datang bukan hanya untuk makan, tetapi juga berdiskusi, belajar hidup, dan membangun kebersamaan. Kami bergotong royong memasak, meracik kopi, hingga menggelar berbagai kegiatan,” ujar Umam, penanggung jawab Food & Beverage Omah Jangan Diam Terus.

Selain bergerak di bidang kuliner, komunitas ini juga rutin mengadakan touring dan perjalanan ke berbagai daerah. Setiap perjalanan dimanfaatkan untuk mempelajari budaya, tradisi, serta kuliner lokal.

Karena itu, menu yang disajikan di Omah Jangan Diam Terus selalu berganti setiap bulan, mengikuti daerah yang baru mereka kunjungi. Namun satu hal yang tetap dipertahankan adalah teknik memasak menggunakan tungku kayu atau perapian tradisional yang menghasilkan aroma khas pada setiap hidangan.

Tidak hanya makanannya yang menarik perhatian, buku menu restoran ini pun dibuat berbeda. Alih-alih menggunakan lembar menu biasa, daftar hidangan dijilid menyerupai sebuah buku tipis dengan desain artistik yang memperkuat identitas tempat tersebut.

Salah satu menu yang menjadi favorit adalah Coto Makassar. Hidangan ini mendapat apresiasi tinggi dari para pengunjung.

“Ini Coto terenak yang kurasakan sejak semalam aku hidup 16 tahun lalu,” ujar Nesia, salah seorang pengunjung muda, sambil tersenyum.

Penilaian itu diamini oleh orang-orang yang mencicipinya. Perpaduan kuah yang kaya rempah, daging yang empuk, serta aroma asap dari tungku tradisional menjadikan cita rasa Coto Makassar di Omah Jangan Diam Terus memiliki karakter yang sulit dilupakan.

Lebih dari sekadar restoran, Omah Jangan Diam Terus menghadirkan sebuah pengalaman tentang bagaimana perjalanan, kepedulian, dan semangat berbagi dapat diwujudkan melalui makanan. Di tempat ini, setiap hidangan bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi juga membawa cerita tentang kemanusiaan dan persaudaraan.*** (Shantined)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Nobar Perempatfinal Hingga Final Piala Dunia 2026 Dihadirkan InJourney Airports di 7 Bandara

10 Juli 2026 - 18:55 WIB

Pelita Air Hadirkan Senandung Musikal Maliq & D’Essentials di Penerbangan

10 Juli 2026 - 15:42 WIB

Anggota DPR RI Fraksi NasDem Rachmat Gobel Meninggal Dunia di Usia 63 Tahun

10 Juli 2026 - 09:27 WIB

Sengkarut 4 Blok Lahan Kosong Negara di Kemayoran: Ketegasan Negara Menghilang?

10 Juli 2026 - 09:11 WIB

Pasar K-Culture Melejit, Destinasi Baru Incar Cuan di Jakarta

10 Juli 2026 - 04:10 WIB

Sabet Penghargaan, Model 3R mGanik Jadi Terobosan Kebuntuan Diabetes Tipe 2

10 Juli 2026 - 04:05 WIB

TEMUAN BPK: Defisit Keuangan Membengkak, Transparansi Perjalanan Dinas Pemko Subulussalam Dipertanyakan

10 Juli 2026 - 03:56 WIB

Tindak Lanjut MoU, Tani Merdeka Indonesia Aceh Tengah dan PT Bio Energy Rimba Perkuat Pendampingan Petani

10 Juli 2026 - 03:44 WIB

Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis dan Salurkan 235 Paket Sembako bagi Masyarakat Kecamatan Koja

9 Juli 2026 - 20:30 WIB

KKP Lepasliarkan 21 Penyu Hijau Hasil Gagalkan Penyelundupan ke Perairan Bali

9 Juli 2026 - 16:27 WIB

Trending di RAGAM