Wartatrans.com, ACEH TENGAH – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Tani Merdeka Indonesia (TMI) Kabupaten Aceh Tengah bersama PT Bio Energy Rimba menindaklanjuti nota kesepahaman (MoU) melalui program pendampingan dan optimalisasi sektor pertanian bagi kelompok tani di wilayah tersebut.
Program tersebut diawali dengan pengembangan demplot optimalisasi lahan persawahan seluas 60 hektare di Kampung Mude Nosar. Demplot ini diharapkan menjadi salah satu penopang ketahanan pangan masyarakat, khususnya bagi warga yang kehilangan sumber mata pencaharian akibat musibah yang terjadi pada 10 Januari 2026. Program tersebut sebelumnya diserahkan oleh Penasehat DPD TMI Aceh Tengah, Zulkifli Hasanuddin (Zul Eka).

Sebagai tindak lanjut kerja sama, Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Aceh, Cut Muhammad, bersama Owner PT Bio Energy Rimba, Ridwan, didampingi Ketua Harian TMI Sumatera Utara, Misbah, menggelar pertemuan dengan kelompok tani binaan TMI Aceh Tengah di Puja Sera pada 9 Juli 2026.
Dalam kesempatan itu, Ridwan mendorong para petani di Tanoh Gayo untuk mengembangkan berbagai komoditas unggulan seperti kopi, padi, palawija, hortikultura, kakao, jeruk, hingga tanaman porang yang dinilai memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan.
Menurutnya, PT Bio Energy Rimba siap mendukung peningkatan produktivitas pertanian melalui penyediaan pupuk organik cair yang berfungsi memperbaiki unsur hara tanah sehingga mampu meningkatkan hasil berbagai jenis tanaman.
“Selain meningkatkan kesuburan tanah, penggunaan pupuk organik cair diharapkan dapat meningkatkan produktivitas kopi, padi, kakao, jeruk, palawija, hingga porang, sehingga pendapatan petani binaan Tani Merdeka Indonesia di Aceh Tengah dapat meningkat,” ujar Ridwan.
Pada kegiatan tersebut, Ketua DPD TMI Aceh Tengah, Eka Syahputra, bersama Ketua DPW TMI Aceh, Cut Muhammad, dan Ketua Harian TMI Sumatera Utara, Misbah, juga menyerahkan simulasi penggunaan pupuk organik cair kepada perwakilan Kelompok Tani Asia Bersatu yang turut dihadiri kelompok tani lainnya.
Misbah menjelaskan tata cara aplikasi pupuk organik cair sesuai umur tanaman. Untuk lahan yang baru diolah, pupuk cair sebanyak 4 liter dicampur dengan 12 liter air dan diaplikasikan setelah 14 hari. Sementara tanaman berumur satu bulan menggunakan 1 liter pupuk yang dicampur 15 liter air.
Untuk tanaman kopi, dosis disesuaikan dengan umur tanaman. Kopi berumur satu tahun menggunakan 1 liter pupuk dengan 15 liter air, sedangkan kopi berumur dua tahun menggunakan 2 liter pupuk yang dicampur 14 liter air dan diaplikasikan setiap enam bulan sekali. Untuk kopi berumur tiga tahun, digunakan 4 liter pupuk yang dicampur 12 liter air setiap enam bulan.
Menurut Misbah, penggunaan pupuk organik cair tidak hanya menghemat biaya pemupukan dan mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, tetapi juga membantu mengembalikan kesuburan tanah.
“Tanah yang selama ini banyak terpapar bahan kimia perlu dipulihkan kembali. Dengan aplikasi pupuk organik cair, dalam waktu sekitar 15 hari akan mulai muncul mikroorganisme dan cacing tanah sebagai indikator tanah kembali sehat,” jelasnya.
PT Bio Energy Rimba bersama Tani Merdeka Indonesia berharap para petani dapat menerapkan teknik pemupukan sesuai dosis dan waktu yang dianjurkan agar hasil panen lebih maksimal.
Ketua DPD TMI Aceh Tengah, Eka Syahputra, menegaskan pihaknya akan terus memberikan pendampingan kepada seluruh kelompok tani binaan agar mampu bersinergi dalam mengembangkan lahan pertanian secara mandiri.
“Program ini diharapkan menjadi penguat ketahanan pangan sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan dan sumber penghidupan masyarakat melalui sektor pertanian yang berkelanjutan,” tutup Eka Syahputra.*** (Jasa)


























