Wartatrans.com, BIREUEN — Di sudut Desa Tanjong Beuridi, Kecamatan , peusangan selatan. sosok Zhiya Ulhaq dikenal sebagai pedagang ikan biasa. Namun bagi anak-anak yatim piatu dan para lansia dhuafa, ia adalah perantara rezeki dari Allah.
Semua bermula dari siaran langsung di TikTok. Saat sedang live, banyak warganet meminta bantuannya untuk mengantarkan ikan kepada anak-anak yatim.

Dari situlah Zhiya membuat pengumuman di akun TikTok miliknya, bohmanok.85, bahwa ia siap menerima titipan sedekah ikan untuk diantarkan kepada anak-anak yatim di daerah yang mampu ia jangkau.
Zhiya mengaku tergerak setelah melihat ketimpangan hidup yang begitu nyata. Anak-anak yang masih memiliki orang tua dapat bermimpi memiliki sepeda, baju baru, mainan, bahkan telepon genggam mahal.
Sementara sebagian anak yatim, untuk sekadar makan pun masih kesulitan.
“Dari situlah hati saya tergerak,” ungkapnya.
Sejak tiga tahun lalu, Zhiya mulai membuat konten sederhana di TikTok dan media sosial lainnya dengan bahasa Aceh yang kental. Tanpa kemampuan editing profesional dan tanpa peralatan mahal, ia hanya bermodal niat tulus.
Perlahan, kepercayaan masyarakat tumbuh. Hampir setiap hari ada saja donatur yang menitipkan sedekah. Bantuan itu disalurkan dalam bentuk ikan untuk anak-anak yatim. Tak hanya itu, beberapa dermawan juga menitipkan bantuan renovasi rumah hingga ke luar kabupaten.
Zhiya kerap menjual ikan dengan harga murah kepada donatur, lalu ikan tersebut kembali disedekahkan kepada anak yatim yang ditunjuk oleh konsumen.
Dalam prosesnya, ia tak jarang harus menempuh perjalanan ke pelosok kampung, melewati jalan setapak bahkan kawasan hutan, demi memastikan bantuan tepat sasaran.
Kini, sedekah yang disalurkan tak hanya berupa ikan. Bantuan nasi untuk dayah-dayah serta santunan bagi lansia jompo juga turut mengalir berkat dukungan para dermawan.
Zhiya menegaskan seluruh aktivitas sosialnya dilakukan tanpa mengambil ongkos antar atau keuntungan tambahan.
“Saya hanya menjalankan amanah dari hamba Allah yang menitipkan rezekinya,” ujarnya.
Motivasinya sederhana: anak-anak yatim tidak lagi memiliki orang tua. Ia ingin mereka tetap merasakan kasih sayang dan perhatian agar tidak merasa sendirian.
Gerakan ini pun mendapat sambutan positif dari masyarakat. Warga merasa terbantu, terutama anak-anak yang kini bisa menikmati makanan layak dan perhatian yang tulus.
Di akhir perbincangan, Zhiya menyampaikan pesan sederhana:
“Kalau mau menjadi agen rezeki Allah itu mudah. Kalau tidak bisa menyumbang harta, sumbanglah tenaga. Kalau tidak bisa tenaga, sumbanglah pikiran. Sumbanglah apa yang kamu bisa.”
Baginya, bukan soal besar kecilnya yang diberikan, melainkan tentang hati yang peduli.




















