Wartatrans.com, SEMARANG —Percayakah bahwa sebelum menjadi urat nadi mobilitas transportasi di Indonesia, kereta api bermula dari sepotong rel yang ditanam pada 17 Juni 1864 di daerah Kemijen Semarang?
Tiga tahun kemudian, tepatnya 10 Agustus 1867 kereta api komersial pertama melaju dari Semarang menuju Tanggung. Dari jalur sepanjang 25 kilometer inilah jaringan perkeretaapian Indonesia berkembang ke berbagai penjuru Jawa dan Nusantara.

Jejak sejarah tersebut kembali dibacakan dalam Peringatan 159 Tahun Kereta Api Indonesia yang diadakan di Rumah Pohan Exhibition & Creative Space Semarang, Minggu (30/08/2026). Giat yang diselenggarakan Alliance Française Semarang, Rumah Pohan, dan IRPS Wilayah Semarang ini akan berlangsung hingga tanggal 7 September 2026.

Acara berupa pameran foto, pemutaran video dokumentasi kereta api tempo dulu, serta diskusi bersama Sejarawan senior Tjahjono Rahardjo dan Ratri Septina Saraswati. Semuanya membuka kembali sejarah kereta api di Indonesia utamanya Semarang secara lebih kompleks.
Ratri Septina dalam sesi pertama pemaparan mengajak publik melihat sebuah stasiun sebagai dokumen tiga dimensi serta tempat teknologi, arsitektur, ekonomi, dan tata ruang. Menurutnya, bangunan ini telah merekam dengan baik berbagai perubahan sosial.
Di bagian lain, Tjahjono mengingatkan lahirnya kereta api tidak terlepas dari kepentingan ekonomi kolonial. Rel dibangun untuk mempercepat arus komoditas dari pedalaman menuju pelabuhan, sekaligus mendukung kepentingan industri, militer, dan penguasaan wilayah.

“Yang pasti, di balik semua narasi kemajuan selalu ada sejarah eksploitasi. Asal tahu, dulu jalur kereta dibangun untuk kepentingan kolonial. Pada masa pendudukan Jepang, pembangunan rel KA dilakukan secara kerja paksa romusha dan dengan tenaga tawanan perang Sekutu. Ini menelan banyak korban jiwa tapi menguntungkan koloni,” ujar Tjahjono.
Dalam event ini, semua nara sumber dan yang hadir sepakat bahwa sejarah kereta api bukan hanya sejarah teknologi dan transportasi. Ia juga merupakan sejarah kolonialisme, perdagangan, industrialisasi, mobilitas manusia, eksploitasi, perang, dan perubahan sosial.*** (Aditiya Widodo Putra)


























