Wartatrans.com, JAKARTA — Selah tiga tahun meninggalkan layar kaca, Baim Wong kembali tampil di televisi. Aktor yang pernah lama identik dengan sinetron SCTV itu kini hadir sebagai pembawa acara kuis Tiba-Tiba Kuis, salah satu program Ramadan SCTV.
Dalam beberapa tahun terakhir, Baim lebih banyak berkarya di industri film layar lebar sebagai sutradara dan produser. Sejumlah film garapannya mendapat respons positif dan memperkuat posisinya di dunia perfilman nasional. Namun kerinduan terhadap atmosfer televisi akhirnya membuatnya menerima tawaran comeback.

“Kangen juga dengan suasana syuting televisi. Tiga tahun meninggalkan hiruk-pikuk dan gebyarnya industri TV. Tiba-tiba SCTV menghubungi, ya sudah aku sambut. Kalau bukan SCTV, belum tentu mau,” kata Baim Wong saat jumpa pers program Ramadan Penuh Cinta SCTV di SCTV Tower, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis, 29 Januari 2026.
Baim mengatakan ketertarikannya pada Tiba-Tiba Kuis terletak pada konsep acara yang sederhana namun berdampak langsung bagi peserta. Pertanyaan yang diajukan tergolong ringan dan mudah dijawab.
“Kenapa langit biru? Kenapa mata kita dua? Semua orang bisa jawab,” ujarnya.
Meski terkesan ringan, tim produksi menyeleksi peserta berdasarkan kondisi kehidupan mereka. Cerita-cerita hidup yang dihadirkan justru menjadi kekuatan utama acara tersebut.
Pengalaman paling membekas bagi Baim terjadi saat syuting di kawasan Bantar Gebang. Ia mengaku tak kuasa menahan emosi ketika mengetahui salah satu peserta terbiasa mengonsumsi makanan sisa dari tempat pembuangan sampah.
“Itu digoreng lagi dan dimakan. Di situ kita sering nangis, sering terpukul,” katanya.
Peserta tersebut akhirnya memperoleh hadiah uang tunai antara Rp 10 juta hingga Rp 20 juta. Bagi Baim, nilai tersebut mungkin tak besar bagi sebagian orang, namun sangat berarti bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Menurut Baim, Tiba-Tiba Kuis bukan sekadar acara hiburan, melainkan juga potret ketimpangan sosial yang masih nyata. Di saat sebagian orang membuang makanan, sebagian lainnya harus bertahan hidup dari sisa-sisa yang terbuang.*** (Buyil)





























