Wartatrans.com SEMARANG — Sabtu (21/2/2026) hampir semua media cetak lokal memuat keberhasilan Agustina Wilujeng Pramestuti menjabat Walikota Semarang. Tidak tanggung-tanggung, sebanyak empat halaman full diisi tulisan dan foto yang menunjukkan kesuksesan kerjanya selama satu tahun pertama.
Disebutkan bahwa semua janji kampanye pilkada 2024 telah direalisasi. Mulai dari bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, sampai layanan sosial. Ini menjadikan Semarang bersih, sehat, cerdas, makmur, serta tangguh.

Bahkan secara bombastis ditulis bahwa Agustina selaku Walikota dan Iswar Aminudin Wakilnya berperan sebagai poros penggerak yang menyelaraskan seluruh instrumen pemerintah.
Sayangnya “berita” ini bisa disebut anomali saat masyarakat menanggapi berdasar realita yang terjadi dan dialami.
Awal tahun 2026 seluruh pompa penghalau banjir Semarang diganti dari yang berbahan bakar solar menjadi pompa listrik. Lebih senyap, cepat, dan diklaim lebih efisien tapi nyatanya Semarang masih tetap banjir.
“Jangankan saat hujan, saat cuaca panas saja perumahan kami juga banjir,” protes Agus Eko Santoso warga Sayung. Banjir harian menyebabkan banyak lubang di hampir semua jalan raya Ibukota Jawa Tengah.
Lubang lain – bahkan sudah masuk kategori kosong – adalah masih tidak adanya 8 Kepala OPD, 55 Lurah, serta puluhan Kepala Sekolah termasuk Guru Mapel. Ini jelas sangat menghambat jalannya roda kehidupan orang banyak di berbagai aspek.
Tambah runyamnya, masyarakat curiga setelah sebelumnya yang diangkat jadi pejabat teras adalah orang dekat Buwalkot yang notabene timsesnya saat Pilkada. Sebuah akun bernama Dinas Kegelapan bahkan menuding ada “makelar jabatan”.
Dibidang kesehatan juga ada lubang luka yang menganga. Di masa pemerintahan Agustina, sebanyak 98.545 warga Semarang dinonaktifkan kepesertaan BPJS Kesehatannya.
Program populer pemberian dana operasional tahunan Rp.25 juta setiap RT/RW pun menjadi lubang jebakan Batman. Ada banyak RT menolak menerimanya karena Laporan Pertanggung Jawaban yang ribet dan rentan menjadi kasus. Bahkan saking takutnya, banyak terjadi Ketua RT mundur.
“Satu tahun ke depan saya mengharap Agustina selaku Walikota bisa menutup lubang yang terjadi di Semarang. Jangan gali lubang tutup lubang. Sebagai warga, saya tunggu kabar yang nyata sesuai fakta baik yang lewat media cetak atau online,” demikian harapan Agus seorang pensiunan ASN.*** (Slamet Widodo)


























