Menu

Mode Gelap
Bergerak Bersama, KMP Ile Labalekan ASDP Turut Antarkan Bantuan untuk Pulihkan NTT Penyair LK Ara dan Salman Yoga Baca Puisi di Hari Didong Perayaan Hari Didong Di Musara Gayo Jabodetabek Meriah, Silvia Kim dari Korea Selatan Ikut Berdidong Haji Fikri Ajak Masyarakat Jawa Barat Merenungi Makna Kemerdekaan ke-81, Dari Seremoni Menuju Pengabdian Nyata Puluhan Relawan Airnav Indonesia, Taspen, dan Jasindo Mengabdi di Boyolali Kereta Merdeka KAI Semarakkan HUT ke-81 RI, Ada Lomba hingga Upgrade Kelas Gratis

RAGAM

Lampu Penerang dari Reubee Telah Padam, Cahayanya Abadi di Hati Umat

badge-check


 Lampu Penerang dari Reubee Telah Padam, Cahayanya Abadi di Hati Umat Perbesar

Wartatrans.com, ACEH TENGAH — Langit Aceh seakan redup di awal Ramadhan 1447 H. Di saat umat menyambut bulan suci dengan harap dan doa, Allah SWT memanggil pulang salah satu hamba terbaik-Nya, ulama kharismatik dari Reubee, Abu Bukhari bin Sanusi.

Berita wafatnya Abu Cek Reubee menyebar cepat. Dari rumah ke rumah, dari warung ke meunasah, dari Delima hingga pelosok Pidie. Ratusan masyarakat bergegas menuju rumah duka. Sebagian langsung menuju RSU Sigli, tak percaya bahwa sosok yang selama ini menjadi tempat bertanya dan meminta nasihat itu kini telah tiada.

Abu bukan sekadar ulama. Beliau adalah pelita.

Pelita yang menerangi persoalan faraidh ketika masyarakat bingung dalam pembagian warisan.Pelita yang menenangkan hati saat terjadi perselisihan.

Pelita yang tidak pernah meninggikan suara, namun ilmunya meninggikan derajatnya.

Sejak kecil beliau telah ditempa dalam kemandirian. Menimba ilmu di Dayah Lampoh Pande Reubee, lalu melanjutkan ke Dayah MUDI MESRA, di bawah bimbingan ulama besar Aceh seperti Abon Aziz Samalanga.

Di sana, beliau dikenal bukan hanya karena kecerdasannya, tetapi karena adabnya. Takzimnya kepada guru membuatnya istimewa di mata para masyayikh.

Beliau terdepan saat gotong royong membangun dayah. Tangannya ikut mengangkat kayu, keringatnya jatuh demi tegaknya ilmu. Ilmu yang kini terus mengalir menjadi amal jariyah.

Puluhan tahun beliau mengabdi untuk umat. Mengajarkan faraidh, membimbing masyarakat, dan menjadi peneduh di tengah persoalan. Tanpa pamrih. Tanpa mencari pujian.

Dan Allah memilih 1 Ramadhan sebagai waktu kepulangannya.

Betapa indah waktu yang Allah pilih untuk seorang hamba yang hidupnya dihabiskan untuk agama.
Aceh kehilangan satu cahaya.

Pidie kehilangan satu guru.
Reubee kehilangan satu ayah bagi umat.

Namun sungguh, ulama tidak pernah benar-benar pergi.

Ilmunya hidup.
Doanya hidup.
Didikannya hidup dalam santri dan masyarakat.
Semoga Allah melapangkan kubur beliau, menjadikannya taman dari taman-taman surga, mengampuni segala khilafnya, dan mengumpulkannya bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.
Al-Fatihah untuk Abu Cek Reubee. (Kamaruzzaman)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Perayaan Hari Didong Di Musara Gayo Jabodetabek Meriah, Silvia Kim dari Korea Selatan Ikut Berdidong

16 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Haji Fikri Ajak Masyarakat Jawa Barat Merenungi Makna Kemerdekaan ke-81, Dari Seremoni Menuju Pengabdian Nyata

16 Agustus 2026 - 15:58 WIB

Laznas ASAR Humanity Bergerak Tanggap Bencana Bersama Relawan KSATRIA di NTT

16 Agustus 2026 - 14:41 WIB

Penanganan Bencana Lambat, Hasil Bumi Dikeruk, Tapi Butir MoU Tidak Pernah Diselesaikan Pemerintah Pusat. Aceh Sudah Muak!

16 Agustus 2026 - 14:34 WIB

Semarang Terancam Rob Permanen, Tanahnya Amblas 12 Sentimeter Pertahun

16 Agustus 2026 - 14:18 WIB

Delegasi Rimba Raya Kecam Keras Insiden Pelecehan Budaya Aceh di Panggung Jamnas: “Jangan Lupakan Sejarah Aceh”

16 Agustus 2026 - 13:33 WIB

Budaya Aceh Dilecehkan di Jamnas Pramuka 2026: Lampu Panggung Dimatikan Saat Penampilan

16 Agustus 2026 - 13:00 WIB

Gempa M6,4 Simalungun Terasa hingga Aceh Tengah, Warga Berhamburan Keluar Rumah

15 Agustus 2026 - 19:41 WIB

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Pamer Keberhasilannya

15 Agustus 2026 - 17:51 WIB

Fiskal Pemkot Semarang Terpuruk, Tidak Melakukan Efisiensi Tapi Rasionalisasi

15 Agustus 2026 - 17:47 WIB

Trending di RAGAM