Wartatrans.com, SEMARANG — Jumat (14/8/2026), Sekretaris Pemkot Semarang Handi Priyanto mengatakan fiskal Pemerintahan Kota Semarang tengah terpuruk, Proyeksi pendapatan daerah yang dipasang pada APBD 2026 tidak seperti yang diharapkan. Akibatnya sekitar 300 miliar anggaran belanja harus dirasionalisasi. “ini dilakukan karena tren perolehan retribusi masih kecil. Semua di bawah 50 persen bahkan ada yang tidak sampai 20 persen,” katanya.
Lebih lanjut Handi menjelaskan bahwa belanja yang dipangkas atau ditunda meliputi perjalanan dinas, konsumsi, alat tulis kantor, serta sejumlah pengadaan barang. Pemkot juga menghentikan sementara sejumlah kegiatan yang belum masuk lelang.

Kebijakan rasionalisasi mendapat tanggapan kritis dari banyak masyarakat. Salah satunya adalah Hapsoro Hadinoto, seorang pengamat kebijakan publik. “Tanpa pembangunan di segala bidang secara baik dan benar, serta Walikotanya selalu saja melakukan kebijakan populis berbau politik, maka Semarang akan jalan di tempat,” demikian intisari Hapsoro.
Pada bagian sama, Hapsoro salut dengan terus terangnya Sekda Handi yang mengatakan di media bahwa rasionalisasi yang dilakukan bukanlah efisiensi. Bukti nyata terlihat pada Juli 2026 dimana Pemkot Semarang mengalokasikan uang 270 miliar dari APBD murni untuk program Bantuan Operasional Penyelenggaraan Rukun Tetangga (BOP RT).
Hingga Agustus 2026 dana yang telah dikeluarkan mencapai 257,4 miliar. BOP RT adalah janji dana yang diberikan Agustina Wilujeng jika dirinya jadi Walikota pada Pilkada Semarang 2024. Besarnya adalah Rp. 25 juta per RT setiap tahun. Alokasi utamanya untuk pembangunan wilayah lokal.
“Saya blusukan dan cek fisik ke beberapa daerah penerima manfaat ternyata kebanyakan dana BOP habis untuk makan minum dan door prize 17 an. Di daerah Kelurahan Gayamsari tepatnya jalan Majapahit ada gapura yang catnya masih saja kumal dari empat tahun lalu. Padahal semua RT di wilayah sekitar mengajukan proposal skema pembangunan dan cair,” kata Haps panggilan akrabnya.
Wong asli kota lumpia ini punya bukti lain tidak efisiennya anggaran yang dikeluarkan Pemkot Semarang. Di Kaligawe, samping Pasar Waru ada got yang tersumbat hingga timbul bau busuk. Dari saat banjir besar 2025 hingga hari kemerdekaan yang ke 81 Indonesia, penyumbatnya belum dibersihkan. Diprediksinya bahwa daerah ini akan banjir lagi saat musim hujan tiba. Meskipun disekitar telah ada pompa air yang anggarannya puluhan miliar.*** (Slamet Widodo)


























