Menu

Mode Gelap
Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Ditersangkakan, Dugaan Korupsi Asabri hingga PLN KKP Tambah 10 Kapal Pengawas dan Perluas Dermaga Batam untuk Berantas Illegal Fishing di Natuna Lewat Program TJSL, KAI Salurkan Beasiswa Rp300 Juta untuk Lima Anak Korban Kecelakaan KA di Bekasi Timur Lima KA Berrelasi Terpanjang di Sumatra Catat Kenaikan Penumpang pada Semester I 2026 Gedung GOS Resmi Berubah Fungsi Menjadi Taman Budaya Negeri Gayo Bima Alfath Perkenalkan Single “Cinta Tak Bernyawa”, Siap Tampil Perdana di Panggung NEW CELEBRITY

RAGAM

Belajar Ikhlas dari Heru, Sang Pengemudi Mobil Elf yang Pernah Miliki 150 Hektar Tanah

badge-check


 Irwan Hernanda Perbesar

Irwan Hernanda

Wartatrans.com, DEPOK – Rejeki sudah ada yang mengatur, yakni Alllah SWT. Tak perlu dirisaukan dan dipertanyakan, karena datangnya tak pernah salah alamat.

Seperti pengalaman Heru, sang pengemudi mobil Elf (sejenis mobil minibus), asal Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Kisah ini berawal dari cerita Irwan Hernanda, alumni Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo tahun 1989.

“Sudah puluhan tahun kami tak saling bertemu. Waktu berjalan tanpa pernah menengok ke belakang. Namun pagi itu, aku menjejakkan kaki di Stasiun Tegal dengan perasaan campur aduk – senang, rindu, juga canggung. Dan dari jauh, saya melihat seseorang melambaikan tangan sambil tersenyum lebar, Heru. Adik kelas yang dulu ceria dan selalu jadi favorit guru,” ungkap Irwan mengawali ceritanya, Selasa (2/12/2025).

Dengan mobil Elf yang dikemudikan sendiri, Heru menjemputnya, menuju hotel tempat reuni digelar. Sepanjang perjalanan saling bercerita, saling bertukar kabar tentang hidup yang ternyata berputar, berbeda untuk masing-masing dari mereka.

“Awalnya saya pikir kisah yang akan jadi cerita yang menarik. Tapi rupanya, hidup Heru jauh lebih seperti novel kehidupan – seru dan terjal sekaligus,” katanya.

Dulu, kata dia, Heru adalah pengusaha besar di Kabupaten Tegal. Lahan pertanian di sana-sini, tokonya ramai, dan omzet bisnisnya miliaran rupiah tiap tahun.

Hidupnya seperti sudah tinggal menikmati perjalanan panjang menuju puncak kesejahteraan. Kalau ada orang yang dianggap “berhasil” di usia muda, ya Heru salah satunya.

Tapi hidup tak selamanya ramah. Tahun 1998 datang badai besar yang tak disangka-sangka.

Ketika kepercayaan masyarakat pada pemerintah runtuh, ekonomi ikut berguling ke jurang.

Penjarahan pecah di banyak daerah. Toko Heru ikut disapu massa. Tanah-tanahnya direbut begitu saja. Hilang dalam hitungan jam.

“Dalam semalam kekayaannya menguap seperti kabut terkena matahari,” ucap dia.

Aku terbelalak mendengarnya. Aku bertanya – kok bisa secepat itu?

Heru pun bercerita sembaru menarik napas pelan. Ternyata sebagian besar tanahnya belum bersertifikat. Oknum-oknum memanfaatkan celah itu. Penjarahan seolah dibiarkan, bahkan didorong.

“Ketika situasi mulai reda, Heru mencoba menyelamatkan apa yang tersisa. Dia ingin mengurus sertifikat. Tapi dibuat terkejut: satu hektar tanah dikenai biaya Rp10 juta, dan di tahun 1998, jumlah yang sangat besar saat itu,” kata Irwan.

Heru pun menyerah menyelamatkan tanahnya. Dia lebih memilih menyelamatkan manusia-manusia yang bekerja padanya.

Dia mulai jual mobil, jual toko, untuk menggaji karyawan, menutup utang bisnis, dan memastikan keluarganya tetap makan. Pilihan yang tak banyak orang bisa lakukan dalam keadaan terjepit seperti itu.

“Namun Heru tetap waras. Tetap tersenyum. Tetap percaya pada takdir. Mungkin karena dia pernah dibesarkan sebagai santri – iman menjadi pelampung terakhirnya, yang menjaga agar ia tak tenggelam dalam putus asa,” imbuhnya.

Perlahan Heru pun bangkit lagi. Dia beli sebuah mobil Elf dan kembali bekerja, kali ini sebagai pengemudi rental perjalanan.

Dia menjalani hidup yang jauh lebih sederhana. Tapi justru dari sana,  menemukan ketenangan yang tidak ditemuinya saat bergelimang harta.

Dia menoleh pada Irwan sejenak, masih dengan senyum cerah di wajahnya.

“Saya pernah kaya. Jadi kalau lihat orang kaya ya biasa saja. Nggak perlu merapat, nggak perlu menjilat.”

Dus, Irwan pun terdiam mendengarnya. Kalimat sederhana, tapi dalam sekali maknanya.

“Reuni kami akhirnya bukan hanya tentang tertawa dan nostalgia. Ada pelajaran besar yang terselip di antara perjalanan menuju hotel itu: bahwa hidup bisa berubah drastis kapan saja, yang kita simpan hari ini bisa lenyap besok pagi,” katanya.

Namun selama masih memiliki kesabaran, keberanian untuk bangkit, dan orang-orang yang tetap menggenggam tangan kita – sesungguhnya tidak ada yang benar-benar hilang.

Heru mungkin tak lagi punya 150 hektar tanah. Tapi dia punya sesuatu yang jauh lebih mahal.

Harga diri.
Keikhlasan dan hati yang lapang menerima takdir.

Sementara Elf putih itu terus melaju, Irwan pun justru merasa sedang diajak menempuh perjalanan yang jauh lebih penting: perjalanan mengingat kembali arti syukur dan keteguhan hidup. (omy)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jum’at Berkah Aceh Bangun Ukhuwah Lewat Segelas Kopi dan Sepotong Kue di Masjid tansaran 

10 Juli 2026 - 20:37 WIB

Nobar Perempatfinal Hingga Final Piala Dunia 2026 Dihadirkan InJourney Airports di 7 Bandara

10 Juli 2026 - 18:55 WIB

Omah Jangan Diam Terus, Resto di Depok yang Menyajikan Kelezatan, Perjalanan, dan Nilai Kemanusiaan

10 Juli 2026 - 17:05 WIB

Pelita Air Hadirkan Senandung Musikal Maliq & D’Essentials di Penerbangan

10 Juli 2026 - 15:42 WIB

Anggota DPR RI Fraksi NasDem Rachmat Gobel Meninggal Dunia di Usia 63 Tahun

10 Juli 2026 - 09:27 WIB

Sengkarut 4 Blok Lahan Kosong Negara di Kemayoran: Ketegasan Negara Menghilang?

10 Juli 2026 - 09:11 WIB

Pasar K-Culture Melejit, Destinasi Baru Incar Cuan di Jakarta

10 Juli 2026 - 04:10 WIB

Sabet Penghargaan, Model 3R mGanik Jadi Terobosan Kebuntuan Diabetes Tipe 2

10 Juli 2026 - 04:05 WIB

TEMUAN BPK: Defisit Keuangan Membengkak, Transparansi Perjalanan Dinas Pemko Subulussalam Dipertanyakan

10 Juli 2026 - 03:56 WIB

Tindak Lanjut MoU, Tani Merdeka Indonesia Aceh Tengah dan PT Bio Energy Rimba Perkuat Pendampingan Petani

10 Juli 2026 - 03:44 WIB

Trending di RAGAM