Wartatrans.com, DEPOK – Rejeki sudah ada yang mengatur, yakni Alllah SWT. Tak perlu dirisaukan dan dipertanyakan, karena datangnya tak pernah salah alamat.
Seperti pengalaman Heru, sang pengemudi mobil Elf (sejenis mobil minibus), asal Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Kisah ini berawal dari cerita Irwan Hernanda, alumni Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo tahun 1989.
“Sudah puluhan tahun kami tak saling bertemu. Waktu berjalan tanpa pernah menengok ke belakang. Namun pagi itu, aku menjejakkan kaki di Stasiun Tegal dengan perasaan campur aduk – senang, rindu, juga canggung. Dan dari jauh, saya melihat seseorang melambaikan tangan sambil tersenyum lebar, Heru. Adik kelas yang dulu ceria dan selalu jadi favorit guru,” ungkap Irwan mengawali ceritanya, Selasa (2/12/2025).
Dengan mobil Elf yang dikemudikan sendiri, Heru menjemputnya, menuju hotel tempat reuni digelar. Sepanjang perjalanan saling bercerita, saling bertukar kabar tentang hidup yang ternyata berputar, berbeda untuk masing-masing dari mereka.
“Awalnya saya pikir kisah yang akan jadi cerita yang menarik. Tapi rupanya, hidup Heru jauh lebih seperti novel kehidupan – seru dan terjal sekaligus,” katanya.
Dulu, kata dia, Heru adalah pengusaha besar di Kabupaten Tegal. Lahan pertanian di sana-sini, tokonya ramai, dan omzet bisnisnya miliaran rupiah tiap tahun.
Hidupnya seperti sudah tinggal menikmati perjalanan panjang menuju puncak kesejahteraan. Kalau ada orang yang dianggap “berhasil” di usia muda, ya Heru salah satunya.
Tapi hidup tak selamanya ramah. Tahun 1998 datang badai besar yang tak disangka-sangka.
Ketika kepercayaan masyarakat pada pemerintah runtuh, ekonomi ikut berguling ke jurang.
Penjarahan pecah di banyak daerah. Toko Heru ikut disapu massa. Tanah-tanahnya direbut begitu saja. Hilang dalam hitungan jam.
“Dalam semalam kekayaannya menguap seperti kabut terkena matahari,” ucap dia.
Aku terbelalak mendengarnya. Aku bertanya – kok bisa secepat itu?
Heru pun bercerita sembaru menarik napas pelan. Ternyata sebagian besar tanahnya belum bersertifikat. Oknum-oknum memanfaatkan celah itu. Penjarahan seolah dibiarkan, bahkan didorong.
“Ketika situasi mulai reda, Heru mencoba menyelamatkan apa yang tersisa. Dia ingin mengurus sertifikat. Tapi dibuat terkejut: satu hektar tanah dikenai biaya Rp10 juta, dan di tahun 1998, jumlah yang sangat besar saat itu,” kata Irwan.
Heru pun menyerah menyelamatkan tanahnya. Dia lebih memilih menyelamatkan manusia-manusia yang bekerja padanya.
Dia mulai jual mobil, jual toko, untuk menggaji karyawan, menutup utang bisnis, dan memastikan keluarganya tetap makan. Pilihan yang tak banyak orang bisa lakukan dalam keadaan terjepit seperti itu.
“Namun Heru tetap waras. Tetap tersenyum. Tetap percaya pada takdir. Mungkin karena dia pernah dibesarkan sebagai santri – iman menjadi pelampung terakhirnya, yang menjaga agar ia tak tenggelam dalam putus asa,” imbuhnya.
Perlahan Heru pun bangkit lagi. Dia beli sebuah mobil Elf dan kembali bekerja, kali ini sebagai pengemudi rental perjalanan.
Dia menjalani hidup yang jauh lebih sederhana. Tapi justru dari sana, menemukan ketenangan yang tidak ditemuinya saat bergelimang harta.
Dia menoleh pada Irwan sejenak, masih dengan senyum cerah di wajahnya.
“Saya pernah kaya. Jadi kalau lihat orang kaya ya biasa saja. Nggak perlu merapat, nggak perlu menjilat.”
Dus, Irwan pun terdiam mendengarnya. Kalimat sederhana, tapi dalam sekali maknanya.
“Reuni kami akhirnya bukan hanya tentang tertawa dan nostalgia. Ada pelajaran besar yang terselip di antara perjalanan menuju hotel itu: bahwa hidup bisa berubah drastis kapan saja, yang kita simpan hari ini bisa lenyap besok pagi,” katanya.
Namun selama masih memiliki kesabaran, keberanian untuk bangkit, dan orang-orang yang tetap menggenggam tangan kita – sesungguhnya tidak ada yang benar-benar hilang.
Heru mungkin tak lagi punya 150 hektar tanah. Tapi dia punya sesuatu yang jauh lebih mahal.
Harga diri.
Keikhlasan dan hati yang lapang menerima takdir.
Sementara Elf putih itu terus melaju, Irwan pun justru merasa sedang diajak menempuh perjalanan yang jauh lebih penting: perjalanan mengingat kembali arti syukur dan keteguhan hidup. (omy)
























