Wartatrans.com, JAKARTA — Perbincangan hangat di kalangan kartunis dan perupa senior kembali mengemuka melalui sebuah grup WhatsApp (WAG). Diskusi tersebut membahas perbedaan, persinggungan, hingga tantangan antara kartun, karikatur, dan lukisan sebagai medium ekspresi seni, khususnya dalam konteks perubahan lanskap media di Indonesia.
Diskusi ini tidak hanya menyoroti aspek teknis dan estetik karya seni rupa, tetapi juga menyinggung perubahan besar yang dialami media cetak sejak hadirnya era internet. Perubahan tersebut dinilai berdampak langsung terhadap ruang hidup dan keberlangsungan profesi kartunis media.

Salah satu kartunis senior yang akrab disapa Non O mengenang perjalanan panjangnya berkarya di dunia kartun media cetak. Ia bercerita pernah diminta almarhum GM Sudarta untuk membantu membuat ilustrasi dan kartun di harian Kompas, antara lain untuk rubrik “Bintang Pekan Ini” dan “Kilasan Peristiwa”, serta ilustrasi cerpen yang dikerjakan secara bergantian dengan Ipong Purnamasidi dan Hardjono.

Karikatur karya Non O.
“Sebelumnya, saya juga ditempa di koran sore Sinar Harapan di bawah bimbingan kartunis dan karikaturis Pramono,” tutur Non O mengenang masa-masa awal kariernya.
Menurut Non O, pada masa kejayaan media cetak jumlah kartunis di surat kabar masih sangat terbatas. Kondisi tersebut membuat para kartunis memiliki peluang besar untuk mengisi halaman-halaman media besar di Jakarta.
Namun, situasi itu kini berubah drastis. Masuknya era digital dan internet mengguncang industri media cetak, bahkan menyebabkan banyak surat kabar tutup.
“Media cetak banyak yang tumbang. Dampaknya, ruang untuk kartunis juga ikut menyempit,” ujarnya.
Meski demikian, kartunis Gatoet, yang disebut sebagai salah satu “letingan” Non O, menilai perubahan ini seharusnya bisa dilihat sebagai peluang baru. Menurutnya, media daring dan portal berita digital sejatinya dapat menjadi ruang alternatif bagi karya kartun dan karikatur.

Karikatur karya Gatoet.
“Portal-portal berita digital seharusnya bisa dilobi untuk membuka ruang kerja bagi kartunis,” kata Gatoet. Ia juga mengusulkan agar Persatuan Kartunis Indonesia (PAKARTI) berperan lebih aktif dalam membuka peluang tersebut.
“Mungkin PAKARTI bisa menjadi pintu masuk untuk memperjuangkan ruang itu,” tambahnya.
Selain membahas dinamika media, diskusi juga mengerucut pada perbedaan mendasar antara kartun, karikatur, dan lukisan. Sejumlah seniman seperti Riyadi, Hugo, Totok, Ratno, Gara, Ashady dan lainnya terlibat aktif dalam pembahasan tersebut.
Menurut Hugo, kartun memiliki keteraturan tertentu yang perlu ditaati agar pesan dapat tersampaikan secara efektif. Sementara itu, lukisan menawarkan kebebasan teknis yang lebih luas bagi senimannya untuk mengekspresikan suara batin.
“Sebenarnya kartun dan karikatur itu berbeda. Apalagi lukisan. Tapi semuanya bisa diblend,” ujar Hugo.
Ia menegaskan bahwa baik kartun maupun karikatur tetap membutuhkan kemampuan menggambar dan penguasaan teknis yang kuat.
“Both kartun dan karikatur sangat perlu didukung drawing skills dan kemampuan teknis dalam mendetailkan objek. Karikatur sangat membutuhkan real fact materials untuk future projected perception. Karikatur adalah political cartoon,” ungkapnya.

Kartun karya Gara
Pernyataan tersebut diamini oleh Riyadi. Menurutnya, setiap seniman memiliki hak atas kebebasan berekspresi yang jujur dan otentik dalam berkarya.
“Semuanya punya karakter dan kekhasan karya seni masing-masing, sesuai latar belakang pengalaman hidup, perjalanan seni, dan pandangan hidupnya,” terang Riyadi.
Diskusi berlangsung dinamis dengan saling berbagi dan menampilkan karya kartun, karikatur, hingga lukisan sebagai bahan pertimbangan dan pembahasan. Karya-karya tersebut menjadi pemantik dialog sekaligus refleksi atas posisi seni kartun dan karikatur di tengah perubahan zaman.
Diskusi ini menunjukkan bahwa meski media terus berubah, perbincangan mengenai esensi, fungsi, dan masa depan seni kartun dan karikatur tetap hidup—dan terus mencari ruangnya di era digital. *** (PG)

Karikatur karya Ashady.










