Menu

Mode Gelap
Pameran Tunggal Sonny Eska Angkat Makna “Atas Nama” dalam Perspektif Seni Syariat Islam di Aceh Tengah Dinilai Perlu Diperketat Kemenhub Perkuat Keselamatan dan Layanan Transportasi Darat Jelang Angleb, Ditjen Hubdat Tekankan Pentingnya Keselamatan Novel Sejarah Nahrisyah Karya Putra Gara Hadir di Perpustakaan L K Ara Gerai Warteg Gate 37 InJourney Airports Sedot Perhatian Pengunjung INACRAFT 2026

WISATA

Catatan Halimah Munawir: Kuda Dagang Jeruk di Kota Sejarah Alexandria

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Kuda Dagang Jeruk di Kota Sejarah Alexandria Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Alexandria, kota yang kerap disebut sebagai ibu kota kedua Mesir, menyimpan lapisan sejarah yang berlapis-lapis. Sebagian gedung tua di kota ini masih menyisakan jejak dominasi Inggris, menjadi saksi bisu masa kolonial yang pernah menguasai denyut kehidupan di tepi Laut Mediterania. Arsitektur klasik Eropa berdiri berdampingan dengan bangunan modern, menghadirkan kontras yang tak bisa diabaikan.

Di tengah lanskap sejarah itu, berdiri megah Bibliotheca Alexandrina, perpustakaan modern yang menjadi simbol kebangkitan intelektual Mesir. Bangunan futuristik ini bukan hanya pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga penanda bahwa Alexandria terus bergerak maju, merangkul masa depan tanpa sepenuhnya meninggalkan masa lalu.

Namun, di balik kemegahan gedung dan simbol peradaban dunia tersebut, Alexandria tetap menjaga denyut tradisinya. Tradisi itu tidak selalu hadir dalam bentuk ritual besar atau perayaan resmi, melainkan dalam potret kehidupan sehari-hari yang sederhana—salah satunya adalah kuda dagang jeruk.

Di beberapa sudut kota, masih dapat dijumpai pedagang jeruk yang mengandalkan tenaga kuda untuk mengangkut dagangannya. Pemandangan ini seolah membawa ingatan kembali ke masa lampau, ketika perdagangan berjalan seiring dengan ritme alam dan kekuatan hewan. Di tengah hiruk-pikuk kendaraan bermotor dan lalu lintas modern, kehadiran kuda dagang jeruk menjadi simbol keteguhan tradisi yang enggan tergilas zaman.

Kuda, gerobak, dan jeruk yang tersusun rapi bukan sekadar alat jual beli. Ia adalah narasi hidup tentang Alexandria—kota yang mampu memadukan sejarah kolonial, kemajuan intelektual, dan kearifan tradisional dalam satu tarikan napas. Di sanalah, modernitas dan tradisi tidak saling meniadakan, melainkan berdampingan, saling melengkapi.

Alexandria pun tampil bukan hanya sebagai kota sejarah atau kota ilmu, tetapi sebagai ruang hidup yang jujur: tempat di mana masa lalu terus berjalan bersama masa kini, diiringi langkah kuda yang setia membawa jeruk-jeruk segar bagi warganya.***

Mesir 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pameran Tunggal Sonny Eska Angkat Makna “Atas Nama” dalam Perspektif Seni

8 Februari 2026 - 23:51 WIB

Syariat Islam di Aceh Tengah Dinilai Perlu Diperketat

8 Februari 2026 - 20:21 WIB

Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok Pimpin Kerja Bakti Bersama TNI dan Stakeholder, Dukung Program Asri Presiden RI

8 Februari 2026 - 17:02 WIB

Di Peringatan Hari Pers Nasional 2026,  Pelindo Dorong Penguatan Peran Pelabuhan Banten

8 Februari 2026 - 16:57 WIB

DPC Demokrat Semarang Bergerak Efektif di Tengah Masyarakat

8 Februari 2026 - 10:42 WIB

Trending di RAGAM