Menu

Mode Gelap
Yayasan HAkA Dampingi Perempuan Beutong Bersatu Bangun Kemandirian Ekonomi Pemko Subulussalam Dikritik: Ikut Kegiatan APEKSI di Medan di Tengah Keterbatasan Anggaran Kereta Petani Pedagang KAI Layani 26.074 Pelanggan di Lintas Rangkasbitung-Merak pada Semester I 2026 Peserta PPN XIV Asal Maluku: Aceh Tinggalkan Kesan Mendalam, Sastra Tak Akan Hilang Selama Kata-kata Menjadi Jalan Kemanusiaan Yuli Riban, Perupa yang Mengabdikan Seni untuk Anak-anak Disabilitas Yuli Riban Art Class Gelar Pameran Seni Rupa Perupa Disabilitas Sambut Hari Anak Nasional 2026

WISATA

Catatan Halimah Munawir: Kuda Dagang Jeruk di Kota Sejarah Alexandria

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Kuda Dagang Jeruk di Kota Sejarah Alexandria Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Alexandria, kota yang kerap disebut sebagai ibu kota kedua Mesir, menyimpan lapisan sejarah yang berlapis-lapis. Sebagian gedung tua di kota ini masih menyisakan jejak dominasi Inggris, menjadi saksi bisu masa kolonial yang pernah menguasai denyut kehidupan di tepi Laut Mediterania. Arsitektur klasik Eropa berdiri berdampingan dengan bangunan modern, menghadirkan kontras yang tak bisa diabaikan.

Di tengah lanskap sejarah itu, berdiri megah Bibliotheca Alexandrina, perpustakaan modern yang menjadi simbol kebangkitan intelektual Mesir. Bangunan futuristik ini bukan hanya pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga penanda bahwa Alexandria terus bergerak maju, merangkul masa depan tanpa sepenuhnya meninggalkan masa lalu.

Namun, di balik kemegahan gedung dan simbol peradaban dunia tersebut, Alexandria tetap menjaga denyut tradisinya. Tradisi itu tidak selalu hadir dalam bentuk ritual besar atau perayaan resmi, melainkan dalam potret kehidupan sehari-hari yang sederhana—salah satunya adalah kuda dagang jeruk.

Di beberapa sudut kota, masih dapat dijumpai pedagang jeruk yang mengandalkan tenaga kuda untuk mengangkut dagangannya. Pemandangan ini seolah membawa ingatan kembali ke masa lampau, ketika perdagangan berjalan seiring dengan ritme alam dan kekuatan hewan. Di tengah hiruk-pikuk kendaraan bermotor dan lalu lintas modern, kehadiran kuda dagang jeruk menjadi simbol keteguhan tradisi yang enggan tergilas zaman.

Kuda, gerobak, dan jeruk yang tersusun rapi bukan sekadar alat jual beli. Ia adalah narasi hidup tentang Alexandria—kota yang mampu memadukan sejarah kolonial, kemajuan intelektual, dan kearifan tradisional dalam satu tarikan napas. Di sanalah, modernitas dan tradisi tidak saling meniadakan, melainkan berdampingan, saling melengkapi.

Alexandria pun tampil bukan hanya sebagai kota sejarah atau kota ilmu, tetapi sebagai ruang hidup yang jujur: tempat di mana masa lalu terus berjalan bersama masa kini, diiringi langkah kuda yang setia membawa jeruk-jeruk segar bagi warganya.***

Mesir 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Yayasan HAkA Dampingi Perempuan Beutong Bersatu Bangun Kemandirian Ekonomi

2 Juli 2026 - 11:24 WIB

Pemko Subulussalam Dikritik: Ikut Kegiatan APEKSI di Medan di Tengah Keterbatasan Anggaran

2 Juli 2026 - 11:20 WIB

IKAC Salurkan Bantuan Pangan untuk Ratusan Warga, Kolaborasi dengan Kecamatan Arjawinangun Perkuat Kepedulian Sosial

2 Juli 2026 - 10:08 WIB

Paradoks Lansia Indonesia: Menua dalam Jeratan Sektor Informal

1 Juli 2026 - 17:50 WIB

Terminal Teluk Lamong Raih Digital PR Award 2026 Berkat Strategi Komunikasi Digital yang Inovatif

1 Juli 2026 - 17:36 WIB

Catatan Halimah Munawir: Kebahagiaan Seorang Ibu adalah Hadir di Setiap Langkah Anak

1 Juli 2026 - 14:25 WIB

Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Pelindo Regional 2 Tanjung Priok dan Pemkot Jakarta Utara Tanam 665 Pohon

1 Juli 2026 - 13:11 WIB

Catatan Iwan Piliang: Saatnya Pengusaha Indonesia Berhenti Bergantung pada Proyek Pemerintah

1 Juli 2026 - 12:45 WIB

Kota Subulussalam Dilanda Defisit Anggaran, Kinerja Pemko dan DPRK Dipertanyakan

1 Juli 2026 - 12:14 WIB

Rentenir Berkedok Koperasi Disebut Kembali Marak di Kota Langsa, Warga Minta Penindakan

1 Juli 2026 - 12:02 WIB

Trending di RAGAM