Menu ✖

Mode Gelap
Suyudi Ario Seto Disetujui DPR Jadi Kapolri, Gantikan Listyo Sigit Kebun Hantu, Menyusuri Arsip Tubuh dan Pengalaman yang Tak Selesai AI Mengubah Wajah Demokrasi, Akademisi: Verifikasi Jadi Senjata Publik Tanam 10 Pala Tomandin di SMA Don Bosco Fakfak, Siswa Belajar Ketangguhan di Tengah El Nino KAI Services Perkuat Layanan Premium di Balik Perjalanan Nusantara Explorer KKP Percepat Sertifikasi Awak Kapal Perikanan melalui Modernisasi Pelatihan

WISATA

Catatan Halimah Munawir: Kuda Dagang Jeruk di Kota Sejarah Alexandria

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Kuda Dagang Jeruk di Kota Sejarah Alexandria Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Alexandria, kota yang kerap disebut sebagai ibu kota kedua Mesir, menyimpan lapisan sejarah yang berlapis-lapis. Sebagian gedung tua di kota ini masih menyisakan jejak dominasi Inggris, menjadi saksi bisu masa kolonial yang pernah menguasai denyut kehidupan di tepi Laut Mediterania. Arsitektur klasik Eropa berdiri berdampingan dengan bangunan modern, menghadirkan kontras yang tak bisa diabaikan.

Di tengah lanskap sejarah itu, berdiri megah Bibliotheca Alexandrina, perpustakaan modern yang menjadi simbol kebangkitan intelektual Mesir. Bangunan futuristik ini bukan hanya pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga penanda bahwa Alexandria terus bergerak maju, merangkul masa depan tanpa sepenuhnya meninggalkan masa lalu.

Namun, di balik kemegahan gedung dan simbol peradaban dunia tersebut, Alexandria tetap menjaga denyut tradisinya. Tradisi itu tidak selalu hadir dalam bentuk ritual besar atau perayaan resmi, melainkan dalam potret kehidupan sehari-hari yang sederhana—salah satunya adalah kuda dagang jeruk.

Di beberapa sudut kota, masih dapat dijumpai pedagang jeruk yang mengandalkan tenaga kuda untuk mengangkut dagangannya. Pemandangan ini seolah membawa ingatan kembali ke masa lampau, ketika perdagangan berjalan seiring dengan ritme alam dan kekuatan hewan. Di tengah hiruk-pikuk kendaraan bermotor dan lalu lintas modern, kehadiran kuda dagang jeruk menjadi simbol keteguhan tradisi yang enggan tergilas zaman.

Kuda, gerobak, dan jeruk yang tersusun rapi bukan sekadar alat jual beli. Ia adalah narasi hidup tentang Alexandria—kota yang mampu memadukan sejarah kolonial, kemajuan intelektual, dan kearifan tradisional dalam satu tarikan napas. Di sanalah, modernitas dan tradisi tidak saling meniadakan, melainkan berdampingan, saling melengkapi.

Alexandria pun tampil bukan hanya sebagai kota sejarah atau kota ilmu, tetapi sebagai ruang hidup yang jujur: tempat di mana masa lalu terus berjalan bersama masa kini, diiringi langkah kuda yang setia membawa jeruk-jeruk segar bagi warganya.***

Mesir 2026

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

AI Mengubah Wajah Demokrasi, Akademisi: Verifikasi Jadi Senjata Publik

1 Oktober 2026 - 10:43 WIB

KAI Services Perkuat Layanan Premium di Balik Perjalanan Nusantara Explorer

1 Oktober 2026 - 09:56 WIB

Penerapan Biometrik Meluas, dari Registrasi SIM Card hingga Perjalanan Udara

1 Oktober 2026 - 09:31 WIB

Jeritan Pilu Warga Berawang Baro Pegasing Delapan Dekade Merdeka, Terisolasi di Kubangan Lumpur dan Janji Manis Pembangunan ‎

1 Oktober 2026 - 03:08 WIB

Peduli Lingkungan Sejak Dini, Terminal Teluk Lamong Edukasi Siswa tentang Pemilahan Sampah

30 September 2026 - 20:34 WIB

Dukung Program Presiden Prabowo, KKP Siapkan Produk Perikanan untuk Menu MBG

30 September 2026 - 18:39 WIB

Komitmen Jaga Setiap Perjalanan, DAMRI Raih Penghargaan Pelopor Kita DKI 2026

30 September 2026 - 14:46 WIB

KPU Fakfak Tetapkan Data Pemilih Triwulan III 2026, Naik 808 Jiwa

30 September 2026 - 13:41 WIB

Yanuar Cecar Eks Kalapas Cibinong: Sofa hingga AC Hilang, Siapa yang Perintah?

30 September 2026 - 12:34 WIB

Dari 10 Jamaah Menjadi 651, Majelis Taklim Ar Rahmah Rangkul Jemaah Syiar Islam Bersama

30 September 2026 - 12:19 WIB

Trending di RAGAM