Menu

Mode Gelap
Ketua KP3ALA Pusat, Prof. Rahmat Salam: Pemekaran ALA untuk Perkuat Wali Nangroe Tirakatan 17 Agustus: Kebersamaan Lesehan yang Menyatu dalam Syukur dan Khidmat 3 Pekan Sebelum Gempa M7,7, NTT Baru Perkuat Pusdalops Pascagempa, Kemen PU Pastikan Akses dan Kebutuhan Dasar di Labuan Bajo Segera Ditangani Jelang 17 Agustus, 16.913 Tiket Promo KAI Terjual, Pemesanan Long Weekend Capai 706.908 Tiket Pertamina Patra Niaga Percepat Penanganan Bencana dan Pemulihan Suplai BBM & LPG di Flores

WISATA

Catatan Halimah Munawir: Kuda Dagang Jeruk di Kota Sejarah Alexandria

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Kuda Dagang Jeruk di Kota Sejarah Alexandria Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Alexandria, kota yang kerap disebut sebagai ibu kota kedua Mesir, menyimpan lapisan sejarah yang berlapis-lapis. Sebagian gedung tua di kota ini masih menyisakan jejak dominasi Inggris, menjadi saksi bisu masa kolonial yang pernah menguasai denyut kehidupan di tepi Laut Mediterania. Arsitektur klasik Eropa berdiri berdampingan dengan bangunan modern, menghadirkan kontras yang tak bisa diabaikan.

Di tengah lanskap sejarah itu, berdiri megah Bibliotheca Alexandrina, perpustakaan modern yang menjadi simbol kebangkitan intelektual Mesir. Bangunan futuristik ini bukan hanya pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga penanda bahwa Alexandria terus bergerak maju, merangkul masa depan tanpa sepenuhnya meninggalkan masa lalu.

Namun, di balik kemegahan gedung dan simbol peradaban dunia tersebut, Alexandria tetap menjaga denyut tradisinya. Tradisi itu tidak selalu hadir dalam bentuk ritual besar atau perayaan resmi, melainkan dalam potret kehidupan sehari-hari yang sederhana—salah satunya adalah kuda dagang jeruk.

Di beberapa sudut kota, masih dapat dijumpai pedagang jeruk yang mengandalkan tenaga kuda untuk mengangkut dagangannya. Pemandangan ini seolah membawa ingatan kembali ke masa lampau, ketika perdagangan berjalan seiring dengan ritme alam dan kekuatan hewan. Di tengah hiruk-pikuk kendaraan bermotor dan lalu lintas modern, kehadiran kuda dagang jeruk menjadi simbol keteguhan tradisi yang enggan tergilas zaman.

Kuda, gerobak, dan jeruk yang tersusun rapi bukan sekadar alat jual beli. Ia adalah narasi hidup tentang Alexandria—kota yang mampu memadukan sejarah kolonial, kemajuan intelektual, dan kearifan tradisional dalam satu tarikan napas. Di sanalah, modernitas dan tradisi tidak saling meniadakan, melainkan berdampingan, saling melengkapi.

Alexandria pun tampil bukan hanya sebagai kota sejarah atau kota ilmu, tetapi sebagai ruang hidup yang jujur: tempat di mana masa lalu terus berjalan bersama masa kini, diiringi langkah kuda yang setia membawa jeruk-jeruk segar bagi warganya.***

Mesir 2026

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Ketua KP3ALA Pusat, Prof. Rahmat Salam: Pemekaran ALA untuk Perkuat Wali Nangroe

16 Agustus 2026 - 22:20 WIB

Tirakatan 17 Agustus: Kebersamaan Lesehan yang Menyatu dalam Syukur dan Khidmat

16 Agustus 2026 - 21:55 WIB

Pertamina Patra Niaga Percepat Penanganan Bencana dan Pemulihan Suplai BBM & LPG di Flores

16 Agustus 2026 - 19:56 WIB

Perayaan Hari Didong Di Musara Gayo Jabodetabek Meriah, Silvia Kim dari Korea Selatan Ikut Berdidong

16 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Haji Fikri Ajak Masyarakat Jawa Barat Merenungi Makna Kemerdekaan ke-81, Dari Seremoni Menuju Pengabdian Nyata

16 Agustus 2026 - 15:58 WIB

Laznas ASAR Humanity Bergerak Tanggap Bencana Bersama Relawan KSATRIA di NTT

16 Agustus 2026 - 14:41 WIB

Penanganan Bencana Lambat, Hasil Bumi Dikeruk, Tapi Butir MoU Tidak Pernah Diselesaikan Pemerintah Pusat. Aceh Sudah Muak!

16 Agustus 2026 - 14:34 WIB

Semarang Terancam Rob Permanen, Tanahnya Amblas 12 Sentimeter Pertahun

16 Agustus 2026 - 14:18 WIB

Delegasi Rimba Raya Kecam Keras Insiden Pelecehan Budaya Aceh di Panggung Jamnas: “Jangan Lupakan Sejarah Aceh”

16 Agustus 2026 - 13:33 WIB

Budaya Aceh Dilecehkan di Jamnas Pramuka 2026: Lampu Panggung Dimatikan Saat Penampilan

16 Agustus 2026 - 13:00 WIB

Trending di RAGAM