Menu

Mode Gelap
Polres Pelabuhan Tanjung Priok Sasar Titik Rawan, Pastikan Kamtibmas Tetap Kondusif Program IPCC GEMBIRA Beri Dampak Nyata, IPCC Raih InvestorTrust CSR Awards 2026 Meriahkan HUT RI, Pelindo Jasa Maritim Beri Penghargaan kepada Kelurahan Tabaringan PNJ Bekali Pelaku Usaha Kota Depok dengan Pelatihan Basic Warehouse Operation Hadapi Manila Digger, Persib Pangkas Waktu Perjalanan dari Bandara Husein Dampak Ekonomi Gempa NTT Tembus Rp2,2 Triliun? Industri Asuransi Menghitung Exposure

RAGAM

Catatan Halimah Munawir: Mengapa Jahil?

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Mengapa Jahil? Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Jahil, dalam ingatan masa kecil, sering kali lahir bukan dari niat jahat, melainkan dari ketidaktahuan yang dibungkus tawa. Ia sebentuk kenakalan ringan, yang kerap berakhir begitu usia bertambah dan kesadaran tumbuh.

Saya pernah—dan barangkali hanya sekali—berbuat jahil. Itu terjadi ketika masih duduk di bangku SMP, kelas satu semester awal, di kawasan Petogogan, Kebayoran Baru. Hari itu sekolah memulangkan siswa lebih awal. Pulang ke rumah terasa terlalu pagi. Bersama beberapa kawan, kami sepakat menghabiskan waktu di Taman Puring.
Saat itu Taman Puring belum seperti sekarang. Pepohonan masih rimbun, udara teduh, dan ruang itu menjadi tempat pelarian banyak orang: anak-anak bermain, orang dewasa berbincang, sebagian lain—diam-diam—menyemai rasa. Di tengah hari bolong, kami melihat sepasang remaja berseragam putih abu-abu duduk berdekatan, larut dalam dunia mereka sendiri.

Di usia yang masih hijau, dengan keberanian yang dipinjam dari kebodohan kolektif, salah satu dari kami mengambil kerikil. Isyarat mata saling bertukar. Anggukan kecil. Batu melayang. Kami tertawa dan berlari secepat mungkin. Jahil—ya. Dewasa—belum tentu.

Entah karena malu, entah karena melihat kami tak lebih dari burung piyik yang ribut, pasangan itu tak mengejar. Peristiwa itu tinggal kenangan. Naik kelas dua, saya pindah sekolah ke Utan Kayu. Sejak itu, kenakalan serupa tak pernah terulang. Hidup, pelan-pelan, mengajarkan batas.

Namun pertanyaan itu kembali datang, bertahun-tahun kemudian, dalam konteks yang sama sekali berbeda: mengapa masih ada yang jahil?
Kali ini bukan kerikil yang dilemparkan, melainkan sesuatu yang lebih serius—lebih berdampak. “Rumah Budaya HMA” tiba-tiba “diambil” dari Google. Jejak digitalnya lenyap. Seolah rumah itu tak pernah ada, tak pernah berdiri, tak pernah menjadi ruang hidup bagi para penggiat seni dan budaya.

Jejak digital Rumah Budaya HMA yang kena jahil.

Ini bukan lagi jahil ala bocah SMP. Ini bukan tawa lalu lari. Ini tindakan yang mengusik ingatan kolektif, mengaburkan ruang ekspresi, dan mengerdilkan kerja-kerja kebudayaan yang selama ini dirawat dengan kesabaran.

Rumah Budaya HMA bukan sekadar bangunan atau titik di peta digital. Ia adalah ruang bertemu, tempat gagasan tumbuh, diskusi bersemi, dan seni mencari napasnya. Ia lahir dari semangat gotong royong, dari keyakinan bahwa kebudayaan harus punya rumah—bukan hanya di museum, tapi di tengah masyarakat.

Maka, ketika rumah itu “dijahili”, yang terusik bukan hanya pengelolanya, melainkan ekosistem seni itu sendiri. Menghapus keberadaan dari ruang digital hari ini sama artinya dengan membatasi akses publik, menyempitkan ruang dialog, dan secara perlahan meminggirkan ekspresi kultural.
Perlu ditegaskan: Rumah Budaya HMA masih berdiri. Pintu-pintunya belum tertutup. Aktivitas tetap berlangsung. Para seniman, pegiat budaya, dan komunitas masih berkarya di dalamnya.
Kepada siapa pun yang mungkin menganggap ini sekadar main-main: tolong, jangan jahil. Kebudayaan bukan arena iseng. Ia adalah kerja panjang, rapuh, dan membutuhkan saling percaya.

Dan kepada kawan-kawan penggiat seni: silakan tetap berkegiatan. Jangan ragu, jangan surut. Rumah ini masih ada—dan akan terus ada—selama semangat merawat kebudayaan tetap menyala.
Karena tidak semua yang bisa dihapus dari layar pantas dilenyapkan dari kehidupan.***

Duren Sawit 2026

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Program IPCC GEMBIRA Beri Dampak Nyata, IPCC Raih InvestorTrust CSR Awards 2026

31 Agustus 2026 - 10:24 WIB

Meriahkan HUT RI, Pelindo Jasa Maritim Beri Penghargaan kepada Kelurahan Tabaringan

31 Agustus 2026 - 10:17 WIB

PNJ Bekali Pelaku Usaha Kota Depok dengan Pelatihan Basic Warehouse Operation

31 Agustus 2026 - 09:21 WIB

Ada Apa Gerangan? Pemikir Revolusioner Tentang Aceh Berdiskusi dan Berekspresi di Halaman Jeda

31 Agustus 2026 - 08:08 WIB

AHY Inginkan Pimpinan Demokrat Yang Efektif Dan Berdampak Nyata Bagi Masyarakat 

30 Agustus 2026 - 23:31 WIB

Masyarakat Beutong Ateuh Banggalang Ingin Merdeka di Tanah Sendiri dengan Menolak Tambang Perusak Alam

30 Agustus 2026 - 23:12 WIB

Dikpol di Bojonggede, Haji Fikri Kenalkan PKS sebagai Partai Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

30 Agustus 2026 - 19:47 WIB

Suroto Ketua RW 06 Cengbar Jakbar: Bangun Kepedulian dan Kebersamaan Warga Dengan Semangat Kemerdekaan

30 Agustus 2026 - 13:52 WIB

Pedang, Amanah, dan Marwah Linge

30 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Manusia Di Antara Dua Setan 

30 Agustus 2026 - 08:25 WIB

Trending di RAGAM