Wartatrans.com, KOLOM — Jahil, dalam ingatan masa kecil, sering kali lahir bukan dari niat jahat, melainkan dari ketidaktahuan yang dibungkus tawa. Ia sebentuk kenakalan ringan, yang kerap berakhir begitu usia bertambah dan kesadaran tumbuh.
Saya pernah—dan barangkali hanya sekali—berbuat jahil. Itu terjadi ketika masih duduk di bangku SMP, kelas satu semester awal, di kawasan Petogogan, Kebayoran Baru. Hari itu sekolah memulangkan siswa lebih awal. Pulang ke rumah terasa terlalu pagi. Bersama beberapa kawan, kami sepakat menghabiskan waktu di Taman Puring.
Saat itu Taman Puring belum seperti sekarang. Pepohonan masih rimbun, udara teduh, dan ruang itu menjadi tempat pelarian banyak orang: anak-anak bermain, orang dewasa berbincang, sebagian lain—diam-diam—menyemai rasa. Di tengah hari bolong, kami melihat sepasang remaja berseragam putih abu-abu duduk berdekatan, larut dalam dunia mereka sendiri.

Di usia yang masih hijau, dengan keberanian yang dipinjam dari kebodohan kolektif, salah satu dari kami mengambil kerikil. Isyarat mata saling bertukar. Anggukan kecil. Batu melayang. Kami tertawa dan berlari secepat mungkin. Jahil—ya. Dewasa—belum tentu.
Entah karena malu, entah karena melihat kami tak lebih dari burung piyik yang ribut, pasangan itu tak mengejar. Peristiwa itu tinggal kenangan. Naik kelas dua, saya pindah sekolah ke Utan Kayu. Sejak itu, kenakalan serupa tak pernah terulang. Hidup, pelan-pelan, mengajarkan batas.
Namun pertanyaan itu kembali datang, bertahun-tahun kemudian, dalam konteks yang sama sekali berbeda: mengapa masih ada yang jahil?
Kali ini bukan kerikil yang dilemparkan, melainkan sesuatu yang lebih serius—lebih berdampak. “Rumah Budaya HMA” tiba-tiba “diambil” dari Google. Jejak digitalnya lenyap. Seolah rumah itu tak pernah ada, tak pernah berdiri, tak pernah menjadi ruang hidup bagi para penggiat seni dan budaya.

Jejak digital Rumah Budaya HMA yang kena jahil.
Ini bukan lagi jahil ala bocah SMP. Ini bukan tawa lalu lari. Ini tindakan yang mengusik ingatan kolektif, mengaburkan ruang ekspresi, dan mengerdilkan kerja-kerja kebudayaan yang selama ini dirawat dengan kesabaran.
Rumah Budaya HMA bukan sekadar bangunan atau titik di peta digital. Ia adalah ruang bertemu, tempat gagasan tumbuh, diskusi bersemi, dan seni mencari napasnya. Ia lahir dari semangat gotong royong, dari keyakinan bahwa kebudayaan harus punya rumah—bukan hanya di museum, tapi di tengah masyarakat.
Maka, ketika rumah itu “dijahili”, yang terusik bukan hanya pengelolanya, melainkan ekosistem seni itu sendiri. Menghapus keberadaan dari ruang digital hari ini sama artinya dengan membatasi akses publik, menyempitkan ruang dialog, dan secara perlahan meminggirkan ekspresi kultural.
Perlu ditegaskan: Rumah Budaya HMA masih berdiri. Pintu-pintunya belum tertutup. Aktivitas tetap berlangsung. Para seniman, pegiat budaya, dan komunitas masih berkarya di dalamnya.
Kepada siapa pun yang mungkin menganggap ini sekadar main-main: tolong, jangan jahil. Kebudayaan bukan arena iseng. Ia adalah kerja panjang, rapuh, dan membutuhkan saling percaya.
Dan kepada kawan-kawan penggiat seni: silakan tetap berkegiatan. Jangan ragu, jangan surut. Rumah ini masih ada—dan akan terus ada—selama semangat merawat kebudayaan tetap menyala.
Karena tidak semua yang bisa dihapus dari layar pantas dilenyapkan dari kehidupan.***
Duren Sawit 2026
























