Menu

Mode Gelap
Qariah Tunanetra Kalbar Raih Juara Nasional PTQ RRI Serunya Sidang Terbuka PBA SMA MBS Zam-Zam Hidupnya ‘Rumah Kecil” dalam Perjalanan Mudik Lebaran Keluarga Menjaga Nyawa di Perlintasan Sebidang Jelang Lebaran, Garuda Indonesia Hadirkan Program Diskon Tiket hingga 20% Tingkatkan Kelancaran Angkutan Lebaran 2026, KAI Daop 7 Tutup JPL 209 di Blitar

RAGAM

Catatan Halimah Munawir: Pulang Tanpa Pemberitahuan

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Pulang Tanpa Pemberitahuan Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Sejak awal, manusia hidup dalam ilusi kepemilikan. Kita merasa memiliki umur, rencana, bahkan esok hari. Padahal hidup tak lebih dari kontrak sepihak—tanpa klausul perpanjangan—di bawah kuasa mutlak Pemilik langit dan bumi. Sekaya apa pun seseorang, sepanjang apa pun daftar pencapaiannya, usia tetap bukan wilayah ikhtiar. Ia adalah hak prerogatif Allah SWT, tertutup dari segala bentuk interupsi.

Dalam tradisi Islam, dikenal keyakinan tentang tanda-tanda menjelang ajal, bahkan disebut rentang seratus hari sebelum napas terlepas. Namun waktu tidak bekerja dengan cara yang bisa dibaca kalender manusia. Ia bergerak senyap. Tanda-tanda itu sering hadir tanpa disadari, terkubur di balik rutinitas, ambisi, dan rasa aman palsu yang kita rawat setiap hari.

Ayah saya wafat tanpa aba-aba. Saat itu saya masih anak sekolah dasar. Tubuhnya sehat. Petang itu ia baru selesai membaca Al-Qur’an. Tak ada firasat, tak ada percakapan pamit. Lalu segalanya runtuh dalam hitungan menit: muntah darah, tubuh terjatuh, kepanikan, dan sunyi yang tak bisa dijelaskan dengan bahasa apa pun. Kami menangis, tapi tangis tak pernah mengubah apa-apa. Kematian tidak bernegosiasi.

Hari ini, duka kembali datang—dua sekaligus—dari sahabat terdekat. Fatin Papyrus Hamama kehilangan adik kandung. Ibu Lely Martiwi kehilangan anak tercinta. Dua peristiwa yang menegaskan satu hal: kematian tidak tunduk pada nalar keadilan manusia. Ia tidak memilih berdasarkan usia, kesiapan, atau siapa yang “pantas” pergi lebih dulu. Ia hanya datang ketika waktunya tiba.

Yang paling menyakitkan dari kematian bukanlah kepastiannya, melainkan ketidakpeduliannya. Ia datang ketika doa baru dimulai, ketika rencana belum rampung, ketika cinta belum sempat diucapkan. Ia menutup kontrak hidup secara sepihak, lalu meninggalkan manusia sibuk mencari makna di tengah kehilangan.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga mereka yang berpulang hari ini menuju rumah keabadian dalam husnul khotimah. Dan bagi kita yang masih bernapas, barangkali duka ini bukan sekadar kabar sedih, melainkan peringatan paling jujur: bahwa hidup bukan soal berapa lama kita tinggal, melainkan bagaimana kita siap dipanggil—kapan pun kontrak itu diputuskan.***

Duren Sawit – 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

2,7 Juta Pemudik Diproyeksikan Gunakan DAMRI, Tiket Mudik Lebaran Mulai Ramai Dipesan

3 Maret 2026 - 23:38 WIB

Raker 2026: Langkah Strategis PT Terminal Teluk Lamong Dorong Kolaborasi dan Inovasi

3 Maret 2026 - 22:46 WIB

Perkuat Layanan Maritim Global, SPJM Teken Kerja Sama Kemitraan Strategis dengan NORDEN A/S

3 Maret 2026 - 22:32 WIB

KNG Raya Cabang Bogor, Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama

3 Maret 2026 - 20:47 WIB

Upaya Pencegahan Narkotika, Citilink dan BNN Perkuat Sinergi

3 Maret 2026 - 09:47 WIB

Pelindo Solusi Digital dan Forwahub Hadirkan Peduli Anak Yatim di Momen Ramadhan

2 Maret 2026 - 20:32 WIB

Kunjungi Terminal Teluk Lamong, Wali Kota Surabaya Pererat Kolaborasi Pengembangan Layanan Logistik

2 Maret 2026 - 16:55 WIB

Konsisten Taat Pajak, SPJM Kembali dapat Apresiasi dari DJP Sulselbartra

2 Maret 2026 - 10:28 WIB

Menag ‘Kepeleset’ Bicara dan Minta Maaf: Zakat Rukun Islam yang Wajib Ditunaikan

1 Maret 2026 - 09:32 WIB

IPC TPK Perkuat Kemandirian Generasi Muda Pesisir Lewat Sertifikasi Kompetensi Digital

28 Februari 2026 - 05:23 WIB

Trending di ANJUNGAN