Menu

Mode Gelap
KAI Daop 7 Madiun Lakukan 115 Sosialisasi Keselamatan Perlintasan Sepanjang 2025 KAI Daop 1 Jakarta Salurkan Dana TJSL Rp1,9 Miliar Sepanjang 2025 KAI dan Railfans Berkumpul di Balaiyasa Manggarai dalam Community Gathering 2026 PELNI Logistics Targetkan Bongkar Muat Tumbuh Positif di 2026, Tembus 56.482 TEUs Long Weekend Telah Tiba: DAMRI Hadirkan Promo Perjalanan ke Yogyakarta dan Denpasar, Mulai 200 Ribuan Aja! IPC Terminal Petikemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs Sepanjang 2025

RAGAM

Catatan Halimah Munawir: Pulang Tanpa Pemberitahuan

badge-check


					Catatan Halimah Munawir: Pulang Tanpa Pemberitahuan Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Sejak awal, manusia hidup dalam ilusi kepemilikan. Kita merasa memiliki umur, rencana, bahkan esok hari. Padahal hidup tak lebih dari kontrak sepihak—tanpa klausul perpanjangan—di bawah kuasa mutlak Pemilik langit dan bumi. Sekaya apa pun seseorang, sepanjang apa pun daftar pencapaiannya, usia tetap bukan wilayah ikhtiar. Ia adalah hak prerogatif Allah SWT, tertutup dari segala bentuk interupsi.

Dalam tradisi Islam, dikenal keyakinan tentang tanda-tanda menjelang ajal, bahkan disebut rentang seratus hari sebelum napas terlepas. Namun waktu tidak bekerja dengan cara yang bisa dibaca kalender manusia. Ia bergerak senyap. Tanda-tanda itu sering hadir tanpa disadari, terkubur di balik rutinitas, ambisi, dan rasa aman palsu yang kita rawat setiap hari.

Ayah saya wafat tanpa aba-aba. Saat itu saya masih anak sekolah dasar. Tubuhnya sehat. Petang itu ia baru selesai membaca Al-Qur’an. Tak ada firasat, tak ada percakapan pamit. Lalu segalanya runtuh dalam hitungan menit: muntah darah, tubuh terjatuh, kepanikan, dan sunyi yang tak bisa dijelaskan dengan bahasa apa pun. Kami menangis, tapi tangis tak pernah mengubah apa-apa. Kematian tidak bernegosiasi.

Hari ini, duka kembali datang—dua sekaligus—dari sahabat terdekat. Fatin Papyrus Hamama kehilangan adik kandung. Ibu Lely Martiwi kehilangan anak tercinta. Dua peristiwa yang menegaskan satu hal: kematian tidak tunduk pada nalar keadilan manusia. Ia tidak memilih berdasarkan usia, kesiapan, atau siapa yang “pantas” pergi lebih dulu. Ia hanya datang ketika waktunya tiba.

Yang paling menyakitkan dari kematian bukanlah kepastiannya, melainkan ketidakpeduliannya. Ia datang ketika doa baru dimulai, ketika rencana belum rampung, ketika cinta belum sempat diucapkan. Ia menutup kontrak hidup secara sepihak, lalu meninggalkan manusia sibuk mencari makna di tengah kehilangan.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga mereka yang berpulang hari ini menuju rumah keabadian dalam husnul khotimah. Dan bagi kita yang masih bernapas, barangkali duka ini bukan sekadar kabar sedih, melainkan peringatan paling jujur: bahwa hidup bukan soal berapa lama kita tinggal, melainkan bagaimana kita siap dipanggil—kapan pun kontrak itu diputuskan.***

Duren Sawit – 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Long Weekend Telah Tiba: DAMRI Hadirkan Promo Perjalanan ke Yogyakarta dan Denpasar, Mulai 200 Ribuan Aja!

14 Januari 2026 - 20:52 WIB

IPC Terminal Petikemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs Sepanjang 2025

14 Januari 2026 - 20:34 WIB

Direktur CV Tanoga Trading Company Salurkan Bantuan dari BFLF untuk Korban Banjir Bandang di Desa Tebuk Aceh Tengah

14 Januari 2026 - 15:41 WIB

Relawan Salurkan Bantuan dan Air Bersih untuk Korban Bencana di Silihnara

14 Januari 2026 - 13:19 WIB

KAI Daop 7 Madiun Salurkan Rp778 Juta untuk Program Bina Lingkungan Sepanjang 2025

14 Januari 2026 - 11:36 WIB

Trending di RAGAM