Menu

Mode Gelap
Indra Adhari Rilis ‘Lima Tahun’ Dimomen HUT RI: September Rilis Single di Label Internasional Malaysia! AHY Inginkan Pimpinan Demokrat Yang Efektif Dan Berdampak Nyata Bagi Masyarakat  Masyarakat Beutong Ateuh Banggalang Ingin Merdeka di Tanah Sendiri dengan Menolak Tambang Perusak Alam KAI Perkuat Safety at Scale di Tengah Pertumbuhan Pelanggan 8,32 Persen Dikpol di Bojonggede, Haji Fikri Kenalkan PKS sebagai Partai Islam Rahmatan Lil ‘Alamin Jakarta Butuh Hub Logistik

RAGAM

Catatan Halimah Munawir: Pulang Tanpa Pemberitahuan

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Pulang Tanpa Pemberitahuan Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Sejak awal, manusia hidup dalam ilusi kepemilikan. Kita merasa memiliki umur, rencana, bahkan esok hari. Padahal hidup tak lebih dari kontrak sepihak—tanpa klausul perpanjangan—di bawah kuasa mutlak Pemilik langit dan bumi. Sekaya apa pun seseorang, sepanjang apa pun daftar pencapaiannya, usia tetap bukan wilayah ikhtiar. Ia adalah hak prerogatif Allah SWT, tertutup dari segala bentuk interupsi.

Dalam tradisi Islam, dikenal keyakinan tentang tanda-tanda menjelang ajal, bahkan disebut rentang seratus hari sebelum napas terlepas. Namun waktu tidak bekerja dengan cara yang bisa dibaca kalender manusia. Ia bergerak senyap. Tanda-tanda itu sering hadir tanpa disadari, terkubur di balik rutinitas, ambisi, dan rasa aman palsu yang kita rawat setiap hari.

Ayah saya wafat tanpa aba-aba. Saat itu saya masih anak sekolah dasar. Tubuhnya sehat. Petang itu ia baru selesai membaca Al-Qur’an. Tak ada firasat, tak ada percakapan pamit. Lalu segalanya runtuh dalam hitungan menit: muntah darah, tubuh terjatuh, kepanikan, dan sunyi yang tak bisa dijelaskan dengan bahasa apa pun. Kami menangis, tapi tangis tak pernah mengubah apa-apa. Kematian tidak bernegosiasi.

Hari ini, duka kembali datang—dua sekaligus—dari sahabat terdekat. Fatin Papyrus Hamama kehilangan adik kandung. Ibu Lely Martiwi kehilangan anak tercinta. Dua peristiwa yang menegaskan satu hal: kematian tidak tunduk pada nalar keadilan manusia. Ia tidak memilih berdasarkan usia, kesiapan, atau siapa yang “pantas” pergi lebih dulu. Ia hanya datang ketika waktunya tiba.

Yang paling menyakitkan dari kematian bukanlah kepastiannya, melainkan ketidakpeduliannya. Ia datang ketika doa baru dimulai, ketika rencana belum rampung, ketika cinta belum sempat diucapkan. Ia menutup kontrak hidup secara sepihak, lalu meninggalkan manusia sibuk mencari makna di tengah kehilangan.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga mereka yang berpulang hari ini menuju rumah keabadian dalam husnul khotimah. Dan bagi kita yang masih bernapas, barangkali duka ini bukan sekadar kabar sedih, melainkan peringatan paling jujur: bahwa hidup bukan soal berapa lama kita tinggal, melainkan bagaimana kita siap dipanggil—kapan pun kontrak itu diputuskan.***

Duren Sawit – 2026

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

AHY Inginkan Pimpinan Demokrat Yang Efektif Dan Berdampak Nyata Bagi Masyarakat 

30 Agustus 2026 - 23:31 WIB

Masyarakat Beutong Ateuh Banggalang Ingin Merdeka di Tanah Sendiri dengan Menolak Tambang Perusak Alam

30 Agustus 2026 - 23:12 WIB

Dikpol di Bojonggede, Haji Fikri Kenalkan PKS sebagai Partai Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

30 Agustus 2026 - 19:47 WIB

Suroto Ketua RW 06 Cengbar Jakbar: Bangun Kepedulian dan Kebersamaan Warga Dengan Semangat Kemerdekaan

30 Agustus 2026 - 13:52 WIB

Pedang, Amanah, dan Marwah Linge

30 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Manusia Di Antara Dua Setan 

30 Agustus 2026 - 08:25 WIB

BNN Kabupaten Gianyar Meriahkan Peringatan Hari Pramuka ke-65 melalui Pameran UMKM, Expo dan Panggung Kreatif, 50 Anggota Pramuka di Tes Urin

29 Agustus 2026 - 18:20 WIB

Agnez Mo Inspirasi Perdana di Indonesia Berkarya Besutan InJourney Airports

29 Agustus 2026 - 16:33 WIB

Sumber Air Baku IPA Kudu Menurun, Pelanggan PDAM di Semarang Diminta Siaga

29 Agustus 2026 - 15:12 WIB

Dua Dekade Menghidupkan Kembali Suara Radio Rimba Raya

29 Agustus 2026 - 11:51 WIB

Trending di RAGAM