Menu ✖

Mode Gelap
Pendapatan Hasnur di Kuartal III-2026 Meningkat 5,57% ACC Hadir Dengan Promo Menarik di OJK FinExpo 2026 PNM Tanam 5.850 Pohon Endemik, Perkuat Upaya Pelestarian Lingkungan di Tujuh Daerah Rekomendasi Pra-Munas APPSI, Sudaryono Diusung Kembali Jadi Ketua Umum 2026-2031 Road to IMOS 2026, FIFGROUP Berikan Pengalaman Wisata Edukatif bagi 34 Anak Panti Asuhan Jalin Kerja Sama dengan RS Pusat Pertamina, DAMRI Perkuat Layanan Kesehatan Bagi Karyawan

RAGAM

Catatan Halimah Munawir: Pulang Tanpa Pemberitahuan

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Pulang Tanpa Pemberitahuan Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Sejak awal, manusia hidup dalam ilusi kepemilikan. Kita merasa memiliki umur, rencana, bahkan esok hari. Padahal hidup tak lebih dari kontrak sepihak—tanpa klausul perpanjangan—di bawah kuasa mutlak Pemilik langit dan bumi. Sekaya apa pun seseorang, sepanjang apa pun daftar pencapaiannya, usia tetap bukan wilayah ikhtiar. Ia adalah hak prerogatif Allah SWT, tertutup dari segala bentuk interupsi.

Dalam tradisi Islam, dikenal keyakinan tentang tanda-tanda menjelang ajal, bahkan disebut rentang seratus hari sebelum napas terlepas. Namun waktu tidak bekerja dengan cara yang bisa dibaca kalender manusia. Ia bergerak senyap. Tanda-tanda itu sering hadir tanpa disadari, terkubur di balik rutinitas, ambisi, dan rasa aman palsu yang kita rawat setiap hari.

Ayah saya wafat tanpa aba-aba. Saat itu saya masih anak sekolah dasar. Tubuhnya sehat. Petang itu ia baru selesai membaca Al-Qur’an. Tak ada firasat, tak ada percakapan pamit. Lalu segalanya runtuh dalam hitungan menit: muntah darah, tubuh terjatuh, kepanikan, dan sunyi yang tak bisa dijelaskan dengan bahasa apa pun. Kami menangis, tapi tangis tak pernah mengubah apa-apa. Kematian tidak bernegosiasi.

Hari ini, duka kembali datang—dua sekaligus—dari sahabat terdekat. Fatin Papyrus Hamama kehilangan adik kandung. Ibu Lely Martiwi kehilangan anak tercinta. Dua peristiwa yang menegaskan satu hal: kematian tidak tunduk pada nalar keadilan manusia. Ia tidak memilih berdasarkan usia, kesiapan, atau siapa yang “pantas” pergi lebih dulu. Ia hanya datang ketika waktunya tiba.

Yang paling menyakitkan dari kematian bukanlah kepastiannya, melainkan ketidakpeduliannya. Ia datang ketika doa baru dimulai, ketika rencana belum rampung, ketika cinta belum sempat diucapkan. Ia menutup kontrak hidup secara sepihak, lalu meninggalkan manusia sibuk mencari makna di tengah kehilangan.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga mereka yang berpulang hari ini menuju rumah keabadian dalam husnul khotimah. Dan bagi kita yang masih bernapas, barangkali duka ini bukan sekadar kabar sedih, melainkan peringatan paling jujur: bahwa hidup bukan soal berapa lama kita tinggal, melainkan bagaimana kita siap dipanggil—kapan pun kontrak itu diputuskan.***

Duren Sawit – 2026

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

ACC Hadir Dengan Promo Menarik di OJK FinExpo 2026

3 November 2026 - 08:26 WIB

Rekomendasi Pra-Munas APPSI, Sudaryono Diusung Kembali Jadi Ketua Umum 2026-2031

3 November 2026 - 01:39 WIB

Road to IMOS 2026, FIFGROUP Berikan Pengalaman Wisata Edukatif bagi 34 Anak Panti Asuhan

2 November 2026 - 21:18 WIB

Jalin Kerja Sama dengan RS Pusat Pertamina, DAMRI Perkuat Layanan Kesehatan Bagi Karyawan

2 November 2026 - 20:10 WIB

Pelindo Regional 4 Peduli, Salurkan Air Bersih untuk Warga Pesisir Makassar

2 November 2026 - 20:03 WIB

Pemuda Kalai Anim Didorong Kuasai Jurnalistik, Suarakan Aspirasi Kampung Lewat Media

2 November 2026 - 15:53 WIB

Formas dan BNPB Bahas Uji Coba Kembali Cairan Penanggulangan Karhutla di Sumatera Selatan

2 November 2026 - 14:19 WIB

H. Fikri Hudi Oktiarwan Gelar Pendidikan Politik Kewarganegaraan, Diikuti 300 Peserta dari Berbagai Kecamatan di Kabupaten Bogor

2 November 2026 - 13:22 WIB

Ananda Omesh Punya Banyak Cerita dengan Kereta, Jadi Brand Ambassador Kampanye Ayo Naik Kereta

2 November 2026 - 10:29 WIB

Teuku Iskandar Muda pimpin ORARI Bener Meriah, Muslok pertama tetapkan arah organisasi

1 November 2026 - 17:52 WIB

Trending di RAGAM