Wartatrans.com, JAKARTA — Ada yang menarik setiap kali saya pulang kampung. Bukan hanya tentang bertemu keluarga, menikmati kopi, atau kembali menapaki jalan-jalan yang pernah akrab dengan masa kecil. Ada sesuatu yang sering luput dari perhatian: sumur tua di halaman rumah.
Di sejumlah desa, tradisi menimba air dari sumur masih bertahan. Padahal teknologi pompa air sudah demikian mudah diperoleh. Dengan sebuah pompa, air bisa dialirkan lebih praktis untuk hampir seluruh kebutuhan rumah tangga – memasak, mencuci piring, mencuci pakaian, mengepel lantai, hingga mandi.

Namun sumur tetap ada. Saya menemukan fenomena yang menarik ketika pulang ke kampung leluhur, tempat saya dilahirkan, maupun ke kampung tempat suami saya dilahirkan.
Sumur-sumur itu dibuat jauh sebelum saya lahir. Tetapi hingga hari ini, airnya masih tersedia.
Musim panas datang, sumur tidak serta-merta mengering. Air ditimba berkali-kali. Ember naik, air berkurang. Tetapi beberapa saat kemudian permukaannya kembali. Seolah-olah tanah mempunyai cara sendiri untuk mengisi kembali apa yang kita ambil.
Semakin ditimba, seakan semakin terasa airnya. Di sinilah saya kemudian berpikir: mungkin ada sesuatu yang sedang diajarkan alam kepada kita.
Teknologi memang memberikan kenyamanan. Pompa membuat pekerjaan menjadi lebih ringan. Kita tidak perlu lagi menarik tali, mengangkat ember, atau berjalan berulang kali ke bibir sumur.
Tetapi teknologi bukan selalu berarti lebih dekat dengan alam. Kadang-kadang, justru teknologi membuat kita lupa membaca alam.
Sumur tua bekerja dengan hukum alam yang tidak kita rancang. Ia bergantung pada lapisan tanah, mata air, resapan, dan keseimbangan lingkungan di sekitarnya. Kita hanya mengambil secukupnya, lalu menunggu alam mengisinya kembali.
Sementara ketika air dipompa dari kedalaman tertentu, kebutuhan manusia bisa membuat kita terus menariknya. Ketika debit berkurang, solusinya sering kali sederhana: gali lebih dalam.
Lalu lebih dalam lagi. Sampai pada satu titik kita bertanya: apakah air memang semakin sedikit, ataukah cara kita mengambilnya yang semakin besar?
Tentu tidak berarti semua teknologi buruk dan semua tradisi lama selalu benar. Pompa air sangat membantu kehidupan manusia, terutama ketika sumber air sulit dijangkau atau kebutuhan air sudah jauh lebih besar.
Tetapi sumur-sumur tua itu seperti menyimpan sebuah pesan sederhana: Alam memiliki sistemnya sendiri.
Manusia dahulu mungkin belum mengenal istilah konservasi air, keberlanjutan, ekologi, atau teknologi ramah lingkungan. Tetapi mereka hidup dengan alam dan belajar dari tanda-tandanya.
Mereka menimba. Tidak menyedot. Mereka mengambil air dengan tenaga tubuh dan membiarkan tanah bekerja menurut hukumnya.
Mungkin karena itu, sumur tidak hanya menjadi tempat mengambil air. Ia juga menjadi bagian dari kebudayaan. Ada percakapan di bibir sumur. Ada perjumpaan. Ada suara ember menyentuh permukaan air. Ada ritme kehidupan yang perlahan-lahan menghilang ketika semuanya digantikan tombol dan mesin.
Hari ini kita mungkin memiliki teknologi yang jauh lebih canggih. Tetapi pulang kampung membuat saya sadar: kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan cara lama.
Ada tradisi yang seharusnya tidak sekadar dipertahankan karena nostalgia, tetapi dipelajari kembali karena di dalamnya mungkin tersimpan pengetahuan tentang bagaimana manusia hidup bersama alam.
Sumur tua itu mengajarkan saya satu hal: Jangan hanya bertanya seberapa banyak yang bisa kita ambil dari alam. Sesekali, bertanyalah apakah alam masih mempunyai kesempatan untuk mengisi dirinya kembali.
Sebab barangkali, yang membuat sumur itu tidak pernah kering bukan semata-mata karena airnya banyak.
Melainkan karena sejak dahulu manusia tahu: mengambil air juga berarti menjaga sumber air.
Dan di antara suara ember, tali, serta air yang ditimba perlahan, ada sebuah kebijaksanaan lama yang mungkin sedang kita lupakan.***


























