Menu

Mode Gelap
KAI Daop 7 Madiun dan Kejari Blitar Teken MoU Penanganan Hukum Perdata dan TUN Update KA Mudik: Penjualan Tiket Tembus 2,1 Juta, Okupansi Capai 47,1 Persen IPC TPK Hadirkan Kepedulian Ramadan Lewat 1.600 Paket Takjil Gratis untuk TKBM dan Pengguna Jasa Tahun 2025, FIF Catatkan Laba Bersih Rp4,63 Triliun  Pemain “Istiqomah Cinta” Berbagi Kebahagiaan Bersama Anak Panti Asuhan Begini Strategi J&T Cargo Siapkan Layanan di Ramadhan

SENI BUDAYA

Catatan LK Ara: Puisi Bencana Bicara Apa Saja

badge-check


 Catatan LK Ara: Puisi Bencana Bicara Apa Saja Perbesar

Wartatrans.com, SASTRA — Puisi bencana sering disangka hanya berbicara tentang air yang naik, tanah yang runtuh, atau rumah yang hanyut. Padahal, bencana dalam puisi jarang berhenti pada peristiwa. Ia bergerak lebih jauh: menyentuh bahasa, etika, ingatan, bahkan iman manusia. Bencana hanyalah pintu; yang berbicara sesungguhnya adalah manusia di baliknya.

Pertama, puisi bencana bicara tentang retaknya hubungan manusia dengan alam. Alam tidak hadir sebagai musuh, melainkan sebagai cermin. Air yang meluap, hutan yang hilang, tanah yang longsor—semuanya bukan sekadar gejala alam, tetapi tanda rusaknya adab. Dalam puisi, banjir sering lebih jujur daripada laporan teknis: ia mengungkap keserakahan yang tak mau disebut, kebijakan yang abai, dan tangan-tangan yang memotong akar tanpa rasa bersalah. Maka, bencana dalam puisi bukan hukuman buta, melainkan bahasa alam yang sedang menegur.

Kedua, puisi bencana bicara tentang kelas dan ketimpangan. Tidak semua orang tenggelam dengan cara yang sama. Dalam larik-larik puisi, yang hanyut seringkali adalah rumah miskin, sawah kecil, dan nama-nama yang tak tercatat. Puisi mencatat apa yang sering dihapus statistik: siapa yang paling dulu kehilangan, siapa yang paling lama menunggu bantuan, siapa yang suaranya tidak sampai ke podium. Di sini, bencana menjadi lensa sosial—memperlihatkan bahwa penderitaan memiliki alamat.

Ketiga, puisi bencana bicara tentang bahasa dan keheningan. Ada saat ketika kata-kata resmi terasa terlalu kering untuk menampung duka. Puisi hadir sebagai bisikan: lirih, patah, kadang terputus. Justru dalam sunyi itulah makna bekerja. Banyak puisi bencana tidak berteriak, karena duka yang terlalu dalam sering memilih diam. Diam dalam puisi bukan kekosongan, melainkan ruang bagi pembaca untuk ikut merasakan, bukan sekadar memahami.

Keempat, puisi bencana bicara tentang iman dan kerendahan diri. Dalam tradisi religius dan tasawuf, bencana sering dibaca sebagai pengingat keterbatasan manusia. Puisi tidak tergesa menyalahkan Tuhan; yang dipertanyakan justru posisi manusia: sudahkah kita tahu batas? Sudahkah kita memandang alam sebagai amanah, bukan objek? Di titik ini, puisi bencana berubah menjadi zikir—mengajak kembali pada sikap hamba, bukan penguasa.

Kelima, puisi bencana bicara tentang ingatan dan perlawanan terhadap lupa. Setelah air surut dan kamera pergi, puisi tetap tinggal. Ia menjadi arsip emosional, menyimpan nama, bau lumpur, suara tangis, dan doa yang tak terdengar. Puisi menolak normalisasi lupa. Ia mengingatkan bahwa bencana bukan peristiwa sekali lalu, melainkan jejak panjang yang membentuk cara hidup, cara berpikir, dan cara berdoa.

Akhirnya, puisi bencana bicara tentang harapan yang tidak naif. Bukan optimisme kosong, melainkan harapan yang lahir dari kesadaran. Harapan untuk belajar, untuk menata ulang hubungan dengan alam, sesama, dan diri sendiri. Dalam puisi, harapan sering muncul kecil—seperti tangan yang saling menggenggam, atau langkah yang tetap berjalan meski lumpur belum kering.

Jadi, ketika ditanya puisi bencana bicara apa saja, jawabannya: ia bicara tentang segalanya yang sering kita hindari. Tentang kesalahan, keserakahan, iman, sunyi, dan ingatan. Tentang manusia yang rapuh, namun masih diberi kesempatan untuk belajar menjadi lebih rendah hati. Puisi bencana, pada akhirnya, bukan hanya tentang dunia yang rusak, tetapi tentang kemungkinan manusia untuk berubah.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pemain “Istiqomah Cinta” Berbagi Kebahagiaan Bersama Anak Panti Asuhan

4 Maret 2026 - 21:24 WIB

Roda Kematian Militerisme: Kemanusiaan yang Tergerus Peradaban Keras – Refleksi Lukisan Munadi

2 Maret 2026 - 19:16 WIB

Kunjungi Terminal Teluk Lamong, Wali Kota Surabaya Pererat Kolaborasi Pengembangan Layanan Logistik

2 Maret 2026 - 16:55 WIB

“Tobat Woy!” Jadi Magnet, Para Pencari Tuhan Jilid 19 Rajai Rating Sahur Ramadan 2026

27 Februari 2026 - 14:10 WIB

Sinetron Lorong Waktu Jilid 2 Hadirkan Petualangan Sarat Makna di Ramadan 1447 H

27 Februari 2026 - 11:13 WIB

Swara Reiki January: Menjaga Iman di Negeri Ratu Elizabeth, Menemukan Makna Islam di Inggris

27 Februari 2026 - 09:52 WIB

Baiti Syaghaf Bersyukur Tamara di “Lorong Waktu Jilid 2” Makin Dicintai, Aktingnya Dipuji Lebih Dewasa

26 Februari 2026 - 21:50 WIB

Bangga Jadi WNI, Swara Reiki January Pilih Kembali ke Merah Putih Usai Raih Gelar Sarjana di London

26 Februari 2026 - 17:30 WIB

Diawali Santunan Anak Yatim, Nita Thalia Jalani Operasi Facelift di Klinik Bedah Plastik Queen Sunter

25 Februari 2026 - 20:37 WIB

PJBW Pekan ke-64: Wartawan Berbagi Takjil dan Sedekah Barang untuk Anak Yatim dan Kaum Dhuafa

23 Februari 2026 - 20:39 WIB

Trending di RAGAM