Menu

Mode Gelap
Operator Bus Listrik Terbanyak di Indonesia, DAMRI Operasikan 316 Unit Bus Listrik untuk Layanan Transjakarta KAI Siapkan Transformasi Stasiun Gambir Jadi Hub Transportasi Terintegrasi PNM Tak Hanya Dampingi Usaha, Harapan Pendidikan Anak Nasabah Ikut Dijaga Radio Rimba Raya Resmi Ditetapkan Sebagai Situs Cagar Budaya Keselamatan Muatan Kapal Diperkuat, Kemenhub Siapkan Pelaksanaan CIC 2026 Bhayangkari dan Polwan Peduli Korban Kebakaran Muara Angke, Salurkan Ratusan Paket Bantuan

SENI BUDAYA

Roda Kematian Militerisme: Kemanusiaan yang Tergerus Peradaban Keras – Refleksi Lukisan Munadi

badge-check


 Roda Kematian Militerisme: Kemanusiaan yang Tergerus Peradaban Keras – Refleksi Lukisan Munadi Perbesar

Wartatrans.com, BANTEN — Perang, kekerasan, dan persenjataan berat—tank, roket, bom nuklir, hingga drone—adalah produk peradaban modern yang lahir dari kecanggihan olah pikir manusia. Namun justru di titik inilah paradoks kemanusiaan mengemuka: ketika rasionalitas dan teknologi mencapai puncaknya, rasa kemanusiaan kerap runtuh dan kehilangan arah. Pertanyaan mendasarnya menjadi mendesak untuk diajukan kembali: bagaimana kemanusiaan dapat berdiri tegak, lurus, dan berakar pada nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri?

Persenjataan keras sebagai hasil karya manusia modern sering dilegitimasi atas nama bela diri, bela kelompok, bela negara, atau stabilitas global. Namun, di balik alasan-alasan tersebut, patut dipertanyakan ulang: sejauh mana pembenaran itu masih layak secara moral dan kultural? Ketika kekerasan terorganisasi dilembagakan, perang tidak lagi sekadar konflik, melainkan sebuah sistem—sebuah roda kematian yang terus berputar tanpa empati.

Berbeda dengan teknologi perang modern yang bersifat destruktif massal, ilmu bela diri tradisional seperti silat, kung fu, beksi, taekwondo, dan lainnya lahir dari etika pengendalian diri. Ilmu-ilmu ini menekankan pelumpuhan, bukan pemusnahan; pertahanan, bukan agresi. Dalam konteks ini, bela diri tradisional merepresentasikan nilai peradaban yang masih memelihara kesadaran moral—bahwa kekuatan harus dikendalikan oleh nurani dan keadilan, dan hanya digunakan dalam kondisi yang benar-benar mendesak.

Di tengah realitas kemanusiaan hari ini—ketika penghancuran dan pembunuhan kerap dinormalisasi—pertanyaan etis menjadi semakin relevan: masih pantaskah kita membiarkan pelanggaran hukum dan kekerasan terus berlangsung tanpa rasa bersalah kolektif? Di sinilah seni mengambil peran penting sebagai ruang refleksi, kritik, dan perlawanan simbolik terhadap banalitas kekerasan.

Lukisan karya Munadi berjudul Roda Kematian Militerisme menjadi medium perenungan tersebut. Menggunakan akrilik di atas kanvas berukuran 50 x 60 cm, karya ini tidak sekadar menghadirkan visual, melainkan menghadirkan kegelisahan zaman. Lukisan ini merespons eskalasi konflik dan ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dalam relasinya dengan Iran, yang mencerminkan wajah militerisme global kontemporer.

Melalui simbol, warna, dan gestur visual, Munadi menghadirkan perang bukan sebagai peristiwa heroik, melainkan sebagai siklus kematian yang terus berulang—tanpa akhir, tanpa pemenang sejati. Roda menjadi metafora kuat: ia berputar, melindas, dan menyingkirkan kemanusiaan yang rapuh di bawahnya. Dalam perspektif budaya, karya ini adalah kritik terhadap peradaban keras yang menjadikan teknologi dan kekuatan militer sebagai ukuran keunggulan, sembari mengabaikan nilai empati, keadilan, dan keberadaban.

Pada akhirnya, Roda Kematian Militerisme mengajak kita untuk kembali menundukkan kepala ke tanah—bukan sebagai simbol kekalahan, tetapi sebagai kesadaran akan asal-usul kemanusiaan. Dari tanah, manusia berasal; dan kepada nilai-nilai kemanusiaanlah seharusnya peradaban kembali berpijak.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Pelindo Regional 2 Banten Perkuat Kolaborasi dengan Pengguna Jasa melalui Voice of Customer

28 Agustus 2026 - 20:11 WIB

“Jakarta Kulminasi”, Lima Bola Besar Tandai Momentum 500 Tahun Jakarta

28 Agustus 2026 - 13:29 WIB

Film Black Coffee Angkat Perjuangan Tunanetra dan Budaya Gayo ke Layar Lebar

28 Agustus 2026 - 12:19 WIB

Tanta Ginting Tertantang Perankan Tan Malaka, Belajar Sejarah hingga Bangun Chemistry dengan Arswendy Bening Swara

27 Agustus 2026 - 20:22 WIB

PARFI ’56 Ingin Bangun Dana Abadi untuk Seniman

27 Agustus 2026 - 11:16 WIB

“Meradjoet Sendja” Hadirkan Orkestrasi Kebangsaan, Satukan Seni, Sejarah dan Kepedulian Sosial

26 Agustus 2026 - 17:14 WIB

7Dunia Seandainya Engkau Tahu Single Raih Ratusan Ribu Views YouTube, Kini Tembus Puluhan Ribu Stream Spotify

26 Agustus 2026 - 13:48 WIB

Lewat Panggung Seni, Guruh Sukarno Putra Ajak Masyarakat Peduli Anak Penyintas Kanker

25 Agustus 2026 - 13:31 WIB

Sandrinna Michelle Ungkap Serunya Bangun Chemistry di Sinetron *Seindah Masa Remaja

24 Agustus 2026 - 10:55 WIB

FIFGROUP Salurkan 1.200 Paket Sembako bagi Masyarakat Terdampak Gempa NTT

23 Agustus 2026 - 16:38 WIB

Trending di NASIONAL