Menu

Mode Gelap
Polres Pelabuhan Tanjung Priok Sasar Titik Rawan, Pastikan Kamtibmas Tetap Kondusif Program IPCC GEMBIRA Beri Dampak Nyata, IPCC Raih InvestorTrust CSR Awards 2026 Meriahkan HUT RI, Pelindo Jasa Maritim Beri Penghargaan kepada Kelurahan Tabaringan PNJ Bekali Pelaku Usaha Kota Depok dengan Pelatihan Basic Warehouse Operation Hadapi Manila Digger, Persib Pangkas Waktu Perjalanan dari Bandara Husein Dampak Ekonomi Gempa NTT Tembus Rp2,2 Triliun? Industri Asuransi Menghitung Exposure

SENI BUDAYA

Catatan LK Ara: Puisi Bencana Bicara Apa Saja

badge-check


 Catatan LK Ara: Puisi Bencana Bicara Apa Saja Perbesar

Wartatrans.com, SASTRA — Puisi bencana sering disangka hanya berbicara tentang air yang naik, tanah yang runtuh, atau rumah yang hanyut. Padahal, bencana dalam puisi jarang berhenti pada peristiwa. Ia bergerak lebih jauh: menyentuh bahasa, etika, ingatan, bahkan iman manusia. Bencana hanyalah pintu; yang berbicara sesungguhnya adalah manusia di baliknya.

Pertama, puisi bencana bicara tentang retaknya hubungan manusia dengan alam. Alam tidak hadir sebagai musuh, melainkan sebagai cermin. Air yang meluap, hutan yang hilang, tanah yang longsor—semuanya bukan sekadar gejala alam, tetapi tanda rusaknya adab. Dalam puisi, banjir sering lebih jujur daripada laporan teknis: ia mengungkap keserakahan yang tak mau disebut, kebijakan yang abai, dan tangan-tangan yang memotong akar tanpa rasa bersalah. Maka, bencana dalam puisi bukan hukuman buta, melainkan bahasa alam yang sedang menegur.

Kedua, puisi bencana bicara tentang kelas dan ketimpangan. Tidak semua orang tenggelam dengan cara yang sama. Dalam larik-larik puisi, yang hanyut seringkali adalah rumah miskin, sawah kecil, dan nama-nama yang tak tercatat. Puisi mencatat apa yang sering dihapus statistik: siapa yang paling dulu kehilangan, siapa yang paling lama menunggu bantuan, siapa yang suaranya tidak sampai ke podium. Di sini, bencana menjadi lensa sosial—memperlihatkan bahwa penderitaan memiliki alamat.

Ketiga, puisi bencana bicara tentang bahasa dan keheningan. Ada saat ketika kata-kata resmi terasa terlalu kering untuk menampung duka. Puisi hadir sebagai bisikan: lirih, patah, kadang terputus. Justru dalam sunyi itulah makna bekerja. Banyak puisi bencana tidak berteriak, karena duka yang terlalu dalam sering memilih diam. Diam dalam puisi bukan kekosongan, melainkan ruang bagi pembaca untuk ikut merasakan, bukan sekadar memahami.

Keempat, puisi bencana bicara tentang iman dan kerendahan diri. Dalam tradisi religius dan tasawuf, bencana sering dibaca sebagai pengingat keterbatasan manusia. Puisi tidak tergesa menyalahkan Tuhan; yang dipertanyakan justru posisi manusia: sudahkah kita tahu batas? Sudahkah kita memandang alam sebagai amanah, bukan objek? Di titik ini, puisi bencana berubah menjadi zikir—mengajak kembali pada sikap hamba, bukan penguasa.

Kelima, puisi bencana bicara tentang ingatan dan perlawanan terhadap lupa. Setelah air surut dan kamera pergi, puisi tetap tinggal. Ia menjadi arsip emosional, menyimpan nama, bau lumpur, suara tangis, dan doa yang tak terdengar. Puisi menolak normalisasi lupa. Ia mengingatkan bahwa bencana bukan peristiwa sekali lalu, melainkan jejak panjang yang membentuk cara hidup, cara berpikir, dan cara berdoa.

Akhirnya, puisi bencana bicara tentang harapan yang tidak naif. Bukan optimisme kosong, melainkan harapan yang lahir dari kesadaran. Harapan untuk belajar, untuk menata ulang hubungan dengan alam, sesama, dan diri sendiri. Dalam puisi, harapan sering muncul kecil—seperti tangan yang saling menggenggam, atau langkah yang tetap berjalan meski lumpur belum kering.

Jadi, ketika ditanya puisi bencana bicara apa saja, jawabannya: ia bicara tentang segalanya yang sering kita hindari. Tentang kesalahan, keserakahan, iman, sunyi, dan ingatan. Tentang manusia yang rapuh, namun masih diberi kesempatan untuk belajar menjadi lebih rendah hati. Puisi bencana, pada akhirnya, bukan hanya tentang dunia yang rusak, tetapi tentang kemungkinan manusia untuk berubah.***

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Ada Apa Gerangan? Pemikir Revolusioner Tentang Aceh Berdiskusi dan Berekspresi di Halaman Jeda

31 Agustus 2026 - 08:08 WIB

Indra Adhari Rilis ‘Lima Tahun’ Dimomen HUT RI: September Rilis Single di Label Internasional Malaysia!

31 Agustus 2026 - 02:12 WIB

Sempat Memanas Gegara Lagu, Valdy Nyonk dan Ecko Show Akhirnya Berdamai

30 Agustus 2026 - 13:12 WIB

Gubernur Jateng Mengingatkan DCF 2026 Agar Menjaga Identitas Daerah

30 Agustus 2026 - 09:32 WIB

Aset Master Lagu Diduga Dialihkan Tanpa Izin, Valdy Nyong Somasi Label Ide Timur 

30 Agustus 2026 - 08:50 WIB

Sastra Semesta #16 Rayakan 7 Tahun, Komunitas Seni Didorong Jadi Penggerak Pemajuan Kebudayaan

29 Agustus 2026 - 22:23 WIB

Pelindo Regional 2 Banten Perkuat Kolaborasi dengan Pengguna Jasa melalui Voice of Customer

28 Agustus 2026 - 20:11 WIB

“Jakarta Kulminasi”, Lima Bola Besar Tandai Momentum 500 Tahun Jakarta

28 Agustus 2026 - 13:29 WIB

Film Black Coffee Angkat Perjuangan Tunanetra dan Budaya Gayo ke Layar Lebar

28 Agustus 2026 - 12:19 WIB

Tanta Ginting Tertantang Perankan Tan Malaka, Belajar Sejarah hingga Bangun Chemistry dengan Arswendy Bening Swara

27 Agustus 2026 - 20:22 WIB

Trending di SENI BUDAYA