Wartatrans.com, SUMEDANG — Kirab budaya Mahkota Binokasih resmi dimulai di Sumedang pada 2 Mei 2026. Acara yang dibuka langsung oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ini menjadi simbol kuat pelestarian budaya Sunda sekaligus pengingat kejayaan Kerajaan Pajajaran.
Namun lebih dari sekadar seremoni, kirab ini mendapat sorotan khusus dari pinisepuh Sunda, Halimah Munawir, yang menilai kegiatan tersebut sebagai langkah penting dalam merawat ingatan kolektif masyarakat terhadap akar budaya.


Halimah Munawir (sebelah kanan) – bersama rekan di acara kirab budaya.
Dalam keterangannya, Halimah Munawir menyampaikan bahwa kirab Mahkota Binokasih bukan hanya perjalanan simbolik, melainkan bentuk nyata “ngamumule” atau memuliakan warisan leluhur.
“Mahkota Binokasih bukan sekadar benda pusaka, tetapi lambang kedaulatan, kehormatan, dan nilai-nilai luhur masyarakat Sunda. Kirab ini menghidupkan kembali kesadaran sejarah yang mulai pudar,” ujar Halimah.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan langsung Dedi Mulyadi yang menunggang kuda putih mengawal kereta kencana pembawa mahkota. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan komitmen pemimpin daerah dalam menjaga identitas budaya.
Kirab ini akan menempuh perjalanan panjang ke delapan titik di Jawa Barat, meliputi Ciamis, Tasikmalaya, Cianjur, Bogor, Depok, Karawang, Cirebon, hingga berakhir di Bandung pada 18 Mei 2026. Momentum ini sekaligus bertepatan dengan perayaan Milangkala Tatar Sunda serta hari jadi Kabupaten Sumedang ke-448.

Halimah Munawir (sebelah kiri) – bersama istri Raja Sumedang (sebelah kanan)
Halimah menekankan bahwa kegiatan semacam ini harus terus dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya sebagai agenda seremonial, tetapi juga sebagai sarana edukasi generasi muda.
“Anak-anak kita harus tahu dari mana mereka berasal. Jika sejarah dijauhkan dari masyarakat, maka identitas akan ikut hilang. Kirab ini menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini,” tambahnya.
Selain aspek budaya, kirab Mahkota Binokasih juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan pariwisata lokal di berbagai daerah yang dilalui. Pertunjukan seni tradisional yang mengiringi perjalanan kirab menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
Dengan dukungan tokoh adat seperti Halimah Munawir, kirab ini tidak hanya menjadi peristiwa budaya, tetapi juga gerakan kolektif untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal Sunda di tengah arus modernisasi.*** (PG)
























