Oleh: Drs. Aseph Aonuddien, M.Si
Wartatrans.com, BOGOR — Ada saat ketika perjalanan menuju sebuah tujuan tidak selalu dibayangi kepastian. Ada kecemasan, ada kekhawatiran, bahkan ada kesadaran bahwa medan yang dihadapi tidak mudah. Namun, di tengah semua itu, seorang manusia tetap harus memiliki optimisme. Sebab, perjuangan tidak hanya ditentukan oleh seberapa kuat manusia menghadapi keadaan, tetapi juga oleh kepada siapa ia menggantungkan harapan.
Renungan itu menemukan maknanya dalam perjalanan menuju kantor PKS di Cibinong, ketika membaca Surah Ibrahim ayat 37. Ayat tersebut mengisahkan doa Nabi Ibrahim ketika menempatkan sebagian keturunannya di sebuah lembah yang tandus, tidak memiliki tanaman, di dekat Baitullah yang dimuliakan.
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati…”
Secara manusiawi, situasi itu adalah gambaran tentang kecemasan. Sebuah lembah tanpa tanaman berarti keterbatasan, ketidakpastian dan tantangan untuk bertahan hidup. Namun Nabi Ibrahim tidak berhenti pada kecemasan. Ia mengubah kekhawatiran menjadi doa dan keyakinan.
Di situlah spirit “cemas tapi optimis” menemukan maknanya.
Kecemasan adalah sesuatu yang manusiawi. Apalagi ketika bekerja dan berjuang dalam situasi yang penuh persaingan, berhadapan dengan berbagai keterbatasan, serta berada dalam kondisi yang tidak selalu berpihak.
Tetapi kecemasan tidak boleh berubah menjadi keputusasaan.
Nabi Ibrahim memberikan pelajaran penting: ketika berada di “lembah yang tidak memiliki tanaman”, jangan hanya melihat tandusnya keadaan. Lihat pula siapa yang berada di dekat kita. Dalam ayat itu terdapat ungkapan “di dekat rumah-Mu yang dihormati”—sebuah penegasan bahwa di balik keterbatasan manusia terdapat kekuasaan Allah yang tidak terbatas.
Nabi Ibrahim kemudian memohon agar hati manusia dicondongkan kepada keluarganya dan agar mereka diberi rezeki. Doa itu ditutup dengan harapan agar mereka menjadi orang-orang yang bersyukur.
Pesannya jelas: ikhtiar harus berjalan bersama doa, kecemasan harus ditemani keyakinan, dan perjuangan harus dibingkai dengan tawakal.
Spirit itu kemudian diperkuat oleh firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 160:
“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu…”
Ayat ini bukan ajakan untuk mengabaikan realitas atau menganggap ringan sebuah persaingan. Justru sebaliknya, manusia tetap harus membaca keadaan dengan jernih, bekerja keras, memperbaiki strategi dan membangun kekuatan.
Namun pada akhirnya, manusia menyadari bahwa ada kekuatan yang melampaui seluruh perhitungan manusia.
Jika pertolongan Allah hadir, tidak ada kekuatan yang mampu mengalahkan. Sebaliknya, ketika pertolongan itu tidak ada, kepada siapa lagi manusia menggantungkan harapan?
Karena itu, optimisme seorang pejuang bukan optimisme kosong. Ia lahir dari keyakinan yang kemudian diterjemahkan menjadi kerja nyata.
Cemas boleh. Takut boleh. Menghitung segala risiko juga perlu. Tetapi menyerah bukan pilihan.
Sebab boleh jadi hari ini kita sedang berada di sebuah “lembah yang tidak mempunyai tanaman”. Namun sejarah para nabi mengajarkan bahwa lembah tandus pun dapat menjadi tempat tumbuhnya peradaban ketika manusia berikhtiar, berdoa dan bertawakal kepada Allah.
Maka, dalam menghadapi persaingan dan situasi sulit, jangan hanya bertanya: seberapa berat tantangan yang ada di depan kita?
Tetapi tanyakan pula: seberapa besar keyakinan kita kepada Allah yang memiliki seluruh jalan keluar?
Di situlah kecemasan menemukan batasnya, dan optimisme mendapatkan pijakannya.
Cemas, tetapi tetap optimis. Berjuang, tetapi tidak kehilangan doa. Berikhtiar, tetapi tetap bertawakal.
Karena ketika Allah menjadi tempat bergantung, manusia tidak pernah benar-benar berjalan sendirian. ***

(Penulis adalah pendakwah, aktivis sosial keagamaan, dan Dewan Pakar PKS)





















