Penulis: Ki Darmaningtyas (Pengamat transportasi Founder Instran dan pengguna setia kereta api)
Wartatrans.com, JAKARTA – Malam ini (27/4/2026), saya betul-betul sedih melihat video kecelakaan yang melibatkan kereta jarak jauh versus kereta jarak pendek (KRL).

Kalau kecelakaan yang melibatkan mobil, bukan hal yang mengagetkan karena terjadi hampir tiap minggu. Tapi kereta jarak jauh versus kereta jarak pendek baru sekali ini terjadi.
Ini adalah kecelakaan terbesar sesama moda kereta sejak kasus terakhir 2 Oktober 2010 di Stasiun Patarukan, Pemalang yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir – Pasar Turi Surabaya yang menabrak KA Senja Utama Semarang relasi Pasar Senen – Semarang Tawang.
Kecelakaan ini menyebabkan 35 orang meninggal dunia, 29 luka berat, dan lima orang luka ringan.
Kecelakaan yang melibatkan kereta api dan membawa korban cukup banyak terjadi di Bintaro 9 Desember 2013 di perlintasan Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan antara KRL Commuter Line jurusan Serpong-Tanah Abang versus truk tangki Pertamina.
Korban meninggal saat itu ada sembilan orang, di antaranya masinis (Darman Prasetyo), asisten masinis (Agus Suroto), dan petugas pelayanan KRL (Sofyan Hadi), sedangkan luka-luka dan dirawat di sejumlah rumah sakit sebanyak 86 orang.
Kecelakaan antara kereta jarak jauh versus KRL malam ini merupakan kecelakaan pertama dalam sejarah.
Selama ini tidak pernah terjadi senggolan antara kereta jarak jauh dengan kereta perkotaan, sehingga ini tentu ada masalah yang serius di Tingkat manajerial yang perlu diaudit.
Bagi PT KAI sendiri, kecelakaan malam ini merupakan kecelakaan kedua kereta jarak jauh dalam satu bulan terakhir.
Pada 6 April 2026 KA Bangun Karta anjlok di Bumiayu, Brebes Jawa Tengah.
Kecelakaan tersebut sempat menggangu perjalanan KA lintas Tengah. Memang tidak menimbulkan korban jiwa tapi perjalanan KA menuju Yoga hingga Surabaya dialihkan lewat Semarang dan akhirnya mengalami keterlambatan beberapa jam untuk dapat sampai tujuan.
Melihat adanya kecelakaan yang beruntun dalam satu bulan terakhir, selain mendesak perlu adanya audit manajemen di PT KAI, juga merindukan sosok Ignatius Jonan yang tegas dan disiplin, sehingga mampu mereformasi dan sekaligus mentrasnformasi layanan kereta api dari yang tidak berkeselamatan menjadi angkutan yang andal, berkeselamatan, aman, nyaman, dan tepat waktu.
Danantara perlu lebih cermat lagi memilih direksi PT KAI, agar direksi yang baru tidak membawa kemunduran PT KAI, tapi dapat membawa kemajuan KAI. (omy)





























