Wartatrans.com, JAKARTA – Perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah, masih terus dinamis hingga saat ini.
Untuknya, Garuda Indonesia telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi guna menjaga ketahanan operasional dan stabilitas kinerja Perusahaan.

Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia Thomas Oentoro, langkah-langkah tersebut mencakup optimalisasi pengelolaan bahan bakar serta efisiensi biaya operasional, sebagai upaya menjaga keseimbangan terhadap potensi tekanan kinerja akibat kenaikan harga avtur.
“Hal tersebut dilakukan untuk memastikan keseimbangan antara efisiensi dan ketahanan struktur biaya (cost structure resilience), dengan tetap memperhatikan aspek likuiditas serta keberlangsungan operasional,” tutur Thomas, Selasa (31/3/2026).
Evaluasi atas berbagai opsi mitigasi juga dilakukan secara berkelanjutan guna memastikan respons yang prudent dan adaptif terhadap dinamika industri yang saat ini berkembang.
Manajemen kata dia, juga terus melakukan evaluasi lanjutan terhadap langkah-langkah strategis yang perlu diimplementasikan secara berkesinambungan, dengan fokus pada pengendalian biaya dan optimalisasi posisi arus kas Perusahaan.
Hal ini sejalan dengan karakteristik biaya bahan bakar sebagai salah satu komponen biaya terbesar dalam struktur biaya operasional penerbangan.
“Untuk itu, Garuda menegaskan komitmen dalam menjalankan pengelolaan biaya secara disiplin melalui pendekatan yang adaptif, terukur, dan berorientasi pada keberlanjutan kinerja,” katanya.
Dari sisi operasional, Garuda akan terus memastikan kebutuhan konektivitas masyarakat tetap terpenuhi secara optimal.
Lebih lanjut, manajemen memperkuat konsolidasi internal bersama seluruh jajaran karyawan, termasuk anak dan cucu perusahaan, dalam mengakselerasi langkah-langkah strategis guna menjaga keberlanjutan operasional.
“Di tengah langkah mitigasi yang tengah dipersiapkan, Garuda memandang bahwa penguatan ekosistem industri melalui kerja sama dan sinergi yang lebih erat dengan para pemangku kepentingan di sektor aviasi nasional menjadi faktor kunci dalam menjaga resiliensi industri penerbangan di tengah tekanan global saat ini,” tutup Thomas. (omy)






























