Wartatrans.com, JAKARTA – Komitmen dan fokus Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney terhadap pariwisata berkelanjutan.
Ini berangkat dari keyakinan bahwa keberhasilan bisnis jangka panjang hanya dapat dicapai bila pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Melalui visi “Sustainable Tourism Economy and Creating Impact for Communities”, InJourney membangun ekosistem aviasi dan pariwisata yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun juga memperkuat komunitas lokal serta menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian integral dari strategi bisnis masa depan.
Direktur SDM dan Digital InJourney Herdy Harman menekankan bahwa keberlanjutan dan tanggung jawab dalam berbisnis merupakan fondasi utama transformasi pariwisata nasional.
Menurutnya, pembangunan tidak hanya berhenti pada infrastruktur dan program, tetapi juga harus menyentuh aspek paling esensial, yaitu manusia.
“Membangun infrastruktur adalah satu hal, tetapi membangun manusia adalah hal lain yang sama pentingnya. Program yang baik harus diiringi dengan kesiapan sumber daya manusia agar transformasi dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan dampak jangka panjang,” tegas Herdy di Jakarta, Senin (19/1/2026).
Kerangka pariwisata keberlanjutan InJourney ditopang dua pilar utama, yaitu lingkungan (environment) dan sosial-ekonomi (socio-economic).
Pada pilar lingkungan, InJourney berfokus pada pengelolaan air dan limbah yang bertanggung jawab, penguatan strategi iklim dan lingkungan, serta perlindungan keanekaragaman hayati dan upaya konservasi.
Inisiatif-inisiatif ini dirancang untuk meminimalkan dampak lingkungan dari aktivitas aviasi dan pariwisata, sekaligus mendorong penerapan praktik ramah lingkungan di seluruh rantai nilai.
Sementara itu, pada pilar sosial-ekonomi, InJourney menempatkan peningkatan kualitas hidup masyarakat sebagai prioritas utama.
“Upaya ini diwujudkan melalui program peningkatan kesehatan dan kesejahteraan, pengentasan kemiskinan, perluasan akses pendidikan, serta penguatan kemitraan dengan pelaku usaha lokal dan UMKM,” ungkapnya.
Pendekatan ini memastikan bahwa manfaat ekonomi dari pengembangan pariwisata dapat dirasakan secara inklusif dan merata oleh masyarakat di sekitar destinasi.
Dari sisi aspek lingkungan (environmental), menurut Direktur Utama InJourney Maya Watono, sebagai bagian dari penerapan ESG, InJourney menegaskan komitmen penurunan emisi sebesar 4.000 tonCO₂e.
I”ni merupakan langkah awal transformasi menuju operasional yang lebih hijau dan bertanggung jawab, sekaligus bentuk dukungan nyata terhadap target Net Zero Emission yang ditetapkan Pemerintah Indonesia,” ucap Maya.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui green initiative program di lingkungan InJourney Group, yang merupakan sebuah inisiatif untuk menciptakan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.
Inisiatif ini dirancang untuk menghasilkan dampak yang dapat diukur, konsisten, dan berkelanjutan, sejalan dengan agenda transformasi InJourney dalam membangun ekosistem aviasi dan pariwisata yang ramah lingkungan.
InJourney mengimplementasikan berbagai inisiatif strategis yang mencakup pemanfaatan energi terbarukan, elektrifikasi operasional, pengelolaan air dan limbah, serta program rehabilitasi lingkungan.
Pemanfaatan energi surya (PLTS) telah diimplementasikan di sembilan bandara utama menghasilkan 10.760 MWh energi terbarukan per tahun dan berpotensi menghindari emisi sebesar 9.860 ton CO₂e per tahun, setara dengan penyerapan karbon oleh 272 ribu pohon.
“Upaya ini menjadi fondasi transisi energi di sektor aviasi dan pariwisata yang dikelola InJourney,” kata dia.
Sejalan dengan itu, InJourney mempercepat adopsi kendaraan dan peralatan listrik di seluruh lini bisnis.
Hingga saat ini, InJourney telah mengoperasikan 716 unit kendaraan dan peralatan listrik, terdiri atas ground support equipment (GSE), buggy car, mini bus, golf cart, dan moda transportasi lainnya di berbagai destinasi pariwisata, sebagai langkah konkret untuk menurunkan ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mengurangi emisi operasional.
Dalam pengelolaan sumber daya dan limbah, InJourney Group menerapkan pendekatan terpadu berbasis prinsip ekonomi sirkular.
Sepanjang implementasinya, pengelolaan limbah padat mencapai 7.000 m³, sementara pemanfaatan air daur ulang sebesar 1.728.304 m³ telah dilakukan untuk mendukung efisiensi penggunaan air di berbagai destinasi.
Sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim, InJourney juga menjalankan program penanaman 40.000 pohon mangrove di seluruh wilayah operasional.
Program ini diproyeksikan dapat memperkuat ketahanan ekosistem pesisir dan mendukung keberlanjutan destinasi pariwisata.
Untuk ketahanan air, salah satu kawasan wisata yang dikelola ITDC yakni di Nusa Dua Bali mengoperasikan fasilitas Seawater Reverse Osmosis (SWRO) yang menghasilkan 331.382 m³ air bersih, mengurangi ketergantungan pada air tanah dan meningkatkan ketahanan kawasan terhadap risiko perubahan iklim.
SWRO memanfaatkan air laut sebagai sumber air bersih alternatif, sehingga mengurangi ketergantungan pada air tanah dan sumber air tawar.
Selain itu, pengimplementasian SWRO dapat menekan risiko kelangkaan air akibat perubahan iklum dan memperkuat ketahanan air.
Penerapan fasilitas SWRO ini juga membawa ITDC NU entitas usaha di bawah ITDC menorehkan pencapaian bersejarah sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang mendapatkan izin resmi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mengolah air laut menjadi air layak untuk dikonsumsi melalui teknologi modern.
“Melalui rangkaian inisiatif tersebut, InJourney menegaskan komitmennya untuk menjadikan keberlanjutan sebagai bagian dari strategi bisnis dan pengelolaan destinasi. Pendekatan ini memastikan bahwa transformasi aviasi dan pariwisata tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan lingkungan, efisiensi sumber daya, serta meninggalkan legacy hijau yang berkelanjutan bagi generasi mendatang,” tutup Maya. (omy)






















