Menu

Mode Gelap
Ketua KP3ALA Pusat, Prof. Rahmat Salam: Pemekaran ALA untuk Perkuat Wali Nangroe Tirakatan 17 Agustus: Kebersamaan Lesehan yang Menyatu dalam Syukur dan Khidmat 3 Pekan Sebelum Gempa M7,7, NTT Baru Perkuat Pusdalops Pascagempa, Kemen PU Pastikan Akses dan Kebutuhan Dasar di Labuan Bajo Segera Ditangani Jelang 17 Agustus, 16.913 Tiket Promo KAI Terjual, Pemesanan Long Weekend Capai 706.908 Tiket Pertamina Patra Niaga Percepat Penanganan Bencana dan Pemulihan Suplai BBM & LPG di Flores

WISATA

Catatan Halimah Munawir: Menyapa Sunyi Para Raja 22 Mumi di Museum Nasional Peradaban Mesir

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Menyapa Sunyi Para Raja 22 Mumi di Museum Nasional Peradaban Mesir Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Mendengar kabar tentang terbaringnya 22 mumi kerajaan di Museum Nasional Peradaban Mesir (National Museum of Egyptian Civilization/NMEC), nyaliku menciut. Ada getar yang sulit dijelaskan—antara rasa ingin tahu, kagum, dan ketakutan yang samar. Meski banyak kisah menyebutkan bahwa ruang penyimpanan mumi di museum itu justru tercium keharuman khas Mesir—perpaduan aroma kayu, rempah pedas, manis, dan damar—tetap saja bayangan ruang dingin dan sunyi membuat bulu kuduk berdiri.

Keraguan itu kian terasa ketika kakiku telah sampai di depan pintu masuk galeri mumi. Sunyi yang tertata, cahaya yang diredupkan, dan kesadaran bahwa di balik pintu itu terbaring jasad-jasad manusia yang hidup ribuan tahun silam, membuat langkah seolah tertahan. Akhirnya, aku memilih berhenti. Aku tidak melangkah masuk, melainkan terpaku di depan sebuah layar besar di sisi kanan pintu.

Di layar itu diputar dokumentasi peristiwa bersejarah yang begitu spektakuler: pemindahan mumi-mumi para raja dan ratu Mesir kuno dari Museum Mesir di Lapangan Tahrir menuju NMEC di Fustat, Kairo, pada tahun 2021. Peristiwa tersebut dikenal dunia sebagai The Pharaohs’ Golden Parade—sebuah arak-arakan megah yang bukan sekadar pemindahan artefak, melainkan pernyataan peradaban.

Pemerintah Mesir mengemas prosesi itu dengan kehormatan luar biasa. Setiap mumi diangkut menggunakan kendaraan khusus, dirancang menyerupai kereta kerajaan, lengkap dengan pengamanan berlapis dan iringan musik yang menggugah rasa takzim. Nama-nama besar seperti Ramses II, Hatshepsut, dan Seqenenre Tao disebut satu per satu, seolah mereka bukan jasad mati, melainkan tokoh agung yang kembali disambut bangsanya.

Dari layar itu aku menyadari, mumi-mumi tersebut bukanlah sekadar objek wisata atau sisa jasad masa lalu. Mereka adalah saksi bisu perjalanan panjang manusia dalam memahami kehidupan, kematian, dan keabadian. Mesir kuno memandang kematian bukan sebagai akhir, melainkan gerbang menuju kehidupan lain. Karena itulah tubuh dirawat, dibalsem, dan dijaga dengan ritual yang sarat makna spiritual.

Aku pun berdiri lama di sana, menonton dengan perasaan campur aduk. Ada rasa hormat, ada rasa kecil sebagai manusia hari ini, dan ada perenungan mendalam tentang waktu. Ribuan tahun berlalu, dinasti runtuh, peradaban silih berganti, namun jasad-jasad itu masih “hadir”, mengingatkan bahwa kejayaan dunia selalu bersifat sementara.

Aku tidak masuk ke ruang mumi hari itu. Namun mungkin, justru dari ambang pintu itulah aku mendapat pelajaran paling bermakna: bahwa sejarah tidak selalu harus disentuh secara fisik untuk dipahami. Kadang, cukup disapa dengan rasa takzim, dari jarak yang memberi ruang bagi hati untuk merenung.***

Mesir 2026

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Ketua KP3ALA Pusat, Prof. Rahmat Salam: Pemekaran ALA untuk Perkuat Wali Nangroe

16 Agustus 2026 - 22:20 WIB

Tirakatan 17 Agustus: Kebersamaan Lesehan yang Menyatu dalam Syukur dan Khidmat

16 Agustus 2026 - 21:55 WIB

Pertamina Patra Niaga Percepat Penanganan Bencana dan Pemulihan Suplai BBM & LPG di Flores

16 Agustus 2026 - 19:56 WIB

Perayaan Hari Didong Di Musara Gayo Jabodetabek Meriah, Silvia Kim dari Korea Selatan Ikut Berdidong

16 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Haji Fikri Ajak Masyarakat Jawa Barat Merenungi Makna Kemerdekaan ke-81, Dari Seremoni Menuju Pengabdian Nyata

16 Agustus 2026 - 15:58 WIB

Laznas ASAR Humanity Bergerak Tanggap Bencana Bersama Relawan KSATRIA di NTT

16 Agustus 2026 - 14:41 WIB

Penanganan Bencana Lambat, Hasil Bumi Dikeruk, Tapi Butir MoU Tidak Pernah Diselesaikan Pemerintah Pusat. Aceh Sudah Muak!

16 Agustus 2026 - 14:34 WIB

Semarang Terancam Rob Permanen, Tanahnya Amblas 12 Sentimeter Pertahun

16 Agustus 2026 - 14:18 WIB

Delegasi Rimba Raya Kecam Keras Insiden Pelecehan Budaya Aceh di Panggung Jamnas: “Jangan Lupakan Sejarah Aceh”

16 Agustus 2026 - 13:33 WIB

Budaya Aceh Dilecehkan di Jamnas Pramuka 2026: Lampu Panggung Dimatikan Saat Penampilan

16 Agustus 2026 - 13:00 WIB

Trending di RAGAM