Wartatrans. Lcom, MEMPAWAH — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda wilayah Desa Galang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
Hingga Senin (9/2) siang, api belum sepenuhnya berhasil dipadamkan. Kepulan asap tebal masih menyelimuti area terdampak, mengganggu aktivitas warga serta membahayakan kesehatan.

Peristiwa ini pertama kali terpantau pada Minggu (8/2) sore. Sejak saat itu, tim gabungan langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pemadaman. Namun, hingga Senin pukul 11.00 WIB, kondisi di lapangan masih sulit dikendalikan. Api terus menyala di sejumlah titik, sementara jarak pandang menjadi terbatas akibat asap yang semakin pekat.
Kapolsek Sungai Pinyuh, AKP Setyadi, mengonfirmasi bahwa titik awal kebakaran berada di Dusun Utara, Desa Galang. Menurutnya, angin kencang dan suhu udara yang sangat panas mempercepat rambatan api ke lahan-lahan di sekitarnya.
Kondisi ini diperparah ketika api mulai merembet ke pinggir jalan raya dan mendekati kawasan permukiman, sehingga meningkatkan risiko bagi keselamatan warga.
Berdasarkan perkiraan awal, kobaran api telah menghanguskan sedikitnya 12 hektare lahan semak belukar. Lahan yang terbakar didominasi oleh kawasan gambut, yang dikenal menyimpan bara api di bawah permukaan tanah.
Karakteristik inilah yang membuat proses pemadaman menjadi jauh lebih sulit, karena api dapat kembali muncul meskipun permukaan terlihat padam.
Upaya penanggulangan melibatkan puluhan personel dari berbagai unsur, antara lain Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mempawah, TNI, Polri, Palang Merah Indonesia (PMI), pemadam kebakaran gabungan, relawan pemadam, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta warga setempat.
Mereka bekerja tanpa henti sejak Minggu sore hingga Senin siang, fokus pada pemadaman langsung sekaligus pendinginan area untuk mencegah api kembali menyala.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran BPBD Mempawah, Desvan, menjelaskan bahwa tantangan terbesar di lapangan adalah keterbatasan akses menuju titik api dan minimnya sumber air di lokasi yang mengalami kekeringan.
Sebagian titik kebakaran berada jauh di tengah kawasan hutan, sehingga menyulitkan mobilisasi peralatan dan personel. Meski demikian, tim tetap berkomitmen untuk menuntaskan pemadaman dan memutus jalur penyebaran api agar tidak meluas ke area lain.
“Struktur lahan gambut membuat bara api bertahan lama di bawah permukaan. Ini membutuhkan upaya ekstra dan waktu yang lebih panjang untuk memastikan api benar-benar padam,” ujar Desvan.
Ia juga mengimbau masyarakat agar segera melapor jika melihat tanda-tanda kebakaran baru, terutama bila api mulai mengarah ke rumah penduduk, agar langkah antisipasi dapat dilakukan lebih cepat.
Dampak karhutla ini mulai dirasakan langsung oleh warga. Tiga orang dilaporkan harus mendapatkan perawatan medis di Puskesmas setempat setelah mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Selain itu, sejumlah keluarga terpaksa meninggalkan rumah dan mengungsi ke tempat kerabat demi menghindari paparan asap tebal yang semakin menyesakkan dan berpotensi membahayakan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.
Asap pekat tidak hanya mengganggu kesehatan, tetapi juga aktivitas sehari-hari warga. Beberapa ruas jalan mengalami penurunan jarak pandang, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas. Aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat di sekitar lokasi kebakaran pun ikut terhambat.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan tidak mendekati area kebakaran demi keselamatan. Warga juga diminta mendukung upaya petugas dengan tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan dalam bentuk apa pun, terutama di tengah kondisi cuaca panas dan kering yang rawan memicu kebakaran.
Sementara itu, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti terjadinya kebakaran. Petugas mendalami kemungkinan kebakaran dipicu oleh faktor alam, seperti cuaca ekstrem, maupun adanya unsur kesengajaan, termasuk praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar. Jika ditemukan unsur pidana, aparat menegaskan akan menindak tegas pelaku sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih berjibaku di lapangan. Upaya pemadaman dan pendinginan terus dilakukan secara intensif dengan harapan kebakaran lahan di wilayah Galang dapat segera dikendalikan sepenuhnya.
Pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan berkomitmen menjaga keselamatan warga serta meminimalkan dampak lingkungan dan kesehatan akibat bencana ini.
Peristiwa karhutla di Galang menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan kolektif dalam menjaga lingkungan, terutama di musim kemarau. Kerja sama antara pemerintah, aparat, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mencegah terulangnya bencana serupa di masa mendatang.***
LONYENKRAP
























