Menu

Mode Gelap
KAI Daop 7 Madiun dan Kejari Blitar Teken MoU Penanganan Hukum Perdata dan TUN Update KA Mudik: Penjualan Tiket Tembus 2,1 Juta, Okupansi Capai 47,1 Persen IPC TPK Hadirkan Kepedulian Ramadan Lewat 1.600 Paket Takjil Gratis untuk TKBM dan Pengguna Jasa Tahun 2025, FIF Catatkan Laba Bersih Rp4,63 Triliun  Pemain “Istiqomah Cinta” Berbagi Kebahagiaan Bersama Anak Panti Asuhan Begini Strategi J&T Cargo Siapkan Layanan di Ramadhan

SENI BUDAYA

Ketika Buku-Buku Itu Pergi, Rumah Tidak Menjadi Kosong

badge-check


 Ketika Buku-Buku Itu Pergi, Rumah Tidak Menjadi Kosong Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Ada banyak cara mencintai buku. Salah satunya adalah membacanya menyimpannya rapi dalam ingatan dan juga rapi di rak buku, memotretnya, menjadikannya penanda identitas intelektual. Cara lain yang lebih jarang adalah merelakannya pergi.

Beberapa waktu lalu, Bang Riri Satria membagikan seluruh buku di rumahnya kepada teman-teman, terutama mereka yang mengelola rumah baca. Peristiwa ini tidak terjadi di hadapanku. Aku mengetahuinya dari unggahan-unggahan yang ia bagikan. Foto rak yang kosong. Cerita singkat tanpa perayaan. Namun justru dari jarak itulah peristiwa ini memunculkan pertanyaan yang tidak ringan: apakah pengetahuan memang untuk dimiliki, atau untuk diedarkan?

Selama ini, budaya literasi kita kerap berhenti pada kepemilikan. Rak buku menjadi simbol. Semakin penuh, semakin dianggap berwibawa. Buku tidak lagi dibaca sebagai proses, melainkan sebagai properti. Kita lupa bahwa pengetahuan, seperti air, hanya bermakna ketika mengalir.

Tindakan membagikan buku, dalam konteks ini, bukan sekadar soal donasi. Ia adalah sikap. Pernyataan diam bahwa pengetahuan tidak seharusnya menumpuk pada satu rumah, satu kepala, atau satu kelas sosial. Ia mesti berpindah, bertemu pembaca lain, dan hidup dalam tafsir yang beragam.

Rumah baca menjadi tujuan yang penting. Ruang-ruang kecil yang sering luput dari sorotan kebijakan, tetapi diam-diam menjaga nyala literasi. Di sanalah buku-buku bekerja tanpa beban prestise. Dibaca sambil tengkurap. Disentuh dengan tangan yang belum tentu bersih. Diresapi tanpa kewajiban mengutip atau mengunggahnya ke media sosial.

Di zaman ketika pengetahuan sering diperdagangkan sebagai citra, tindakan melepaskan terasa radikal. Kita lebih sibuk mengarsipkan diri daripada membagi apa yang kita punya. Padahal, pengetahuan yang tidak dibagikan akan kehilangan daya hidupnya.

Aku teringat pengalamanku sendiri ketika mulai tertarik pada filsafat. Bacaan-bacaan ringan di internet membawaku pada nama-nama seperti Friedrich Nietzsche dan Erich Fromm. Diskusi-diskusi yang tidak pernah selesai menjadi pintu masuk.

Hingga suatu hari beberapa tahun lalu, Bang Riri Satria memberiku beberapa buku karya Erich Fromm bacaan yang jelas tidak ringan, tetapi justru di situlah tantangannya. Fromm menulis tentang kebebasan manusia sebagai beban etis, bukan hadiah. Tentang cinta sebagai kerja, bukan sekadar perasaan. Dalam konteks itu, membagikan buku bukan tindakan kehilangan, melainkan praktik kebebasan: melepaskan tanpa takut berkurang.

Apa yang dilakukan Bang Riri Satria mengingatkanku bahwa literasi bukan soal siapa paling banyak membaca, melainkan siapa yang bersedia membuka jalan agar orang lain bisa membaca. Bukan soal rak yang penuh, tetapi tentang sirkulasi gagasan.

Kita sering mengeluhkan rendahnya minat baca, tetapi jarang bertanya: apakah buku-buku itu benar-benar hadir di ruang hidup masyarakat? Apakah literasi kita dibangun sebagai kebiasaan bersama, atau sekadar jargon program?

Membagikan buku memang tidak mengubah dunia dalam semalam. Tetapi ia menjaga sesuatu yang jauh lebih rapuh: keberlanjutan. Api kecil yang terus berpindah tangan, agar tidak padam.

Rak-rak yang kosong tidak selalu menandai kehilangan. Kadang ia justru menjadi tanda bahwa sesuatu sedang bergerak. Buku-buku itu tidak pergi dari kehidupan. Mereka hanya memilih rumah lain.

Mungkin, di situlah letak tanggung jawab kita sebagai pembaca: bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan, tetapi memastikan ia tetap hidup di tangan orang lain, di ruang-ruang yang tidak selalu kita kenal, dan dalam masa depan yang tidak bisa kita kendalikan.

Dan mungkin ini cara lain aku memotret peristiwa tersebut ialah dengan menuliskannya. Mungkin setiap peristiwa memberikan lesson learn yang berbeda di setiap kepala dan cara pandang. Salam cermin. Karena kebaikan seperti halnya cermin. Ia bersifat memantulkan.*** (Emi Suy)

Jakarta, 8 Januari 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pemain “Istiqomah Cinta” Berbagi Kebahagiaan Bersama Anak Panti Asuhan

4 Maret 2026 - 21:24 WIB

Roda Kematian Militerisme: Kemanusiaan yang Tergerus Peradaban Keras – Refleksi Lukisan Munadi

2 Maret 2026 - 19:16 WIB

Kunjungi Terminal Teluk Lamong, Wali Kota Surabaya Pererat Kolaborasi Pengembangan Layanan Logistik

2 Maret 2026 - 16:55 WIB

“Tobat Woy!” Jadi Magnet, Para Pencari Tuhan Jilid 19 Rajai Rating Sahur Ramadan 2026

27 Februari 2026 - 14:10 WIB

Sinetron Lorong Waktu Jilid 2 Hadirkan Petualangan Sarat Makna di Ramadan 1447 H

27 Februari 2026 - 11:13 WIB

Swara Reiki January: Menjaga Iman di Negeri Ratu Elizabeth, Menemukan Makna Islam di Inggris

27 Februari 2026 - 09:52 WIB

Baiti Syaghaf Bersyukur Tamara di “Lorong Waktu Jilid 2” Makin Dicintai, Aktingnya Dipuji Lebih Dewasa

26 Februari 2026 - 21:50 WIB

Bangga Jadi WNI, Swara Reiki January Pilih Kembali ke Merah Putih Usai Raih Gelar Sarjana di London

26 Februari 2026 - 17:30 WIB

Diawali Santunan Anak Yatim, Nita Thalia Jalani Operasi Facelift di Klinik Bedah Plastik Queen Sunter

25 Februari 2026 - 20:37 WIB

PJBW Pekan ke-64: Wartawan Berbagi Takjil dan Sedekah Barang untuk Anak Yatim dan Kaum Dhuafa

23 Februari 2026 - 20:39 WIB

Trending di RAGAM