Menu

Mode Gelap
Bayi Ditemukan di Toilet KA Sancaka, KAI Daop 6 dan KAI Services Bergerak Cepat Lakukan Penanganan Konektivitas Kereta dan Pelabuhan Makin Diminati, Tiga Stasiun KAI Layani 3,88 Juta Pelanggan Semester I 2026 Harga Kopi Gayo Menguat, Petani Harapkan Stabilitas Pasar dan Dukungan Pemerintah Divre III Palembang Hadirkan Rangkaian Kereta Ekonomi Premium pada KA Rajabasa, Perjalanan Kini Semakin Nyaman Yatti Surachman Resmikan Kedai Seblak Prasmanan & Ayam Penyet Sambel Ijo Gacorrr di Cipayung Tahun Ini Asia Babak Belur, FIFA Masih Pertimbangkan Kuota 12 Tiket untuk Piala Dunia 2030

SENI BUDAYA

Ketika Buku-Buku Itu Pergi, Rumah Tidak Menjadi Kosong

badge-check


 Ketika Buku-Buku Itu Pergi, Rumah Tidak Menjadi Kosong Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Ada banyak cara mencintai buku. Salah satunya adalah membacanya menyimpannya rapi dalam ingatan dan juga rapi di rak buku, memotretnya, menjadikannya penanda identitas intelektual. Cara lain yang lebih jarang adalah merelakannya pergi.

Beberapa waktu lalu, Bang Riri Satria membagikan seluruh buku di rumahnya kepada teman-teman, terutama mereka yang mengelola rumah baca. Peristiwa ini tidak terjadi di hadapanku. Aku mengetahuinya dari unggahan-unggahan yang ia bagikan. Foto rak yang kosong. Cerita singkat tanpa perayaan. Namun justru dari jarak itulah peristiwa ini memunculkan pertanyaan yang tidak ringan: apakah pengetahuan memang untuk dimiliki, atau untuk diedarkan?

Selama ini, budaya literasi kita kerap berhenti pada kepemilikan. Rak buku menjadi simbol. Semakin penuh, semakin dianggap berwibawa. Buku tidak lagi dibaca sebagai proses, melainkan sebagai properti. Kita lupa bahwa pengetahuan, seperti air, hanya bermakna ketika mengalir.

Tindakan membagikan buku, dalam konteks ini, bukan sekadar soal donasi. Ia adalah sikap. Pernyataan diam bahwa pengetahuan tidak seharusnya menumpuk pada satu rumah, satu kepala, atau satu kelas sosial. Ia mesti berpindah, bertemu pembaca lain, dan hidup dalam tafsir yang beragam.

Rumah baca menjadi tujuan yang penting. Ruang-ruang kecil yang sering luput dari sorotan kebijakan, tetapi diam-diam menjaga nyala literasi. Di sanalah buku-buku bekerja tanpa beban prestise. Dibaca sambil tengkurap. Disentuh dengan tangan yang belum tentu bersih. Diresapi tanpa kewajiban mengutip atau mengunggahnya ke media sosial.

Di zaman ketika pengetahuan sering diperdagangkan sebagai citra, tindakan melepaskan terasa radikal. Kita lebih sibuk mengarsipkan diri daripada membagi apa yang kita punya. Padahal, pengetahuan yang tidak dibagikan akan kehilangan daya hidupnya.

Aku teringat pengalamanku sendiri ketika mulai tertarik pada filsafat. Bacaan-bacaan ringan di internet membawaku pada nama-nama seperti Friedrich Nietzsche dan Erich Fromm. Diskusi-diskusi yang tidak pernah selesai menjadi pintu masuk.

Hingga suatu hari beberapa tahun lalu, Bang Riri Satria memberiku beberapa buku karya Erich Fromm bacaan yang jelas tidak ringan, tetapi justru di situlah tantangannya. Fromm menulis tentang kebebasan manusia sebagai beban etis, bukan hadiah. Tentang cinta sebagai kerja, bukan sekadar perasaan. Dalam konteks itu, membagikan buku bukan tindakan kehilangan, melainkan praktik kebebasan: melepaskan tanpa takut berkurang.

Apa yang dilakukan Bang Riri Satria mengingatkanku bahwa literasi bukan soal siapa paling banyak membaca, melainkan siapa yang bersedia membuka jalan agar orang lain bisa membaca. Bukan soal rak yang penuh, tetapi tentang sirkulasi gagasan.

Kita sering mengeluhkan rendahnya minat baca, tetapi jarang bertanya: apakah buku-buku itu benar-benar hadir di ruang hidup masyarakat? Apakah literasi kita dibangun sebagai kebiasaan bersama, atau sekadar jargon program?

Membagikan buku memang tidak mengubah dunia dalam semalam. Tetapi ia menjaga sesuatu yang jauh lebih rapuh: keberlanjutan. Api kecil yang terus berpindah tangan, agar tidak padam.

Rak-rak yang kosong tidak selalu menandai kehilangan. Kadang ia justru menjadi tanda bahwa sesuatu sedang bergerak. Buku-buku itu tidak pergi dari kehidupan. Mereka hanya memilih rumah lain.

Mungkin, di situlah letak tanggung jawab kita sebagai pembaca: bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan, tetapi memastikan ia tetap hidup di tangan orang lain, di ruang-ruang yang tidak selalu kita kenal, dan dalam masa depan yang tidak bisa kita kendalikan.

Dan mungkin ini cara lain aku memotret peristiwa tersebut ialah dengan menuliskannya. Mungkin setiap peristiwa memberikan lesson learn yang berbeda di setiap kepala dan cara pandang. Salam cermin. Karena kebaikan seperti halnya cermin. Ia bersifat memantulkan.*** (Emi Suy)

Jakarta, 8 Januari 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Yatti Surachman Resmikan Kedai Seblak Prasmanan & Ayam Penyet Sambel Ijo Gacorrr di Cipayung

4 Juli 2026 - 15:29 WIB

Sapuan Kuas Jadi Wasiat Budaya, Perhelatan Mural #Sinergi Sukowati 2 Digelar di Sragen

3 Juli 2026 - 20:00 WIB

Peserta PPN XIV Asal Maluku: Aceh Tinggalkan Kesan Mendalam, Sastra Tak Akan Hilang Selama Kata-kata Menjadi Jalan Kemanusiaan

2 Juli 2026 - 11:12 WIB

Yuli Riban, Perupa yang Mengabdikan Seni untuk Anak-anak Disabilitas

2 Juli 2026 - 11:02 WIB

Yuli Riban Art Class Gelar Pameran Seni Rupa Perupa Disabilitas Sambut Hari Anak Nasional 2026

2 Juli 2026 - 10:56 WIB

Indra Adhari Kupas One Month One Song dan Viral Lagunya di TikTok Malaysia di Staradio Tangerang

1 Juli 2026 - 18:04 WIB

Pelepasan Peserta PPN XIV di Bandara SIM, Panitia Pastikan Misi Sastra dan Budaya Aceh Terus Berlanjut

1 Juli 2026 - 09:22 WIB

Di SagoeTV Putra Gara dan Salman Yoga Bahas Masa Depan Sastra Aceh

29 Juni 2026 - 19:17 WIB

Djamal Syarif Buka Malam Penutupan PPN XIV Aceh dengan Pembacaan Puisi

28 Juni 2026 - 22:03 WIB

Nyakman Lamjame Apresiasi Film Keumalahayati, Namun Judul “Pasukan 1000 Janda” Perlu Dikaji Kembali

28 Juni 2026 - 19:52 WIB

Trending di SENI BUDAYA