Menu ✖

Mode Gelap
DAMRI Perkuat Komitmen Keselamatan dan Kesiapan Layanan Jelang Angkutan Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 H. Fikri Hudi Oktiarwan Gelar Pengawasan Pemerintahan Bersama FORKABI di Cibinong, Soroti Kualitas Pelayanan Publik dan Tata Kelola Daerah KAI Group Layani 442,5 Juta Pelanggan hingga Oktober 2026, Naik 6,86 Persen GAPEKA 2026: KAI Tambah Pemberhentian Kereta Jarak Jauh di Bekasi, Cikarang, dan Jatinegara Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Ditangkap dan Ditahan di Mako Brimob Sumpah Alternatif Atau Pilihan Terakhir Penyelesaian Perkara Di Masyarakat Gayo

SENI BUDAYA

Ketika Buku-Buku Itu Pergi, Rumah Tidak Menjadi Kosong

badge-check


 Ketika Buku-Buku Itu Pergi, Rumah Tidak Menjadi Kosong Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Ada banyak cara mencintai buku. Salah satunya adalah membacanya menyimpannya rapi dalam ingatan dan juga rapi di rak buku, memotretnya, menjadikannya penanda identitas intelektual. Cara lain yang lebih jarang adalah merelakannya pergi.

Beberapa waktu lalu, Bang Riri Satria membagikan seluruh buku di rumahnya kepada teman-teman, terutama mereka yang mengelola rumah baca. Peristiwa ini tidak terjadi di hadapanku. Aku mengetahuinya dari unggahan-unggahan yang ia bagikan. Foto rak yang kosong. Cerita singkat tanpa perayaan. Namun justru dari jarak itulah peristiwa ini memunculkan pertanyaan yang tidak ringan: apakah pengetahuan memang untuk dimiliki, atau untuk diedarkan?

Selama ini, budaya literasi kita kerap berhenti pada kepemilikan. Rak buku menjadi simbol. Semakin penuh, semakin dianggap berwibawa. Buku tidak lagi dibaca sebagai proses, melainkan sebagai properti. Kita lupa bahwa pengetahuan, seperti air, hanya bermakna ketika mengalir.

Tindakan membagikan buku, dalam konteks ini, bukan sekadar soal donasi. Ia adalah sikap. Pernyataan diam bahwa pengetahuan tidak seharusnya menumpuk pada satu rumah, satu kepala, atau satu kelas sosial. Ia mesti berpindah, bertemu pembaca lain, dan hidup dalam tafsir yang beragam.

Rumah baca menjadi tujuan yang penting. Ruang-ruang kecil yang sering luput dari sorotan kebijakan, tetapi diam-diam menjaga nyala literasi. Di sanalah buku-buku bekerja tanpa beban prestise. Dibaca sambil tengkurap. Disentuh dengan tangan yang belum tentu bersih. Diresapi tanpa kewajiban mengutip atau mengunggahnya ke media sosial.

Di zaman ketika pengetahuan sering diperdagangkan sebagai citra, tindakan melepaskan terasa radikal. Kita lebih sibuk mengarsipkan diri daripada membagi apa yang kita punya. Padahal, pengetahuan yang tidak dibagikan akan kehilangan daya hidupnya.

Aku teringat pengalamanku sendiri ketika mulai tertarik pada filsafat. Bacaan-bacaan ringan di internet membawaku pada nama-nama seperti Friedrich Nietzsche dan Erich Fromm. Diskusi-diskusi yang tidak pernah selesai menjadi pintu masuk.

Hingga suatu hari beberapa tahun lalu, Bang Riri Satria memberiku beberapa buku karya Erich Fromm bacaan yang jelas tidak ringan, tetapi justru di situlah tantangannya. Fromm menulis tentang kebebasan manusia sebagai beban etis, bukan hadiah. Tentang cinta sebagai kerja, bukan sekadar perasaan. Dalam konteks itu, membagikan buku bukan tindakan kehilangan, melainkan praktik kebebasan: melepaskan tanpa takut berkurang.

Apa yang dilakukan Bang Riri Satria mengingatkanku bahwa literasi bukan soal siapa paling banyak membaca, melainkan siapa yang bersedia membuka jalan agar orang lain bisa membaca. Bukan soal rak yang penuh, tetapi tentang sirkulasi gagasan.

Kita sering mengeluhkan rendahnya minat baca, tetapi jarang bertanya: apakah buku-buku itu benar-benar hadir di ruang hidup masyarakat? Apakah literasi kita dibangun sebagai kebiasaan bersama, atau sekadar jargon program?

Membagikan buku memang tidak mengubah dunia dalam semalam. Tetapi ia menjaga sesuatu yang jauh lebih rapuh: keberlanjutan. Api kecil yang terus berpindah tangan, agar tidak padam.

Rak-rak yang kosong tidak selalu menandai kehilangan. Kadang ia justru menjadi tanda bahwa sesuatu sedang bergerak. Buku-buku itu tidak pergi dari kehidupan. Mereka hanya memilih rumah lain.

Mungkin, di situlah letak tanggung jawab kita sebagai pembaca: bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan, tetapi memastikan ia tetap hidup di tangan orang lain, di ruang-ruang yang tidak selalu kita kenal, dan dalam masa depan yang tidak bisa kita kendalikan.

Dan mungkin ini cara lain aku memotret peristiwa tersebut ialah dengan menuliskannya. Mungkin setiap peristiwa memberikan lesson learn yang berbeda di setiap kepala dan cara pandang. Salam cermin. Karena kebaikan seperti halnya cermin. Ia bersifat memantulkan.*** (Emi Suy)

Jakarta, 8 Januari 2026

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Tiga Academia Bikin Heboh Panggung D’Academy 8, Ari Sampang Sementara Teratas Virtual Gift

3 November 2026 - 15:48 WIB

Raffi Ahmad Batal Tampil di GSI Youth Fest Hero Summit 

3 November 2026 - 15:43 WIB

Festival Sastra Jakarta 2026, Perkuat Komunitas dan Regenerasi Sastrawan

2 November 2026 - 13:18 WIB

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Luncurkan Gala Indonesia Bercerita 2026–2027, Perkuat Pelestarian Cerita Rakyat Nusantara

2 November 2026 - 05:27 WIB

Bedah Puisi “Ay Lien dalam Empat Babak”, Menguak Jejak Kemanusiaan dan Sejarah dalam Diskusi Sastra di Magelang

2 November 2026 - 03:41 WIB

Pengamanan Konser Andrea Bocelli di Borobudur Libatkan Ribuan Personel, Terbesar Sepanjang Sejarah?

1 November 2026 - 10:58 WIB

Seni, Seniman, Karya Seni, Pekerja Seni dan Penikmat Seni

31 Oktober 2026 - 22:44 WIB

Lama Tak Terlihat di Layar Kaca, Krisna Mukti Blak-blakan Akui Sedang Cari Job

31 Oktober 2026 - 12:49 WIB

‘Diana Memang Manja’, Novel SBY yang Lahir dari Riset dan Kenangan

30 Oktober 2026 - 18:39 WIB

Setnegpedia Ungkap Kisah di Balik Lukisan “Kawan-Kawan Revolusi” Karya S. Sudjojono

30 Oktober 2026 - 16:56 WIB

Trending di SENI BUDAYA