Menu ✖

Mode Gelap
Menteri Kebudayaan Fadli Zon Luncurkan Gala Indonesia Bercerita 2026–2027, Perkuat Pelestarian Cerita Rakyat Nusantara Bedah Puisi “Ay Lien dalam Empat Babak”, Menguak Jejak Kemanusiaan dan Sejarah dalam Diskusi Sastra di Magelang Truk Molen Diduga Rem Blong Tabrak Kerumunan di Bekasi, 6 Orang Tewas Teuku Iskandar Muda pimpin ORARI Bener Meriah, Muslok pertama tetapkan arah organisasi Tolitoli Pastikan 21 Cabor Bertanding di Porprov X Sulteng Morowali 2026 Rimbun Air Bidik Rute Jakarta-Tasikmalaya

RAGAM

Langkahan Krisis Air Bersih, Warga Bertahan di Pengungsian

badge-check


 Langkahan Krisis Air Bersih, Warga Bertahan di Pengungsian Perbesar

Wartatrans.com, ACEH UTARA —Sejumlah desa di Kecamatan Langkahan, seperti Desa Geudumbak, Desa Matang Ketapang, dan beberapa desa lainnya, hingga kini masih merasakan dampak berat banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 lalu.

Bencana tersebut mengakibatkan rumah warga rusak parah, infrastruktur terputus, serta terganggunya kebutuhan dasar masyarakat, terutama akses air bersih.

Kerusakan yang masif membuat beberapa desa terisolasi dari bantuan darat selama beberapa waktu. Banyak warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih tinggi dan fasilitas umum seperti menasah maupun lokasi pengungsian sementara karena rumah mereka dinilai tidak aman untuk ditempati.

Di Desa Geudumbak, dampak banjir tercatat sangat berat. Sekitar 359 rumah hampir hilang tersapu arus banjir, menyisakan hanya sedikit bangunan yang masih berdiri. Kondisi ini membuat sebagian besar warga kehilangan tempat tinggal.

Sementara itu, di Desa Matang Ketapang, relawan bersama warga mulai melakukan pembersihan sumur-sumur yang tercemar lumpur dan material banjir. Langkah ini dilakukan untuk memulihkan kembali akses air bersih yang menjadi kebutuhan mendesak masyarakat.

Pemerintah bersama TNI telah mengerahkan alat berat untuk membersihkan material kayu gelondongan dan lumpur yang menutup jalan serta permukiman warga di beberapa desa di Langkahan.

Seiring akses yang mulai terbuka, sebagian warga perlahan meninggalkan pengungsian dan menempati hunian sementara (huntara). Di Desa Geudumbak, warga bahkan membangun huntara dari kayu gelondongan sisa banjir, meskipun hingga kini fasilitas dasar seperti listrik dan kamar mandi masih sangat terbatas.

Pemerintah Kabupaten Aceh Utara secara resmi memperpanjang status tanggap darurat hingga akhir Januari 2026, mengingat proses pemulihan wilayah terdampak belum sepenuhnya selesai.

Selain penanganan darurat, pemerintah juga menyiapkan langkah jangka panjang, salah satunya rencana pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) baru di Kecamatan Langkahan. Program ini diharapkan dapat memperkuat layanan air bersih dan mencegah krisis serupa terulang di masa mendatang.*** (Kamaruzzaman)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Teuku Iskandar Muda pimpin ORARI Bener Meriah, Muslok pertama tetapkan arah organisasi

1 November 2026 - 17:52 WIB

Borobudur Disorot: Kesejahteraan Warga dan Kontroversi Konser Andrea Bocelli

1 November 2026 - 11:31 WIB

KEMALA Jabodetabek Gelar Maulid Nabi, Hadirkan Penceramah dari Palestina

31 Oktober 2026 - 22:26 WIB

FIFGROUP Raih 2 Penghargaan dalam Ajang Indonesia Corporate Sustainability Initiatives 2026

31 Oktober 2026 - 14:08 WIB

Perayaan Ulang Tahun Panglima Langit Bareng Anak Yatim-piatu serta Perayaan Maulid Nabi Muhammad 

31 Oktober 2026 - 12:52 WIB

Lama Tak Terlihat di Layar Kaca, Krisna Mukti Blak-blakan Akui Sedang Cari Job

31 Oktober 2026 - 12:49 WIB

PSM Peduli Gandeng PMI Jakarta Utara, Perkuat Kepedulian Sosial dan Kebermanfaatan BUMN Berkelanjutan

30 Oktober 2026 - 17:53 WIB

Management Walkthrough Dorong Optimalisasi Pengawasan dan Perluasan Area Kerja di Surabaya

30 Oktober 2026 - 17:08 WIB

Dorong Green Port, Terminal Teluk Lamong Datangkan Alat Bongkar Muat Bertenaga Listrik

30 Oktober 2026 - 16:59 WIB

Pelindo dan Pemkab Bangka Barat Bahas Pengelolaan Pelabuhan Mentok

30 Oktober 2026 - 16:11 WIB

Trending di ANJUNGAN