Menu ✖

Mode Gelap
Suyudi Ario Seto Disetujui DPR Jadi Kapolri, Gantikan Listyo Sigit Kebun Hantu, Menyusuri Arsip Tubuh dan Pengalaman yang Tak Selesai AI Mengubah Wajah Demokrasi, Akademisi: Verifikasi Jadi Senjata Publik Tanam 10 Pala Tomandin di SMA Don Bosco Fakfak, Siswa Belajar Ketangguhan di Tengah El Nino KAI Services Perkuat Layanan Premium di Balik Perjalanan Nusantara Explorer KKP Percepat Sertifikasi Awak Kapal Perikanan melalui Modernisasi Pelatihan

KABIN

Maskapai Penerbangan Butuh Political Will Pemerintah

badge-check


 Penerbangan di Bandara Labuan Bajo Perbesar

Penerbangan di Bandara Labuan Bajo

Wartatrans.com, JAKARTA – Menjelang penghujung tahun 2025, maskapai penerbangan yang tergabung dalam Indonesia National Air Carriers Association (INACA) menyatakan bahwa pihaknya membutuhkan political Will pemerintah.

“Ini guna meningkatkan konektivitas dan pertumbuhan ekonomi nasional,” tutur Ketua INACA Denon Prawiratamadja, Selasa (30/12/2025).

Diakuinya, statistik industri transportasi udara nasional, terutama dari sisi maskapai penerbangan berjadwal dan tidak berjadwal (carter) pada tahun 2025 cenderung menurun dibanding tahun 2024.

Hal ini berdampak pada konektivitas nasional yang ditopang transportasi udara dalam menghubungkan masyarakat dan pengiriman logistik antarpulau menjadi tidak maksimal.

Menurut dia, kondisi tersebut tidak bisa diselesaikan secara parsial, tetapi diperlukan political will dari pemerintah untuk menyehatkan industri penerbangan secara menyeluruh.

“Sepanjang Januari – September 2025, ada data statistik penerbangan berjadwal yang dirangkum INACA,” kata Denon

Di antaranya adalah bahwa penumpang domestik berjumlah 46,7 juta penumpang atau 71% dibanding tahun 2024 yang sebanyak 65,8 juta penumpang.

Diprediksi sampai akhir tahun 2025 jumlah penumpang domestik hanya sekitar 93% yaitu sebesar 61,2 juta penumpang dibanding tahun 2024.

“Bila dibandingkan tahun 2019 di mana jumlah penumpang domestik 79,5 juta, maka recovery rate baru 77%,” ungkapnya.

Penumpang internasional berjumlah 29 juta penumpang atau 81% dibanding tahun 2024 yang berjumlah 36 juta penumpang. Diprediksi sampai akhir tahun 2025 jumlah penumpang internasional adalah 34,7 juta atau 96% dibanding tahun 2024.

Bila dibandingkan tahun 2019 di mana jumlah penumpang internasional 37,3 juta, maka recovery rate baru 93%.

Selanjutnya kargo domestik yang diangkut sebanyak 418.361 ton atau sekitar 77% dibanding tahun 2024 yang sebanyak 541.900 ton.

Diprediksi pada akhir tahun 2025 jumlahnya hanya mencapai 521,8 ribu ton atau 96% dibanding tahun 2024, dan dibandingkan tahun 2019, kargo domestik sebanyak 577.806 ton, maka recovery rate baru 90%.

Kargo internasional yang diangkut sebanyak 352.585 ton atau sekitar 77% dibanding tahun 2024 yang sebanyak 459.068 ton.

Diprediksi pada akhir tahun 2025 jumlahnya hanya akan mencapai 398 ribu ton atau 87% dibanding tahun 2024.

Dibandingkan tahun 2019 di mana kargo internasional sebanyak 516.629 ton, maka recovery rate baru 77%.

Turunnya jumlah penumpang dan kargo domestik yang diangkut diakibatkan oleh berkurangnya jumlah penerbangan, di mana sampai dengan September 2025 jumlah penerbangan adalah 359.504 kali atau 72% dibanding tahun 2024 dan diprediksi sampai akhir tahun 2025 hanya akan mencapai 440 ribu penerbangan atau 88%.

Bila dibandingkan tahun 2019 di mana jumlah penerbangan domestik adalah 729.446 kali, maka recovery rate penerbangan baru sekitar 60%.

“Begitu juga jumlah penerbangan internasional sampai bulan September 2025 sebanyak 165.235 kali atau 80% dibanding tahun 2024 dan diprediksi sampai dengan tahun 2025 hanya akan mencapai 196 ribu penerbangan atau 95%,” imbuh dia.

Namun, bila dibandingkan tahun 2019 di mana jumlah penerbangan internasional adalah 226.870 kali, maka recovery rate penerbangan internasional baru sekitar 87%.

“Berkurangnya jumlah penumpang dan kargo yang diangkut serta berkurangnya jumlah penerbangan dikarenakan jumlah pesawat yang serviceable juga berkurang,” aku dia.

Sampai dengan Desember 2025, jumlah pesawat yang terdaftar sebanyak 568 unit, namun yang serviceable hanya 368 unit dan 200 unit tidak bisa digunakan karena masih dalam perawatan.

Jumlah pesawat yang serviceable tersebut hanya 74% dibanding tahun 2024 yang sebanyak 500 unit. Sedangkan jumlah pesawat dalam perawatan meningkat 244% dibanding tahun 2024 yang hanya sebanyak 82 unit.

“Di samping data-data statistik tersebut, INACA juga mencatat dinamika yang terjadi di industri penerbangan selama tahun 2025,” kata Denon

Di antaranya adalah
Biaya operasional penerbangan yang masih tinggi, melebihi tarif batas atas yang ditetapkan pemerintah sejak tahun 2019 dan belum diubah sampai saat ini.

Peningkatan biaya operasional penerbangan sebagian besar disebabkan oleh peningkatan nilai kurs dollar AS, peningkatan harga avtur dan masih adanya bea masuk spareparts pesawat.

Peningkatan nilai tukar (kurs) mata uang Rupiah terhadap Dollar AS naik tinggi di mana tahun 2019 rata-rata 1 USD adalah Rp.14.136,- sedangkan pada tahun 2025 (November) sudah mencapai Rp16.449 atau naik 16%.

Biaya operasional maskapai penerbangan 70% menggunakan Dollar AS, sedangkan pendapatan maskapai nasional adalah dari Rupiah, sehingga dengan naiknya nilai tukar Dollar AS akan semakin membebani keuangan maskapai penerbangan nasional.

Fluktuasi harga avtur di Indonesia, di mana pada tahun 2019 harga avtur sebesar Rp.10.442,- sedangkan tahun 2025 sudah mencapai Rp.13.968,- atau naik sebesar 34%.

Masih adanya bea masuk antara 2,5 – 25 % untuk 349 HS Code atau 74% dari 472 HS Code terkait sparepart pesawat dengan jumlah 22.349 part number.

Adanya isu di masyarakat di mana harga tiket penerbangan domestik dianggap lebih mahal dibanding tiket penerbangan internasional.

Disahkannya Undang-Undang Pengelolaan Ruang Udara Nasional oleh DPR pada 25 November 2025.

Maraknya penerbangan carter illegal di wilayah Indonesia, sebagaimana diketahui dari kasus penyewaaan pesawat jet pribadi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) di mana kasusnya sekarang sedang ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Rencana akan diaplikasikannya penerbangan berkelanjutan dan ramah lingkungan melalui skema CORSIA (Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation) ICAO pada tahun 2026,” tambah Denon. (omy)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Pangkas Rugi 23,2%, Garuda Lulus Uji di Tengah Beban Avtur Global

1 Oktober 2026 - 08:12 WIB

AirNav-Airbus Teken MoU Efisiensi dan Keberlanjutan Ruang Udara Indonesia

30 September 2026 - 07:31 WIB

Menhub Dudy Galang Dukungan Keanggotaan Indonesia di Dewan ICAO

29 September 2026 - 21:23 WIB

Dampak Erupsi Gunung Dukono, Bandara Morotai Ditutup Mulai Hari Ini

26 September 2026 - 15:36 WIB

Bukaka Pasok 56 Garbarata Generasi Baru untuk Terminal 3 Changi

25 September 2026 - 21:31 WIB

Indonesia AirAsia Sabet Penghargaan Best Low-Cost Airline di Indonesia dari Skytrax

24 September 2026 - 17:00 WIB

Kemenhub Terus Pantau Dampak Karhutla pada Penerbangan di Kalimantan

23 September 2026 - 03:52 WIB

6 Pesawat N219 PTDI Siap Perkuat Armada di TNI-AD

22 September 2026 - 15:37 WIB

Melalui Pertukaran Data ADS-B, AirNav dan CAAS Perkuat Layanan Lintas FIR

21 September 2026 - 10:41 WIB

Pelita Air Bagikan Ratusan Tiket Nonton Gratis MotoGP di Mandalika

19 September 2026 - 13:19 WIB

Trending di EKOBIS