Oleh: Hengki Irawan
_______

Wartatransn.com, OPINI — Dalam lintasan sejarah Indonesia, sosok Megawati Soekarnoputri kerap dipandang melalui kacamata politik dan kepemimpinannya. Namun jauh sebelum ia memasuki gelanggang politik, Mega adalah seorang siswi Perguruan Cikini, sekolah yang membentuk karakter kritis dan keberaniannya sejak dini. Masa pendidikannya pada 1953–1960-an memahat sebuah fondasi nilai yang kelak menjadi bekal dalam pengabdiannya bagi negara.
Para gurunya selalu mengenang Mega kecil sebagai murid yang aktif, ceria, dan memiliki rasa ingin tahu yang kuat. Kecintaan para guru bukan semata-mata karena ia putri seorang presiden, melainkan karena kecerdasan sikap dan keberaniannya bersuara. Salah satu kebiasaan uniknya adalah selalu membawa permen mint pedas ke kelas. Bagi Mega dan teman-temannya, permen itu bukan sekadar camilan, melainkan “senjata” untuk melawan kantuk dan menjaga fokus dalam belajar—simbol kecil ketekunan seorang siswi yang tidak mau kalah oleh rasa lelah.
Dalam buku “Cerita Kecil dari Cikini” karya Kristin Samah, Mega kecil diceritakan pernah datang langsung ke kepala sekolah untuk menyampaikan protes: ia dan teman-temannya tidak ingin hanya menghafal, tapi juga diajari untuk berpikir. Kritik itu menggambarkan betapa sejak usia dini Mega telah memiliki kesadaran bahwa pendidikan harus membebaskan, bukan membelenggu. Sikap kritis itu tidak hanya ia tujukan kepada guru, tetapi juga kepada banyak hal di sekitarnya.
Namun masa sekolah Mega juga menyimpan salah satu luka sejarah terbesar dalam hidupnya: tragedi Cikini 30 November 1957.
Lima hari setelah peringatan Hari Guru Nasional, Mega dan teman-temannya menyelenggarakan sebuah pameran di sekolah. Dengan polos dan penuh kebanggaan sebagai seorang anak, Mega bersikeras meminta ayahnya—Presiden Sukarno—untuk hadir, bukan sebagai kepala negara, tapi sebagai orangtua murid. Saat Sukarno datang, Mega kebetulan mendapat tugas menjaga pameran. Anak-anak berkumpul, memeluk sang Presiden—momen spontan yang, bila terjadi hari ini, mungkin serupa dengan ajakan berswafoto.
Namun kegembiraan itu berubah menjadi tragedi ketika sebuah granat dilemparkan ke arah Sukarno. Ledakan keras mengguncang sekolah, menewaskan dan melukai sekitar seratus orang. Kejadian itu menjadi salah satu upaya pembunuhan paling memilukan dalam sejarah Indonesia.
Bagi Mega, trauma itu membekas bertahun-tahun. Ia menyesal telah mengundang ayahnya ke sekolah hari itu. Kenangan tersebut menjadi bayang-bayang yang sesekali muncul dalam ruang batinnya. Tetapi justru dari luka itu ia belajar satu hal: kekerasan tidak boleh menjadi bahasa politik. Teror tidak boleh menjadi alat perjuangan.
Di kemudian hari, ketika ia membentuk dan memimpin Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), memori Cikini 1957 memainkan peran penting. Mega melihat Pancasila bukan hanya dokumen negara, tetapi tameng moral yang melindungi bangsa dari tindakan radikal, kebencian, dan teror. Bagi Mega, pembumian Pancasila adalah upaya memastikan agar generasi mendatang tidak mewarisi trauma yang sama. Ia ingin membangun bangsa yang berpikir kritis, namun tetap beradab; tegas dalam perbedaan, namun tidak terjerumus dalam kekerasan.
Dalam konteks itu, peran Megawati sebenarnya bukan sekadar seorang pemimpin politik—ia adalah seorang guru. Guru yang belajar dari sejarah, guru yang menjadikan luka masa kecil sebagai pelajaran kebangsaan, guru yang memahami bahwa pendidikan karakter adalah pondasi masa depan Indonesia.
Pada peringatan Hari Guru Nasional 2025, kisah Megawati adalah pengingat bahwa guru tak selalu berdiri di depan kelas. Kadang, guru itu adalah pengalaman. Kadang, ia adalah peristiwa yang mengguncang kehidupan. Kadang, ia adalah diri kita sendiri yang belajar dari masa lalu.
Dan Megawati, dengan segala proses pendewasaannya, telah menjadikan sejarah sebagai gurunya—dan kini, dengan caranya, ia menjadi guru bagi bangsa.
Selamat Hari Guru Nasional 2025.***
____

Penulis adalah aktivis dan politisi Partai HANURA.
























