Wartatrans.com, JAKARTA — Penulis dan peneliti budaya Betawi, Chairil Gibran Ramadhan, akan meluncurkan buku terbarunya berjudul Tjente Manis Hoedjan Gerimis di Aula PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Jumat, 23 Januari 2026. Peluncuran buku ini mendapat dukungan penuh dari berbagai komunitas budaya dan media, termasuk wartatrans.com, yang secara khusus menaruh perhatian pada kerja-kerja literasi dan kebudayaan.
Buku ini merupakan judul keenam dari seri Setangkle Puisi Sejarah & Budaya: Betawi, Batavia, Jakarta, sebuah rangkaian karya yang sebelumnya telah menjadi koleksi Universiteit Leiden, Belanda. Dalam Tjente Manis Hoedjan Gerimis, Chairil mengurai sejarah, tokoh, serta tradisi seni-budaya Tionghoa di Batavia, yang berkelindan erat dengan akar kebudayaan Betawi.

Menariknya, buku ini diterbitkan bukan atas sokongan lembaga atau konsorsium pengusaha Tionghoa Indonesia, melainkan melalui dukungan Kaum Pribumi. Konsultan isi dan penulis pendahuluan buku ini adalah David Kwa, sementara bagian pengakhiran ditulis oleh sastrawan Eka Budianta.
Acara peluncuran akan diisi diskusi budaya dengan pembicara lintas disiplin, antara lain Chairil Gibran Ramadhan sendiri, Idrus F. Shahab (wartawan senior Tempo), serta Nuthayla Anwar, penyair dan Wakil Rektor Universitas Al Ghurabba. Diskusi akan dimoderatori M. Syakur Usman, Ketua Forum Jurnalis Betawi.
Sejumlah tokoh akademik dan budayawan dijadwalkan memberikan sambutan, di antaranya Prof. Dr. Edi Sukardi (Guru Besar UHAMKA), Prof. Dr. Yasmine Zaki Shahab (Guru Besar FISIP UI), serta Kepala PDS HB Jassin, Diki Lukman Hakim. Acara juga akan diramaikan dengan pembacaan puisi oleh sejumlah sastrawan dan wartawan, termasuk Putra Gara.
Sebagai media yang konsisten mengangkat isu kebudayaan dan kebangsaan, wartatrans.com menyatakan dukungannya terhadap peluncuran buku ini. Dukungan tersebut memiliki makna tersendiri mengingat Chairil Gibran Ramadhan merupakan Dewan Redaksi wartatrans, yang selama ini aktif mendorong liputan mendalam tentang sejarah, sastra, dan identitas budaya Nusantara.
Peluncuran Tjente Manis Hoedjan Gerimis menjadi penanda penting upaya merawat ingatan kolektif Jakarta—khususnya relasi panjang antara komunitas Tionghoa dan Betawi—melalui pendekatan sastra dan riset budaya. Di tengah arus modernisasi kota, buku ini hadir sebagai pengingat bahwa Jakarta dibangun dari keberagaman kisah dan perjumpaan sejarah.*** (PG)























