Menu

Mode Gelap
KRL Rangkasbitung Kembali Normal, 10 Perjalanan Sempat Terlambat hingga 52 Menit Bandara Husein Sastranegara Kembali Beroperasi, DAMRI Perkuat Konektivitas ke Sejumlah Wilayah di Jawa Barat Masyarakat Bepergian Melonjak, DAMRI Layani Puluhan Ribu Pelanggan pada Libur Panjang Bulan Agustus 2026 ⁠Pelindo dan BNN Bekali Pelajar Pengetahuan tentang Bahaya Narkoba Tanta Ginting Tertantang Perankan Tan Malaka, Belajar Sejarah hingga Bangun Chemistry dengan Arswendy Bening Swara Citilink Salurkan 91,5 Ton Bantuan Gempa NTT melalui Delapan Penerbangan

EKOBIS

Perang Timur Tengah Ganggu Ekspor RI, Biaya Logistik Melonjak hingga Tiga Kali Lipat

badge-check


 Perang Timur Tengah Ganggu Ekspor RI, Biaya Logistik Melonjak hingga Tiga Kali Lipat Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran berdampak langsung pada arus perdagangan Indonesia ke kawasan Timur Tengah. Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Mohamad Bawazeer, menyebut ribuan kapal kargo, termasuk dari Indonesia, tertahan di Pelabuhan Jebel Ali akibat penutupan Selat Hormuz.

“Ibarat ikan mengapung, kapal-kapal itu tertahan tanpa kepastian,” ujar Bawazeer di Jakarta, Jumat, 3 April 2026.

Menurut dia, kondisi tersebut memaksa pelaku usaha mencari alternatif distribusi dengan risiko biaya yang jauh lebih tinggi. Setidaknya ada dua opsi yang kini ditempuh: menunggu kapal dapat masuk pelabuhan tujuan atau memindahkan muatan ke kapal lebih kecil, lalu dilanjutkan melalui jalur darat.

Namun, opsi pertama dinilai berisiko besar, terutama untuk komoditas mudah rusak seperti bahan makanan, bumbu, dan kopi. “Kalau menunggu, tidak jelas sampai kapan. Barang bisa rusak,” kata dia.

Sebaliknya, opsi kedua memerlukan biaya tambahan yang signifikan. Bawazeer menyebut ongkos pengiriman yang semula sekitar 2.000 dolar AS per kontainer ukuran 20 kaki kini melonjak menjadi hampir 6.000 dolar AS. Belum termasuk biaya tambahan sekitar 1.750 dolar AS untuk pemindahan ke kapal kecil di Pelabuhan Dammam dan sekitar 800 dolar AS untuk distribusi darat ke kota tujuan seperti Jeddah.

“Kalau tidak dilakukan, pabrik di Arab Saudi bisa berhenti karena bahan baku tidak sampai,” ujar dia.

Dalam kondisi normal, pengiriman dari Indonesia ke Jeddah melalui Jebel Ali memakan waktu sekitar 15 hingga 20 hari. Kini, durasinya bisa membengkak hingga berbulan-bulan. Sejumlah perusahaan pelayaran bahkan memilih memutar jalur melalui benua Afrika untuk menghindari kawasan konflik, yang semakin memperpanjang waktu pengiriman.

Situasi kian rumit karena sebagian perusahaan pelayaran enggan membuka pemesanan baru. Mereka memilih menunggu perkembangan konflik sebelum mengambil risiko lebih jauh.

Di sisi lain, Bawazeer juga mengungkapkan adanya praktik penurunan kontainer di negara lain seperti Oman dan India tanpa kejelasan lanjutan pengiriman. “Seolah-olah kontainer itu menjadi tidak bertuan,” kata dia.

Kadin berharap konflik segera mereda agar jalur perdagangan kembali normal. Kawasan Timur Tengah, khususnya Arab Saudi, merupakan pasar penting bagi produk Indonesia, termasuk sektor makanan dan minuman. Sejumlah industri nasional seperti kopi dan mi instan memiliki fasilitas produksi di sana yang sangat bergantung pada pasokan bahan baku dari Indonesia.

Selain perdagangan barang, kerja sama Indonesia dengan negara-negara Arab juga mencakup sektor ekonomi digital, properti, pertambangan, agroindustri, pariwisata, manufaktur, hingga olahraga.

“Kalau jalur logistik terus terganggu, dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor,” ujar Bawazeer.*** (Dulloh)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Dukung Kebijakan Logistik Nasional, IPC TPK Paparkan Kinerja Operasional Real-Time kepada Bappenas RI

27 Agustus 2026 - 05:38 WIB

Gelar RUA 2026, Iperindo Bahas Order Pembangunan Kapal Baru Dalam Negeri masih Sepi

26 Agustus 2026 - 19:04 WIB

KAI Services Perkuat Kemitraan Strategis melalui Mitra Gathering 2026

26 Agustus 2026 - 14:10 WIB

InJourney Airports Salurkan Bantuan bagi Masyarakat Terdampak Gempa NTT

26 Agustus 2026 - 09:48 WIB

Subsidi BBM Bocor, Ekonomi Rakyat Boncos

26 Agustus 2026 - 08:34 WIB

ADEXCO Dorong Industrialisasi Kebencanaan dari Hulu ke Hilir, Dukung Penanganan Kahutla

25 Agustus 2026 - 08:42 WIB

Garuda Indonesia dan Citilink  Sabet Rating Keselamatan Tertinggi

25 Agustus 2026 - 07:51 WIB

Citilink Raih Sertifikasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan

24 Agustus 2026 - 11:09 WIB

Cilegon Jadi Klaster Industri Baru, Proyeksi Pabrik Kendaraan Listrik Rp10 Triliun

24 Agustus 2026 - 05:51 WIB

Kapasitas Terminal 1A Bandara Soekarno-Hatta Ditarget Naik 75% usai Revitalisasi

24 Agustus 2026 - 05:43 WIB

Trending di BANDARA